Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Umaizaku


__ADS_3

Mobil Rahman sudah keluar dari pekarangan panti. Umaiza menyimpan sepeda di tempat biasanya. Lalu masuk ke kamar dan menyimpan tas nya. Umaiza bersih-bersih ke kamar mandi dan ganti baju. Sudah terasa segar, Umaiza membuka tas dan mengambil leptop milik Rara.


Umaiza mulai mengetik, demi kata perkata, kalimat per kalimat, halaman per halaman. Dan menghasilkan beberapa bab.


Ibu Panti lewat ke kamar Umaiza. Dan melihat Umaiza masih sibuk.


"Umaiza belum tidur?" tanya Ibu panti.


"Belum, Bu."


"Besok lagi, sudah malam!," mendekat ke Umaiza dan duduk di sisi ranjang.


"Iya, Bu. Sedikit lagi. Bu, Umaiza ada perlu sama Ibu." Umaiza beralih duduk dekat Ibu panti.


"Ada apa?"


"Bolehkah Umaiza melihat photo saat Umaiza pertama kali Ibu temukan di teras,"


"Tentu saja, boleh. Besok saja ya,"


"Umaiza ingin sekarang, boleh ya," Rayu Umaiza sambil tersenyum.


"Baik, ayo kita ke kantor,"


Umaiza dan Ibu panti sama-sama pergi ke kantor.


Ibu Panti yang bernama Aisyah.


Ibu Aisyah mengambil buku agenda. Dan membawa ke dekat Umaiza yang dari tadi sudah duduk di kursi.


"Ini Umaiza,"


Umaiza mengambil photo dengan tangan gemetar, Photo yang sedang di pegang Umaiza pakaiannya sama dengan photo yang di lihat dari dompet Ibu itu.


Umaiza menangis pelan namun air matanya semakin lama semakin deras keluar.


"Kenapa menangis Umaiza?" tanya Ibu Aisyah kaget sekaligus heran.


Umaiza mencoba menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Umaiza menceritakan semuanya kepada Ibu Aisyah tanpa ada yang terlewat sedikit pun.


"Umaiza sudah mengajaknya kesini namun Ibu itu ada janji dengan suaminya. Janjinya besok atau minggu mau kesini,"


"Baik kita tunggu sampai minggu, kalau tidak hari senin kita silaturahim ke rumahnya. Nanti Ibu yang menelepon."


"Iya, Ibu. Terima Kasih,"


"Iya, Umaiza. Kamu berhak bahagia,"


"Tapi Umaiza janji, jika sudah kembali bersama orangtua Umaiza. Ibu Aisyah akan tetap menjadi Ibu nya Umaiza." Peluk Umaiza.


Ibu Aisyah mengelus kepala Umaiza dan tersenyum. Umaiza pamit untuk meneruskan kembali mengetik skripsinya.


"Alhamdulillah, terimakasih. Firasatku ternyata benar kalau Ibu itu Ibu kandung Umaiza,"


Umaiza tambah semangat lagi untuk segera menuntaskan skripsinya. Karena sedikitnya impian untuk bertemu dengan kedua orangtuanya sudah berada di depan mata.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, mata Umaiza pun sudah ngantuk berat. Merapihkan semua berkas dan tidak lupa menyimpan hasil ketikannya di flash disk dan siap-siap untuk tidur.


"Bismika Allahuma ahya wa bismika amuut," do'a Umaiza sebelum tidur. Dan segera memejamkan matanya.


*****

__ADS_1


Sepulang mengantar Umaiza ke panti. Rahman mampir ke rumah Bunda untuk melihat keadaannya. Ternyata Bunda sudah tidur dengan nyenyak. Lalu ke kamar Farid. Farid sedang sibuk dengan tugas kuliahnya. Namun ketika Rahman melihat Farid menyadarinya.


"Umaiza itu pacar Kakak?"


"Umaiza tidak mau pacaran ingin langsung menikah,"


"Perempuan langka itu, Kak, terus berada di sampingnya. Nanti tau-tau nikah saja,"


"Tidak mungkin, Kakak tadi sudah berkata jujur semuanya tentang perasaan Kakak. Kakak akan menunggu dan membantu untuk mewujudkan impiannya,"


"Hebat Kakakku ini, maju satu langkah nih dari perkiraan Farid," Farid tersenyum lebar.


"Dasar anak kecil, kuliah yang benar dulu. Terus jangan ngeceng sama calon kakak iparmu. Nanti Kakak stop uang kuliah kamu,"


"Gak lah, tapi ngajak main bentaran boleh dong?"


"Gak boleh," sambil berlalu. "Kakak pulang, pintu kunci!" mengambil tas kerja dan keluar dari rumah Bunda menuju ke rumahnya sendiri.


Rahman masuk rumah lalu masuk kamar dan pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan wudhu. Shalat isya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size nya.


Hai Umaizaku sedang apa kau disana


Tahu kau jika aku disini merindumu.


Rahman mencoba menutup mata dan tidak lama kemudian sudah terlelap.


Alarm dari hp berbunyi, Rahman mengambil dan melihatnya sudah pukul 03.20. Rahman segera ke kamar mandi untuk wudhu. Air wudhu membuatnya segar dan segera mengganti pakaiannya dengan baju koko. menggelar sajadah dan segera mendirikan shalat.


11 rakaat sudah didirikan Rahman pun berdo'a.


"Ya Allah, Rahman titip Umaiza. Tetapkan hatinya untukku. Ridhoi Umaiza menjadi pendampingku. Namun jika Engkau tidak meridhoinya bantu Rahman untuk melupakannya tanpa ada rasa sakit dalam hati Rahman.


Rahman membaca al-Qur'an sambil menunggu subuh.


*****


Saat murrotal di nyalakan di mesjid Umaiza seperti biasa bangun untuk mendirikan shalat malam.


Pergi ke kamar mandi lalu wudhu dan balik lagi ke kamar, memakai mukena dan menggelar sajadah. Lalu mendirikan shalat malam.


11 rakaat sudah di dirikan Umaiza tidak lupa berdo'a.


"Ya Allah, Umaiza ucapkan terimakasih sudah memberikan petunjuk tentang keberadaan orangtua Umaiza. Semoga kami bisa segera berkumpul kembali. Dan untuk skripsi tinggal beberapa langkah lagi, semoga Engkau permudah Umaiza kelak dalam sidang. Dan Untuk Kak Rahman. Jika memang Kak Rahman jodoh Umaiza, sangat senang. Tetapkan hati Umaiza untuknya sampai Kak Rahman menikahi Umaiza. Namun jika bukan jodoh Umaiza, jauhkan dan bantu Umaiza untuk melupakannya. Supaya Umaiza bisa ikhlas menerima kententuan-Mu ya Allah, Aamiin,"


Umaiza mengambil Al-Qur'an dan membacanya sampai waktu tiba waktu subuh.


Adzan subuh berkumandang, Umaiza segera mendirikan shalat rawatib 2 rakaat lalu shalat subuh. dzikir dan do'a tidak lupa. Sudah beres semuanya, Umaiza ke dapur membantu Bi Sum yang bagian dapur umum untuk membuat sarapan anak-anak panti.


"Assalamu'alaikum, Ibu Sum,"


"Waalaikummussalaam, Umaiza. Sudah ke dapur saja,"


"Iya, Bu. Ada yang bisa Umaiza bantu?"


"Potong-Potong sayuran saja, Ibu mau menggoreng telur. Sayurannya mau di buat capcay,"


"Baik, Ibu," Umaiza membantu memotong sayuran. Tidak membutuhkan waktu lama sudah selesai. Dan Umaiza pun seperti biasanya menyiapkan teh hangat untuk Ibu Aisyah dan anak-anak.


Setelah dilihat sudah selesai Umaiza kembali ke kamar. Untuk mulai mengetik lagi.


Umaiza dalam mengetik pun sangat cepat, bisa mengetik dengan sepuluh jarinya.

__ADS_1


*****


Rahman setelah shalat subuh mengganti pakaiannya dengan stelan jogging. Rahman berniat akan lari ke panti, untuk mengajak Umaiza olah raga ke taman terdekat.


Namun suara hp Rahman berdering tanda telepon masuk, saat di lihat dari Pak Baskoro pemilik perusahaan dimana tempat kerja Rahman.


"Assalamu'alaikum, Pak," Rahman segera menerima telepon.


"Waalaikummussalaam, Rahman hari ini janjikan mengantar saya dan istri ke panti,"


"Oh, Iya pak. Bagaimana jadi?"


"Jadi, Saya berangkat dari rumah jam 7 sampai di rumah Rahman jam 8,"


"Baik, Pak. Rahman tunggu,"


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikummussalaam,"


Sambungan telepon terputus.


Hampir saja lupa, 'Alhamdulillahnya' Rahman belum pergi. Saat melihat jam baru 05.30. Rahman memutuskan lari-lari kecil di pekarangan rumahnya. Sudah keluar keringat, Rahman berhenti dan masuk ke rumah Bunda.


"Bunda bagaimana sekarang?" Saat melihat Bunda sudah ada di dapur.


"Alhamdulillah sudah tidak terasa nyeri,"


"Alhamdulillah, kalau sudah baikan. Namun Bunda gak boleh angkat dulu yang berat-berat dan banyak gerak,"


"Iya, bawel. Bagaimana dengan Umaiza,"


"Tidak bagaimana-bagaimana, Baik-baik saja." tersenyum lebar.


"Bunda do'akan semoga Umaiza menjadi pendamping hidupmu kelak,"


"Aamiin, makasih Bunda,"


"Bunda sudah suka saat melihat pertama kali, apalagi perlakuannya kemarin malam kepada Bunda. Bunda sangat bahagia,"


"Iya, Bunda. Rahman juga sama. Melihat Bunda dan Umaiza dekat ada perasaan haru. Apalagi Rahman tidak bisa memperlakukan Bunda seperti yang Umaiza lakukan,"


"Tuh, sadar. Rahman kamu itu terlalu memikirkan karir. Namun Bunda masih bersyukur, Rahman di pertemukan dengan gadis yang sholehah, cantik, tulus. Asli paket komplit, Umaiza itu," Bunda bersemangat dalam memuji Umaiza.


"Semoga do'a dan harapan bunda Allah kabulkan,"


"Aamiin, Mau sarapan atau mandi dulu?"


"Mandi dulu Bunda, gak enak lengket."


"Iya, Mandi dulu sana bau asem. Nanti Umaiza lari," goda Bunda


Umaiza tahukah Kau,


Kita sudah mendapatkan restu dari Bunda.


Sekarang tinggal skripsi dan menemukan orangtuamu.


Aku akan sabar disini menantimu


untuk menghalalkanmu.

__ADS_1


__ADS_2