
Umaiza pergi ke kamar untuk siap-siap pergi ke pasar begitu juga dengan Rahman.
Umaiza menggunakan celana kulot dari bahan katun dan tunik untuk bergonya memakai kerudung merk terkenal yang di bagian pad nya ada garis check list tiga.
Rahman menggunakan kaos tangan pendek dan celana selutut supaya terlihat santai.
Umaiza sudah sering ke pasar saat di panti bersama bi Sum. Karena Umaiza terkadang ingin masak spesial untuk anak-anak panti supaya mereka tidak bosan. Makannya hanya dengan tahu, tempe, sayur bayam atau sayur sop.
Umaiza terkadang memasak chicken katsu, karage atau nugget home made untuk anak-anak.
Sebagian pedagang sudah mengenal Umaiza. Apalagi pedagang ayam, sembako dan sayuran. Umaiza jika harganya masih di batas normal tidak pernah menawar.
Rahman memanaskan mesin mobil.
Umaiza mengantar Ibu ke rumah Bunda.
"Assalamu'alaikum," ucap Umaiza ketika di depan pintu rumah Bunda.
"Wa'alaikummussalaam," jawab Bunda dari dalam.
"Bunda, Umaiza masuk ya,"
"Iya, Nak, masuk saja. Bunda masih tanggung di dapur,"
Umaiza meminta Ibu untuk duduk di kursi.
Umaiza masuk ke dapur untuk menemui Bunda, "Bunda masak apa aromanya harum sekali,"
"Bunda masak spesial untuk Umaiza dan Ibu,"
"Terima kasih, Bunda. Umaiza merepotkan Bunda,"
"Tidak apa-apa, Bunda senang melakukannya," menoleh ke arah Bunda.
Umaiza tersenyum bahagia mendengar ucapan Bunda.
"Umaiza mau kemana sudah rapi?" tanya Bunda.
"Oh, iya, Bun. Umaiza mau ke pasar dulu sama Kak Rahman. Umaiza mau nitip Ibu,"
"Oh, Ibu nya dimana sekarang?" sambil mematikan kompornya.
"Ibu ada di depan,"
Bunda jalan ke ruang tamu yang di ikuti oleh Umaiza.
"Maaf, ya, Bu, saya tidak tahu kalau Ibu juga kesini," ucap Bunda kepada Ibu.
"Iya, gak apa-apa. Maaf, saya mengganggu masaknya Bunda,"
"Masaknya alhamdulillah sudah beres, tinggal memindahkan ke mangkok dan piring," jelas Bunda.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Ibu, Bunda, Umaiza pamit dulu mau ke pasar,"
"Iya, Nak, hati-hati di jalan." ucap Ibu
Bunda hanya mengangguk dan tersenyum.
Umaiza mencium tangan Bunda dan Ibu.
Rahman sudah menunggu di dalam mobil.
Umaiza jalan mendekat ke mobil Rahman.
Umaiza masuk ke dalam mobil dan mobil segera melaju ke jalan raya.
Umaiza menatap ke depan, Rahman sesekali menoleh ke arah Umaiza.
"Za, mau belanja apa?"
"Mungkin yang utama sembako, ikan, daging, sayuran dan buah-buahan. Buat stok satu minggu saja,"
"Oh, siaap. Nanti di depan kita turun dulu ya," tunjuk Rahman ke arah samping kiri
"Memang Kakak mau apa?"
"Kakak tidak ada cash, mau ambil uang dulu di ATM,"
"Oh, iya, baik. Kebetulan Za, juga sama," Umaiza tersenyum.
"Za, juga mau ngambil uang?" tanya Rahman heran.
__ADS_1
"Iya, Kan, Za, mau belanja," jawab Umaiza polos.
"Aduh, Za, mandirinya kebangetan," sindir Rahman
"Ya, Kan, Za, mau belanja," masih polos
"Za, dah jadi istrinya Kakak, jadi Kakak ada kewajiban untuk memberikan nafkah kepada Za,"
"Za, malu menerimanya. Karena Za, lom bisa memenuhi kewajiban Za, sebagai istri," Umaiza merasa sedih.
"Itu beda lagi ceritanya, kan, Za, nya belum siap. Kalau Kakak sudah siap kasih nafkah lahir batin ke Za,"
"Lahir, Za juga dah bisa, yang belum bisa batinnya," keluh Umaiza dengan wajah bersalahnya.
"Ya, Kakak akan tunggu sampai Za bisa dan sehat," Ucap Rahman menenangkan sambil mengelus kepala Umaiza.
Umaiza meraih tangan Rahman lalu menciumnya.
Rahman menghentikan mobilnya tepat di depan ATM. Rahman menarik tangan Umaiza, sampai wajah Umaiza tepat berada di depan wajahnya. Hati mereka menjadi tidak karuan berdegup semakin kencang, ketika melihat satu sama lain hanya berjarak lima centi meter.
Rahman memandang mata Umaiza lalu mengarah ke hidung dan mulut mungilnya. Tidak ada kata permisi, Rahman segera mengecup bibirnya Umaiza.
Umaiza pun tidak mengelak.
"Tuk kali ini, Kakak sudah bahagia, dengan barusan yang terjadi terima kasih ya," sambil tersenyum lebar lalu keluar dari mobil.
Umaiza hanya terdiam, merasa kaget atas kejadian barusan.
Rahman sudah kembali lagi ke mobil dan melanjutkan perjalanannya.
Umaiza masih mematung.
"Za, kenapa kok jadi diam?"
Umaiza menggelengkan kepalanya.
"Mau lagi?" goda Rahman
"Tidak, tidak," jawab Umaiza spontan.
"Tidak sekarang, nanti akan suka,"
"Idih, Kakak, mesum terus," sambil memukul lengan Rahman.
"Kakak, nakal apa-apa selalu ambil kesempatan,"
"Ya-iyalah, kalau begitu mana mau Za, ngasih duluan," canda Rahman.
"Kakak nakal,"
"Tapi Za, sayang kan?"
Umaiza terdiam dan kemudian tersenyum lebar sambil mencubit lengan Rahman.
"Umaiza butuh uang berapa?"
"Berapa pun Kakak akan kasih, Umaiza akan terima. Nanti Za yang atur supaya bisa cukup,"
"Iya, Kakak kasih dulu lima juta ya, nanti kalau kurang Za, minta lagi,"
"In Syaa Allah satu bulan lima juta lebih dari cukup,"
"Alhamdulillah,"
"Kakak, suka kasih Bunda juga kan?"
"Iya, Kakak suka kasih uang bulanan untuk Bunda dan Farid,"
"Oke, siaap. Kalau Kakak berkenan nanti Za saja yang kasih ke Bunda dan Farid,"
"Iya, Kakak, satuju,"
Pasar sudah nampak di depan mata.
Rahman memarkirkan mobilnya di tempat yang telah di sediakan.
Rahman dan Umaiza turun secara bersamaan.
"Nak Umaiza kemana saja, jarang kelihatan," tanya juru parkir yang sudah Umaiza kenal.
"Iya, Pak, sibuk skripsi,"
__ADS_1
"Siapa ini, pacar?" tanyanya lagi.
"Oh, ya, kenalin Pak, ini Kak Rahman suaminya Umaiza,"
"Suami?" tanyanya heran, "Menghilang bukan sibuk skripsi namun sibuk persiapan pernikahan ini mah,"
"Bapak bisa saja," jawab Umaiza sambil tersenyum.
Rahman pun ikut tersenyum.
"Umaiza pamit belanja dulu ya,"
"Iya, Nak, silahkan,"
"Titip mobil ya," pinta Umaiza
"Nak Umaiza tenang saja, ada Bapak disini,"
"Iya, Pak, Umaiza percaya," sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan juru parkir.
Rahman dengan setia mengikuti dari belakang.
Pertama m Umaiza belanja beras, minyak, gula, terigu, telur, tepung tapioka, kerupuk di toko sembako.
Sudah selesai Umaiza titip dulu, lalu lanjut belanja ikan, daging, bumbu (bawang merah, bawang putih, tomat, cabe rawit, cabe keriting, cabe merah, bawang bombay, bawang daun dan lain-lain), sayuran (kol, brokoli, wortel, jagung manis, bayam, kangkung, sawi dan lain-lain) nugget, sosis, bakso.
Semua pedagang yang sudah menjadi langganan Umaiza sama ramahnya dengan juru parkir, mereka pun bertanya tentang Rahman dan responnya sama kaget nya dengan juru parkir ketika mendengar Rahman sebagai suaminya.
Dua jam sudah Rahman dan Umaiza belanja sekarang waktunya pulang.
Semua belanjaan sudah masuk ke dalam bagasi mobil Rahman yang di bantu oleh juru parkir.
Sebelum pulang Umaiza memberikan dua lembar uang merah kepada juru parkir.
"Bapak ini nitip untuk anak-anak di kampung,"
"Apa ini Nak?" tanya Juru parkir enggan menerima pemberian Umaiza.
"Terima ya, tidak seberapa kok," sambil tersenyum ikhlas.
Rahman sudah ada di dalam mobil lalu Umaiza pun pamit kepada juru parkir dan masuk ke dalam mobil.
"Za, sepertinya kembang pasar ya?"
"Maksudnya?"
"Iya, semua orang sudah sangat kenal kepada Umaiza,"
"Bukan kenal lagi, Kak, sudah seperti saudara. Apalagi dengan Bapak Juru parkir,"
"Sering mengobrol?"
"Iya, Kak, Za, juga dekat dengan keluarganya. Za, sering di bawa ke kontrakannya. Tapi sekarang keluarganya semua sudah ada di kampung," cerita Umaiza dengan wajah sendunya.
"Memang kenapa?"
"Mertua laki-lakinya meninggal jadi istrinya di suruh mengurus mertua ibunya,"
"Berapa anaknya?"
"Kalau ada semuanya sembilan, namun yang dua meninggal jadi tinggal tujuh lagi,"
"Wow banyak ya, Za,"
"Iya, Kak, jaraknya hanya dua tahunan," sambung Umaiza sambil tersenyum.
"Hebat istrinya itu,"
"Sangat, Kak, Za saja salut sama istrinya," Kenang Umaiza
"Bismillah, Za, juga bisa seperti itu,"
"In Syaa Allah, Kak,"
Perjalanan pulang ke rumah pun tidak terasa, Rahman segera memasukkan mobilnya ke dalam setelah pintu gerbang di buka oleh satpam.
Rahman menghentikan mobilnya di tempat biasa
Umaiza keluar dari mobil dan segera menemui Ibu.
Ibu sedang asyik mengobrol dengan Bunda.
__ADS_1
Rahman mengeluarkan semuanya dari bagasi mobil dan membawa masuk ke dalam rumahnya.