Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Foto


__ADS_3

Terlihat sisi lain dari Pak Baskoro yaitu Pecinta Moge alias motor gede. Banyak koleksian Moge yang terbuat dari kayu dan pernak-perniknya.


Umaiza terlihat memperhatikan koleksian ayahnya satu-satu, begitu juga dengan Rahman.


"Baru masuk sekarang ke kamar khusus ini, ternyata banyak barang-barang, Pak Baskoro,"


"Apalagi Za, yang baru bertemu dengan Ayah,"


Umaiza membuka tiap bagian yang terdapat dalam lemari hiasan tersebut.


"Apa ya isinya, laci bagian ini. Buat Za, penasaran," ucap Umaiza sambil membuka laci tersebut.


"Ada apa Za?"


"Belum tahu, baru mau buka,"


Rahman menunggu di samping Umaiza.


Umaiza membuka pintu laci tersebut dengan perlahan.


"Tidak ada apa-apa, Kak, hanya ini," dengan mengambil sebuah rompi.


"Coba Kakak, lihat,"


"Ini, Kak," memberikan rompi tersebut kepada Rahman.


Umaiza berdiri lagi dan melihat-lihat ke bagian lain.


"Za, sini" Panggil Rahman.


"Iya, Kak, ada apa?"


Di rompi ini ada bercak darah.


"Astagfirullah, iya, Kak?"


"Iya,"


Umaiza mengambil rompi dari tangan Rahman dan melihatnya.


"Iya, benar, Kak," jawab Umaiza "Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Alifa?" sambung Umaiza dengan nada rendah.


"Kakak, belum bisa menyimpulkan itu,"


Umaiza memeriksa secara teliti. Tidak menemukan bukti apa-apa lagi yang ada pada rompi. Umaiza mencoba melihat kembali ke dalam laci tersebut. Sudah kosong.


Umaiza dan Rahman mencari lagi ke tempat lain.


Sama sekali tidak menemukan apa-apa kecuali rompi tersebut.


Umaiza mengambil shopping bag yang ada di atas korsi untuk menyimpan rompi. Ternyata di dalamnya ada sebuah hp.


Umaiza mencoba menyalakannya namun hp tersebut lowbat.


"Kok, bisa-bisanya hp di simpan disini. Apa Ayah tidak mencarinya?" gerutu Umaiza.


"Kenapa Za?"


"Ada hp, Kak,"


"Kok, bisa-bisanya Pak Baskoro menyimpan hp disini. Apakah sudah tidak terpakai lagi?" tanya Rahman


"Ibu juga sering kesini tapi tidak menemukan hp ini," tanya Umaiza lagi


"Iya-ya,"


"Kak, bawa chargeran?"


"Bawa, ada di luar. Coba kita charge siapa tahu masih nyala,"


"Iya, Kak,"


Rahman dan Umaiza pun keluar dari kamar khusus tersebut, tidak lupa membawa shopping bag yang berisi rompi.


"Ini hp jadul, Kak, apa mungkin cocok dengan chargeran Kakak?"


"Iya, benar ini hp lama. Kita harus coba ke counter"


"Iya, Kak, atau kita coba cari di dalam siapa tahu ada chargerannya,"


"Sudah, Kakak, saja yang mencari,"


"Iya, Kak, baik,"

__ADS_1


Umaiza mencoba membuka meja kerja Ayah. Karena ingin tahu dalamnya berisi apa.


Dan ternyata ada beberapa hp juga milik Ayah yang di simpan di laci meja kerja Ayah berikut chargeran dan buku harian milik Ayah.


Umaiza mengambil hp-hp tersebut dan chargerannya beserta buku hariannya. Umaiza mencocokkan antara hp dan chargerannya dan mencoba untuk charge hp-hp nya.


"Alhamdulillah, ternyata hp nya masih baik-baik saja dan baterai nya bisa terisi," bisik dalam hati Umaiza


Rahman keluar dari kamar khusus.


"Tidak ada, Za,"


"Maaf, tidak memberitahu Kakak. Ternyata di meja kerja Ayah, Za, menemukan ini,"


"Waduh, banyak sekali hp Ayah, Za,"


"Iya, Kak, namun belum tahu masih menyala atau memang sudah pada rusak,"


"Sini sama Kakak, di bantu, Charge!"


Umaiza memberikan sebagian hp untuk Rahman Charge.


Umaiza mencoba menyalakan yang sudah di charge. Ternyata masih menyala, namun saat dibuka semua datanya sudah kosong. Begitu juga dengan hp yang kedua dan ketiga.


"Kak, yang Za, pegang semuanya tidak ada data, yang Kakak pegang gimana?"


"Sama, ini tinggal satu lagi yang belum di charge hp iphone,"


"Oh, sudah di charge sama Kakak?"


"Sudah, baru terisi 15%,"


Umaiza sambil menunggu baterai hp iphone terisi minimalnya 50%, Umaiza mencoba membuka buku harian Ayah.


Umaiza buka halaman demi halaman sebagaimana saat membuka buku agenda milik Alifa.


Tulisan Pak Baskoro sangat rapi meski beliau seorang laki-laki. Buku harian yang lengkap seperti seorang perempuan yang menulis dalam buku diary untuk menceritakan kejadian yang terjadi atau di alami pada hari tersebut. Hari, tanggal, tahun dan waktu.


"Sepertinya di buku harian ini tidak akan menemukan apa-apa, karena di lihat dari tahun di tulis tahun 2023, tahun berjalannya sekarang,"


Umaiza mencoba membuka halaman demi halaman lagi, tangan Umaiza tertahan di hari minggu tanggal dimana pertama Kali dirinya bertemu dengan Pak Baskoro.


Minggu, Juli 2023


Harapan yang selama ini kami gantung


Kini terjawab sudah,


Engkau pertemukan kami dengan Putri kecil Kami Yang selama ini kami rindukan.


Terima Kasih ya Allah, kasih-Mu begitu luas.


Jadi Nikmat-Mu yang mana lagi, yang harus kami dustakan?


Umaiza tersenyum saat membacanya. Mencoba membuka lagi halaman berikutnya.


Tertulis dimana saat Umaiza berkelahi dengan Roni.


Perih hati ini saat melihat putri kecil kami terkulai tak berdaya, di sebabkan oleh cinta yang buta. Berikan kesembuhan dan kekuatan pada nya, Yaa Robb.


Saat moment mengantar sidang pun, Pak Baskoro tuangkan dalam buku hariannya.


Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan pada diri ini untuk mengantarkan putri kecil kami sidang. Setelah banyak moment hilang atas ketidak bersamaan kami. Semoga Engkau masih meridhoi kami berkumpul sampai putri kecil menikah.


Tak terasa air mata Umaiza menetes di pipinya.


Umaiza membuka lagi sampai di halaman terakhir, dimana Ayah menulisnya sebelum pergi ke proyek cabang baru.


Jum'at, July 2023


Pukul 11.45


Entah apa yang terjadi pada hati ini, jujur untuk melangkah ke proyek terasa begitu berat. Bismillah, semoga tidak ada apa-apa. Jika memang sudah waktunya untuk kembali ke pangkuan-Mu, aku ridho ya Allah. Hanya satu pintaku, izinkan aku menikahkan dulu putriku dengan Rahman.


"Ayaaah," ucap Umaiza dengan menangis


Rahman mendekat ke arah Umaiza dengan membawa hp iphone yang sudah di charge. Rahman kaget melihat Umaiza menangis, segera menghampiri dan memeluknya.


"Kenapa Za?"


"Tidak apa-apa, Kak, Za, hanya terharu saja membaca buku harian Ayah,"


"Memang tulisan apa yang membuat istrinya Kakak, nangis?"

__ADS_1


"Baca sama Kakak saja sendiri!" Ucap Umaiza.


Rahman pun membuka buku harian, di bukanya halaman demi halaman. Rahman sangat tersentuh hatinya saat setiap moment, di tuangkan dalam bentuk tulisan oleh Pak Baskoro. Kasih sayang, keikhlasan dan kepasrahan pada Sang Pencipta dan keluarganya.


"Maa Syaa Allah," ucap Rahman dan menutup buku harian tersebut.


Rahman mencoba menyalakan hp iphone di depan Umaiza. Hp nya nyala data-datanya masih lengkap begitu juga dengan photo-photonya yang tersimpan rapi di galeri.


"Kak, menemukan sesuatu yang janggal?"


"Tidak, tidak ada yang aneh, semuanya normal-normal saja,"


"Coba Umaiza lihat,"


"Ini," menyerahkan hp kepada Umaiza.


Umaiza membuka aplikasi galeri yang sebelumnya di buka oleh Rahman. Diperhatikan satu-satu gambarnya.


Ternyata apa yang dikatakan oleh Rahman itu benar adanya, tidak ada yang aneh. Hp iphone ini masih Pak Baskoro gunakan. Namun ini digunakan Pak Baskoro untuk alat komunikasi perusahaan. Dapat dilihat dari kiriman photo yang terbaru.


Umaiza membuka aplikasi WA. Di lihat dan di baca chat demi chat yang mengirim pesan kepada Pak Baskoro.


Ada satu chat terakhir dikirim hari jum'at pukul 09.50.


📩 Pak Baskoro masih ingat saya?


📨 Siapa ya?


📩 Saya ingin menuntut kamu


📨 Menuntut apa?"


📩 Atas kejadian lima tahun silam


📨 Kejadian tentang kecelakaan itu?


📩 Iya, kamu harus membayarnya. Nyawa di balas dengan nyawa.


"Astagfirullah,"


"Ada apa Za?"


"Ini, Kak, sini!"


Rahman pun mendekati Umaiza dan mereka membaca chat bersama.


📩 Sudah waktunya


📨 Bisa tidak kita ketemu, kita duduk bersama saya akan menjelaskan semuanya, Kamu sebenarnya salah faham.


📩Saya tidak butuh penjelasan, saya sudah sabar menunggu untuk hari ini.


📨 Apa mau kamu sekarang?"


📩Nyawa


📨Jika memang itu membuatmu puas silahkan ambil nyawa saya, jangan ganggu keluarga dan karyawan saya.


📩Saya tidak butuh mereka, saya hanya ingin nyawa Anda.


"Ya Allah, sebenarnya apa yang sudah Ayah lakukan sehingga orang ini menginginkan nyawa Ayah?"


"Sabar, Za, kita harus mengupas tuntas masalah ini,"


"Iya, Kak, sudah waktunya pulang, Za, ingin mencari tahu dari Ibu, siapa tahu Ayah pernah bercerita kepada Ibu tentang kejadian lima tahun yang lalu,"


"Iya, Ayo," tidak sengaja jari Rahman scroll chat wa nya ke atas. Sebelumnya nomor tersebut sudah pernah mengirimkan photo kepada Pak Baskoro.


"Seperti pernah lihat photo ini," ucap Rahman pelan


"Apa Kak?"


"Photo ini Za," tunjuk Rahman


"Iya, benar, Kak, photo yang ada di buku agenda Alifa," dengan mencari photo yang ada di hp milik Umaiza.


Photonya ternyata benar-benar sama..


"Jadi Alifa selama ini meneror Ayah,"


"Iya, Za, namun kenapa tidak terlihat ya?"


"Iya, Kak, kelihatan Alifa itu orang yang baik, ramah, eh, ternyata,"

__ADS_1


Hati manusia tidak akan bisa menebaknya, seperti air yang berada di lautan. Setenang apapun tetap akan ada air yang bergelombang.


__ADS_2