Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Ayah dan Ibu Umaiza


__ADS_3

Setelah shalat ashar kami berkumpul kembali dengan keluarga Umaiza. Umaiza masih duduk di samping ibunya. Umaiza tetap merangkul tangan Ibunya. Seperti biasa yang dilakukan di dalam mobil. Namun itu adalah hal yang sangat biasa, Umaiza merasa kangen dan rindu di manja oleh Ibunya.


"Nak, apakah kamu khawatir apa yang terjadi pada kami terulang kembali kepada hubungan kalian," tanya Ayah ke arah Umaiza.


"Kenapa ayah tahu, apakah ayah menguping pembicaraan kami di mobil?" tanya balik Umaiza.


"Iya, sayang. Kami tidak tidur," jawab Ibu membelai pipi Umaiza.


"Kasih tahu Rara dari sekarang, supaya tidak kecewa. Jangan seperti kami, yang memberitahukan Rudi saat akan menikah," jelas Pak Baskoro.


"Baik, Ayah, Ibu. Umaiza besok mencoba berbicara sama Rara, ya, Kak. Waktu makan siang,"


"Iya, Umaiza nanti besok kakak temani untuk ngomong ke Rara,"


"Pantesan kalau istirahat lama sekali, ternyata oh ternyata. Untuk menemui putriku," goda Pak Baskoro.


"Aaah, Bapak. Seperti tidak pernah mengalami muda saja, hehehe," canda Rahman.


Umaiza hanya terdiam melihat keakraban mereka.


"Umaiza kalau sudah beres revisi, sidang langsung lamaran ya, terus nikah jadi waktu wisuda sudah di dampingi oleh Rahman,"


"Iya, Yah. Kak Rahman juga bilang seperti itu kemarin,"


"Kemarin?" tanya ayah heran


"Iya, Yah. Kemarin sore Umaiza meminta Kak Rahman untuk membantu ngeprint buat bahan skripsi. Kak Rahman menjemput dan membawa ke rumahnya, saat dirumahnya Kak Rahman mengatakan itu," jelas Umaiza.


"Langkahnya cepat juga, di dalam pekerjaan, di dalam cinta juga," ucap ayah Umaiza.


"Iya, Pak. Takut Umaiza ke buru di ambil orang. Apalagi kalau tahu anak Bapak dan Ibu,"


"Pintar ya, Kamu,"


"Kalau saya tidak pintar, Bapak tidak akan mempercayakan perusahaan kepada saya, hihihi,"


Bi Marni memberitahu Ibu Rahma kalau makanan sudah siap. Ibu Rahma mengajak kami untuk segera ke meja makan.


"Ayo, kita makan," kata Ibu Rahma.


"Iya, ayo Umaiza, ayah sudah lapar,"


Umaiza dan Rahman mengikuti dari belakang.


Pak Baskoro duduk d tempat biasa, Umaiza di hadapan Ibu Rahma dan Rahman di sebelah Umaiza.


Ibu Rahma mengambilkan makanan untuk Pak Baskoro dan Umaiza mengalaskan nasi beserta lauknya untuk Rahman dan dirinya sendiri.


Kami makan tanpa suara.


Tidak lupa Bi marni menyediakan buah-buahan untuk kami dan dessert berupa puding susu.


Setelah semuanya selesai makan, Umaiza membantu Bi Marni untuk membereskan piring kotor ke dapur. Bi Marni sempat melarang namun Umaiza bersikeras untuk membantunya.


Ibu Rahma membiarkan Umaiza melakukannya supaya putrinya merasakan nyaman di rumahnya, melakukan apa yang sudah biasa dilakukan Umaiza.


Rahman duduk kembali bersama Pak Baskoro.


Umaiza setelah merapihkan semuanya kembali ke Ruang keluarga menemui Rahman dan kedua orangtuanya.


"Kak, mau bersih-bersih dulu sambil menunggu maghrib?"


"Tidak, nanti saja kalau sudah di rumah. Sudah beres shalat, kakak pulang iya?"

__ADS_1


"Iya, Kak."


"Umaiza kalau dikasih perhatian begitu, Rahman pasti akan tambah jatuh cinta sama kamu," ucap ayah.


"Ih, Ayah, syirik saja. Ayah mau Umaiza perhatikan?" sekarang Umaiza yang menggoda ayahnya dan duduk di dekat ayahnya. Dan menyender di bahunya.


"Gak, nanti calon suamimu cemburu sama ayah,"


"Aaaah, berarti ayah yang cemburu sama Rahman," goda Umaiza lagi.


"Idih, masa ayah cemburu sama Rahman," celetuk Rahman.


"Umaiza bukan hanya ayah yang cemburu, Ibu juga cemburu," timpal Ibu Rahma.


"Aduh, apa-apaan ini. Masa sih ayah dan Ibu cemburu sama kak Rahman. Ini kan porsinya beda, Bu, Yah. Sayang Umaiza ke ayah dan Ibu, dengan sayang Umaiza ke Kak Rahman."


"Memang makanan pakai porsi segala, hehehe," Ibu Rahma terkekeh.


"Tau ach, Ayah sama Ibu, godain terus Umaiza sama Kak Rahman," Umaiza kesal pergi menjauh dari keduanya dan duduk di dekat Kak Rahman.


"Hmmm, cari perlindungan ke calon suami, Iya," tambah menggoda Umaiza.


Rahman hanya tersenyum melihat tingkah Pak Baskoro, Ibu Rahma saat menggoda Umaiza.


"Kakak, senyum lagi. Senang ya kalau Umaiza di godain terus," tambah kesal.


Rahman merasa bingung harus berbuat apa, ingin rasanya memeluk untuk menenangkannya. Namun apalah daya belum mahrom, dan yang menggodanya bukan orang lain melainkan kedua orangtuanya Umaiza. Yang dari tadi memang terus menggoda kami.


Sebenarnya ada perasaan bahagia juga, meski mereka sudah lama tidak berjumpa. Namun di antara mereka sangatlah harmonis, nampak akrab dan tidak ada perasaan canggung.


Adzan maghrib berkumandang. Setelah adzan selesai, Umaiza berdiri untuk ke taman belakang di ikuti oleh Rahman.


Wudhu dan shalat berjama'ah. 3 Rakaat sudah di dirikan.


"Umaiza, Kakak pamit ya. Mau pulang dulu, nanti besok janjian di tempat biasa."


"Iya, Kak. Waktu makan siang, ya,"


"Iya,"


Kami melangkah masuk kembali ke rumah, Rahman pamit juga kepada ayah dan Ibunya Umaiza.


"Rahman, besok nitip Umaiza ya, kalau ada apa-apa kasih tau saya,"


"Baik, Pak. Sebelum jam 12 Rahman sudah sampai di kampus Umaiza."


"Terima kasih, iya, Rahman,"


"Sama-sama, Pak,"


Umaiza mengantar Kak Rahman sampai depan pintu.


"Hati-hati, Kak,"


"In Syaa Allah, Nanti kalau kakak sudah sampai Kabari Umaiza,"


"Iya, Kak. Umaiza tunggu,"


Mobil Rahman sudah berlalu pergi dan Umaiza masuk ke rumah.


"Umaiza sini,"


"Iya, Bu,"

__ADS_1


"Ini ATM atas nama kamu, Ibu tidak tahu ada berapa jumlahnya. Namun Setiap bulan Ibu selalu isi dari mulai kamu lahir sampai sekarang,"


Umaiza terkejut mendengarnya, "Ibu, Umaiza sepertinya tidak butuh ini,"


"Sekarang tidak butuh, suatu saat pasti butuh. Simpan saja itu hak kamu,"


"Ini Leptop buat kamu, dan ini juga kunci mobil punya kamu," Sambung ayah


"Apakah kamu sudah bisa bawa mobil?" kata Ibu


"Sudah, Bu. Rara yang mengajari Umaiza namun Umaiza belum berani sendiri," kata ayah.


"Nanti minta Rahman untuk mengajarinya," Perintah ayah.


"Bu, rasanya Umaiza sedang berada dalam dunia mimpi. Umaiza bisa ketemu dengan ayah dan ibu saja sudah sangat bahagia, apalagi ini dikasih bonus yang sangat luar biasa oleh Allah," sambil meneteskan air mata.


"Iya, Nak. Ini rezeki dari Allah untuk kamu atas kesabaran dan ketulusan hatimu."


Umaiza memeluk ayah dan Ibu.


"Umaiza terima semua ini, terima kasih atas kasih sayang yang sudah ayah dan Ibu berikan. Meski Umaiza tidak berada di samping ayah dan Ibu."


"Iya, Nak. Kami melakukan ini semua karena kami yakin kalau putri kami akan kembali kepada kami. Dan keyakinan itu terkabul,"


"Untuk besok, Umaiza berangkat bareng ayah, pulangnya ikut ke Rahman dan main ke kantor ayah, ya?"


"Baik, Ayah. Umaiza pamit ke kamar ya, umaiza ingin bersih-bersih,"


"Iya, Nak. Istirahat juga ya."


"Iya, Bu. Umaiza juga penasaran dengan kado-kado yang sudah Ibu berikan ke Umaiza," sambil tersenyum dan membawa semua yang di berikan ayah dan ibunya ke kamarnya.


Sampai di kamarnya Umaiza masuk dan menyimpan semua barang, namun tidak lupa untuk ATM menyimpannya di dalam dompet.


Umaiza buka lemarinya, sudah tersusun rapi pakaian baru sesuai dengan selera Umaiza. "Ibu sudah mengetahui style Umaiza,"


dan membaca setiap note yang di tempel di pintu kaca lemari. Ada sebanyak 46 bh, dari ayah dan Ibu. Dengan ucapan yang berbeda.


Di buka lagi lemari satu lagi, disana di tata baju tidur, dalaman milik Umaiza. "Ibu dan ayah kapan belinya semua ini,"


Terdengar pintu kamar Umaiza di buka, ternyata Ibu.


"Ibu kapan membeli pakaian untuk Umaiza?"


"Saat pertama kali ketemu Umaiza lalu kemarin,"


"Kirain Umaiza lemarinya kosong, saat di buka sudah terisi semua,"


"Ibu ingin memberikan Umaiza yang terbaik, Untuk kerudung dan pakaiannya semoga Umaiza suka,"


"Suka, bu, sangat suka."


"Di lantai ini ada ruang kerja, perpustakaan, di ruang atas ada tempat gym dan tempat berendam. Ibu harap Umaiza kerasan disini, jangan sungkan, lakukan saja apa yang membuat Umaiza nyaman,"


"Baik, Bu. Nanti Umaiza lihat-lihat perpustakaan milik ayah dan Ibu,"


"Iya, Nak. Ibu tinggal, mandinya pakai air hangat dan istirahat,"


"Baik, Bu."


Sebelum turun Ibu mencium kening, kedua pipi Umaiza lalu memeluknya.


Umaiza masuk ke kamar mandi dengan membawa baju ganti, stelan piyama dan bergo. Saat masuk Umaiza merasa takjub dengan kamar mandinya yang luas, wc dan bathtub dipisah oleh sekat. Dan ada wastafel.

__ADS_1


Umaiza menyalakan air hangat pada bathtub untuk mandi dan berendam.


__ADS_2