Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Hati Umaiza yang Tulus


__ADS_3

Rahman dan Pak Baskoro kembali lagi ke rumah sakit, untuk melihat keadaan Umaiza. Ibu Rahma belum memberikan kabar terbaru tentang Umaiza.


Umaiza masih ada di ruang IGD, belum di pindahkan. Saat sampai di rumah sakit Pak baskoro, segera masuk menuju ruangan. Rahman memarkirkan dulu mobilnya.


Saat Pak Baskoro masuk, Umaiza masih belum sadarkan diri. Pak Baskoro memutuskan minta ruang rawat VVIP sampai Umaiza sadar.


Dokter menyetujui, supaya ruangan VVIP tersebut bisa membuat nyaman Ibu Rahma, Pak Baskoro dan Rahman untuk menungguinya.


Rahman datang saat Umaiza akan di pindahkan ke ruang rawat inap. Setelah Umaiza berada di ruangan VVIP Rahman izin ke mushola untuk shalat dzuhur dan ashar, karena menunggu Umaiza jadi shalat dzuhurnya terlewat.


Rahman shalat di jamak takhir, yaitu shalat dzuhur dan ashar di satukan di waktu ashar.


"Ya Allah hamba mohon sembuhkanlah Umaiza, sadarkanlah dirinya, aamiin" akhir dari do'a Rahman.


Rahman ke ruangan Umaiza. Umaiza masih terbaring belum sadarkan diri, mata Ibu Rahma sudah sembab menangis terus melihat keadaan Umaiza, Pak Baskoro menenangkannya.


Rahman duduk di dekat Umaiza.


"Za, bangun. Kakak mohon, kamis kan Za mau sidang. Bangun ya Za,"


Rahman mencoba memegang tangan Umaiza untuk memberikan kekuatan, lalu membisikkan kata-kata yang bisa membangkitkan Umaiza untuk sadar.


"Calon istriku, ayo bangun, gadis penjual bunga dan gadis berkerudung pink yang membuat Kakak jatuh cinta,"


Umaiza masih belum bergeming.


Rahman mengambil hp dan membuka aplikasi Al-qur'an. Lalu membacakan di dekat telinga Umaiza. 1 Jam sudah Rahman membaca Al-qur'an tangan Umaiza mulai bergerak, yang pertama terangkat adalah jari telunjuk dan jari tengahnya.


Rahman melihat itu, memanggil Pak Baskoro dan Bu Rahma. Semuanya mendekat kepada Umaiza.


Umaiza membuka matanya sedikit demi sedikit, lalu menoleh ke arah Rahman dengan memberikan senyuman manisnya. Terus melihat Pak Baskoro dan Bu Rahma.


"Yah, Bu," ucap Umaiza dengan suara pelan.


"Alhamdulillah, Umaiza sudah sadar," ucap Ibu sambil mencium kening Umaiza dan memeluknya.


Begitu juga dengan pak Baskoro.


"Umaiza kenapa ada di rumah sakit?"


"Za, waktu mau ke kantor ayah pingsan jadi kakak bawa Za ke rumah sakit,"


Umaiza mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi dan yang terakhir Umaiza rasa yaitu, Umaiza sakit perut yang sangat hebat.


"Hehehe, maaf. Umaiza merepotkan ayah, Ibu dan Kak Rahman. Badan Umaiza berat ya, Kak?" sambil menutup mukanya karena malu.


"Berat banget," goda Kak Rahman.


Pak Baskoro memanggil dokter.


Bu Rahma hanya tersenyum, tidak sanggup untuk berkata-kata.


"Kakak, bilang sama Ayah dan Ibu apa yang terjadi?"


"Iya, maafkan Kakak. Karena Za sakit jadi Kakak menceritakan semuanya,"


"Ya, sudah. Umaiza tidak apa-apa Kak. Jadi Roni itu di apakan sama ayah?"


"Untuk menghukumnya biarkan Rektor yang memutuskannya,"


"Oh, begitu. Syukur bukan Ayah yang menghukumnya, Umaiza takut ayah membalasnya dengan yang lebih parah. Umaiza tidak mau Ayah menghancurkan masa depan anak orang."


"Tidaklah, Pak Baskoro juga tidak akan main hakim sendiri. Semuanya sudah di serahkan kepada Rektor,"


"Iya, Umaiza tenang mendengarnya. Semoga dia jera,"


"Memangnya Za, dia sering melakukan ini pada perempuan lain?"


"Iya, begitulah, Kak,"


"Astagfirullah, untung Za masih di lindungi sama Allah."


"Alhamdulillah, Kak."


"Za, hebat. Belajar bela diri dimana?"

__ADS_1


"Di panti, memang kenapa?"


"Kemarin lihar cctv kampus, Za, melawan Roni dengan menendang dan memukul pipinya. Salut kakak,"


"Oooo, Itu. Hehehe, untung *********** tidak Umaiza tendang." tersenyum lebar kembali.


Pak Baskoro dan dokter masuk ke ruangan. Dokter langsung memeriksa Umaiza.


Dokter menekan perut Umaiza, "apakah ini sakit?"


"Tidak, dok,"


"Yang sakit bagian apa?"


"Tidak ada, dok."


"Alhamdulillah, tidak ada yang serius, sekarang juga sudah bisa pulang,"


"Alhamdulillah, terima kasih Dok,"


"Sama-sama,"


Pak Baskoro pergi ke ruangan administrasi. Umaiza di bantu Ibu untuk siap-siap. Rahman shalat maghrib di mushola.


Rahman dan Pak Baskoro kembali ke ruangan Umaiza secara bersamaan. Umaiza sudah rapi dan siap pulang.


"Sanggup jalan atau mau pakai kursi roda?" tanya Rahman penuh perhatian.


"Jalan saja, In Syaa Allah Umaiza kuat," jawab Umaiza.


Pak Baskoro jalan di depan, Umaiza dan bu Rahma di tengah. Rahman berjalan di belakang. Rahman melihat jalan Umaiza sangat pelan dan hati-hati sekali, seperti yang ngilu.


Rahman mundur dan pergi ke ruangan dokter yang memeriksa Umaiza.


"Dok, maaf, saya kembali lagi. Saya mau tanya apakah ada yang serius dengan Umaiza?"


"Serius maksudnya?"


"Karena jalan Umaiza sangat pelan dan hati-hati seperti menahan sakit atau ngilu,"


"Oh, itu wajar. yang di akibatkan oleh benturan. Bagian dalamnya tidak ada yang serius, namun bagian luarnya ada sedikit memar. Terus kata Pak Baskoro dalam waktu dekat Umaiza akan menikah, kalau bisa jangan dulu melakukan kewajiban suami istri dalam waktu beberapa bulan ke depan. Karena takutnya bekas benturan ini syok kembali,"


Rahman pamit dan segera pergi menyusul Umaiza.


Ternyata Umaiza baru sampai lobby, Rahman mengambil mobil dan berhenti di depan tepat dimana Umaiza berada.


Pak Baskoro dan Bu Rahma membantu Umaiza masuk ke dalam mobil. Rahman kembali ke belakang kemudi, Pak Baskoro duduk di samping Rahman dan Bu Rahma di samping Umaiza.


Umaiza tidur di bahu Ibu Rahma.


"Nak, kenapa jalannya pelan seperti itu?"


"Sakit, Bu, seperti yang ngilu."


"Bagian perut?" tanya Pak Baskoro.


"Bukan Ayah, tapi perut bagian bawah, sepertinya karena benturan tadi siang,"


"Tapi tadi saat di tanya dokter, Za bilang tidak ada yang sakit?" sambung Rahman penuh dengan ke khawatiran.


"Kalau duduk dan tidur tidak terasa, sepertinya Umaiza harus bedrest,"


"Ya, sudah 2 hari ini istirahat, nanti saat sidang kalau jalan tidak kuat, Izinkan kakak dorong Za pakai kursi roda,"


"Iya, Kak,"


Pak Baskoro dan Bu Rahma sangat senang mendengar perhatian Rahman terhadap Umaiza.


"Kakak tadi kemana kok tiba-tiba, menghilang?"


"Za, tadi Kakak ke toilet,"


"Oooo, kirain kemana."


Umaiza merasa sangat mulas lalu meringis. Melihat itu Ibu Rahma panik, "Yah, tadi Umaiza di kasih obat buat penghilang rasa nyeri tidak,"

__ADS_1


"Iya, Ini ada bu. Tapi harus makan dulu,"


"Rahman kalau ada kafe atau restoran berhenti dulu, kita makan," ucap Ibu Rahma.


"Tidak, Bu. Umaiza mau makan di rumah saja. Sepertinya Umaiza keluar darah,"


"Ooo, kamu haid?"


"Iya, Bu. Umaiza kalau mau haid seperti ini,"


"Rahman cepat sedikit ya!"


"Baik, Bu,"


Mobil Rahman sudah sampai di rumah Pak Baskoro. Umaiza akan di gendong oleh Rahman namun Umaiza menolak.


"Ayo, gak apa-apa, Za, ini kan darurot. Daripada darah kamu tambah banyak,"


Akhirnya Umaiza menyetujui dan ternyata benar sudah tembus di jok mobil Rahman.


"Kak, bekas darah Umaiza,"


"Biar Za, nanti Kakak bersihkan."


"Maaf,"


"Iya, gak apa-apa."


Rahman membawa Umaiza ke kamarnya dan menurunkannya di depan lemari di kamar Umaiza.


Umaiza mencari daleman dan pembalut, Rahman menunggu di luar kamar.


"Aaaaauuu," Umaiza berteriak.


Rahman lari ke dalam kamar.


tok...tok...


"Za, kenapa?"


"Panggilkan Ibu, Kak,"


"Baik, Kakak ke bawah,"


Rahman berlari ke bawah dan memanggil Bu Rahma. Bu Rahma segera naik ke atas dan menuju ke kamar Umaiza.


"Umaiza ada apa, Nak,"


"Bu, Masuk,"


Ibu kaget melihat darah yang banyak di bawah lantai.


"Umaiza kalau haid suka seperti ini?"


"Tidak, Bu. Tetapi kenapa hari ini banyak sekali,"


"Ya, sudah Ibu bersihkan. Umaiza segera pakai baju dan pembalut lalu bedrest dan nanti untuk makan Umaiza di kamar saja terus minum obat,"


"Iya, Bu. Maaf, Umaiza merepotkan Ibu, untuk membersihkan darah kotor Umaiza,"


"Sudah menjadi kewajiban Ibu, Nak. Umaiza tidak perlu tidak enak hati seperti itu,"


Umaiza keluar dan Ibu Rahma masih membersihkan darah yang banyak di lantai.


Kak Rahman membantu Umaiza untuk kembali ke tempat tidurnya.


"Istirahat ya, Za. Kakak ambil makan untuk Za, biar bisa segera minum obat ya?"


"Makasih, Kak,"


Rahman mengambil makan untuk Umaiza, karena Rahman sering ke rumah Pak Baskoro. Jadi Rahman tidak sungkan lagi.


Rahman menyuapi Umaiza dengan telaten sampai habis. Lalu memberikan obat untuk Umaiza.


Setelah itu Umaiza tidur.

__ADS_1


Ibu Rahma berniat tidur menemani Umaiza.


Rahman pamit pulang setelah melihat Umaiza tertidur pulas.


__ADS_2