Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Tes DNA


__ADS_3

Rahman melajukan mobilnya ke rumah sakit yang Pak Baskoro maksud. Tanpa bertanya karena sudah tahu, Rahman sering ke rumah sakit tersebut.


Selama perjalanan Rahman melihat dari kaca depan ke arah Umaiza dan Bu Rahma. Melihat begitu manjanya, Umaiza kepada Ibunya itu. Bagaimana tidak manja, selama hidupnya ini pertama kali Umaiza bisa memeluk ibunya setelah hilang.


"Umaiza jika kelak kamu jadi pendampingku takkan pernah kakak sia-siakan kamu," janji dalam hati Rahman.


"Umaiza sekarang kegiatan kamu apa, Nak?" tanya Ibu Rahma tiba-tiba memecahkan lamunan Rahman.


"Umaiza mengajar anak-anak jalanan, lalu kuliah ikut bimbingan, mengetik skripsi, do'ain selesai ya bu. In Syaa Allah sidang bulan depan,"


"Rencana setelah lulus S1 mau kerja atau lanjut S2?" sambung Pak Baskoro.


"Inginnya lanjut S2, mudah-mudahan dapat beasiswa," jawab Umaiza sambil tersenyum dan melepaskan pelukan kepada ibunya.


"Dapat atau tidaknya beasiswa, lanjutkan saja. Kan sekarang sudah ada ayah dan Ibu," ucap Ibu Rahma sambil mengelus pipi Umaiza.


"Iya, Bu. Tapi mudah-mudahan dapat beasiswa," sambil mengedipkan matanya kepada Ibu Rahma.


"Iya, Ibu do'ain,"


"Kalau kuliah S2 sambil membantu ayah bagaimana, di kantor, Umaiza ambil jurusan apa?"


"Akuntansi, Yah,"


"Kebetulan, bagaimana Umaiza mau menerima tawaran dari ayah?"


"Boleh, Yah. Apa yang bisa Umaiza bantu?"


"Gantikan posisi Rahman di kantor,"


"Kak Rahman mau ayah berhentikan?" tanya Umaiza polos.


"Tidak, ayah mau buang Rahman ke ujung kulon, di suruh ngasuh badak bercula satu," Jawab Pak Baskoro dengan nada becanda.


"Ah, Bapak tega," ucap Rahman sambil tersenyum karena tahu kalau Pak Baskoro sedang menggoda Umaiza.


"Jangan dong, Yah. Kasihan, nanti Umaiza bagaimana?" Umaiza merengut.


Rahman tersenyum bahagia mendengar ucapan Umaiza. Di lihatnya Umaiza sedang cemberut dan berpikir sesuatu.


"Tidak dong, Nak. Masa ayah membuang calon mantu yang baik ini. Ayah akan menempatkan Rahman di kantor cabang yang sebentar lagi akan segera di buka,"


"Ah, Ayah. Umaiza kan jadi malu," ucap Umaiza sambil memeluk kepada Ibu Rahma dan membenamkan kepalanya di dada Ibu Rahma.


Rahman lagi-lagi tersenyum melihat tingkah Umaiza, yang sangat lucu dan manja itu.


Pak Baskoro melirik ke arah Rahman.


"Kapan akan melamar putriku?" tanya Pak Baskoro kepada Rahman.


"Tanya Umaiza saja, Pak. Rahman In Syaa Allah, sudah siap,"


"Ayah, baru juga kita menemukan putri kita. Masa sudah di suruh menikah saja?" ucap Ibu Rahma.


"Kalau sudah ada jodoh yang cocok, harus di segerakan, Bu," terang ayah.


"Tapi kan..." ucap Ibu Rahma tidak dilanjutkan.


"Jodohnya Rahman, Bu. Yang sudah kita kenal, In Syaa Allah Rahman akan menjadi suami yang baik dan sholeh. Nanti tidak akan membatasi kita untuk bertemu dengan Umaiza. Benarkan Rahman?"

__ADS_1


"Pastinya, Pak."


"Baik kalau begitu, Ibu Setuju. Tapi selama satu tahun kalian tetap di rumah kami. Belum boleh pindah untuk di bawa ke rumahmu, Rahman?" terdengar tegas namun masih dengan nada yang lembut.


"Ih, kalian lagi membicarakan apa?" tanya Umaiza tiba-tiba.


"Lamaran Rahman, Nak," ucap Bu Rahma.


"Umaiza ingin wisuda dulu, kakak masih mau menunggu kan?"


"Iya, Umaiza,"


"Dan kakak tidak lupa dengan syarat Umaiza kemarin malam?"


"Tentu saja tidak, Kakak akan ikut membantu Umaiza berbakti kepada orangtua Umaiza," jawab Rahman melegakan semuanya.


Kami pun sampai di rumah sakit. Lalu menuju ke ruang dokter pribadi keluarga Pak Baskoro.


Umaiza berjalan berdampingan dengan Ibu Rahma, Pak Baskoro dengan Rahman. Setelah Rahman memarkirkan mobil milik Pak Baskoro.


"Umaiza siap?" tanya Ibu Rahma.


"In Syaa Allah, Ibu,"


Pak Baskoro masuk ke ruangan dokter pribadinya yang bernama Dr. Leo. Rahman, Umaiza dan Ibu Rahma menunggu di luar ruangan.


Sudah selesai berbicara Pak Baskoro dan Dr. Leo keluar dari ruangan. Dan menemui kami.


"Ini putri, Bapak?" tanya Dr. Leo kepada Pak Baskoro.


"Iya, kami hanya ingin memastikan saja. Karena ini putri saya yang hilang 23 tahun yang lalu," cerita Pak Baskoro.


"Siap, dok,"


"Kalau dilihat dari fisik, Umaiza dan Ibu Rahma sangatlah mirip. Namun tidak salah kalau kita coba. Mau apa yang di ambil samplenya?"


"Rambut saja, Dok. Gpp Yah?" tanya Umaiza kepada Pak Baskoro.


"Iya, Nak,"


"Boleh, Minta rambut keduanya?"


"Boleh, Dok." Umaiza mengambil bungkusan dari tas yang berisi rambutnya.


Pak Baskoro mendadak mencabut rambut dari kepalanya beberapa helai.


Kami yang melihatnya tersenyum.


"Ini, Dok," memberikan bungkusan itu kepada dokter begitupun dengan Ayah.


"Berapa lama hasilnya?"


"Kalau ingin cepat, bisa besok siang keluar hasilnya,"


"Tidak bisa hari ini?" tanya Pak Baskoro


"Tidak, Pak. Itu sudah yang paling cepat. Bagaimana?"


"Baik, kalau begitu Dok."

__ADS_1


Dokter langsung menuju ke laboratorium untuk mengecek, dan kami pamit untuk pulang.


"Kalian lapar tidak?" tanya Bu Rahma.


"Sudah kita ke restoran saja dulu," Jawab Pak Baskoro.


Kami segera masuk ke dalam mobil, lalu Rahman membawa mobilnya ke restoran tempat langganan Pak Baskoro.


Sesampainya di restoran Umaiza izin dulu untuk shalat dzuhur begitu juga dengan Rahman.


Ibu Rahma dan Pak Baskoro masuk ke restoran dan memilih ruangan vip supaya tidak di ganggu dengan pengunjung lain. Lalu memesan semua menu spesial yang ada di restoran tersebut.


Umaiza dan Rahman selesai shalat, Rahman segera membawa Umaiza ke ruangan vip dimana Ibu Rahma dan Pak Baskoro berada.


Melihat menu yang banyak, Umaiza kaget.


"Ayah, Ibu. Menunya banyak sekali," tanya Umaiza.


"Ini hari pertama kita kumpul, jadi harus di rayakan," Jawab Ibu Rahma sambil tersenyum dan mengajak Umaiza untuk duduk di sampingnya.


"Menu segini banyaknya apakah akan habis?," jawab Umaiza pelan dan duduk di sebelah Ibu Rahma.


"Tenang ada Rahman di sini," jawab Ibu Rahma.


Rahman langsung melihat ke arah Umaiza dan Ibunya kaget namanya di sebut.


Mereka pun makan, sesekali becanda. Kecuali Umaiza makan tanpa suara. Dan akhirnya mereka pun fokus untuk makan.


"Umaiza, mulai malam ini ikut ke rumah ibu dan ayah ya?" pinta Ibu Rahma.


"Bagaimana kalau besok saja, Bu. Setelah mengetahui hasil tes DNA. Dan Umaiza akan menyelesaikan mengetik skripsinya tinggal beberapa bab lagi."


"Kalau di rumah memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, Ibu. Takutnya kalau di rumah, Umaiza ingin dekat terus sama Ibu. Melupakan skripsinya,"


Semuanya mendengar ucapan Umaiza tersenyum.


Setelah selesai makan, kami pun mengantar Umaiza ke panti.


"Besok Umaiza akan di jemput sama Rahman, nanti kita ketemu di rumah sakit ya sayang," ucap Ibu Rahma.


"Iya, Bu."


"Ini, buat Umaiza. Supaya kami mudah untuk berkomunikasi." Ibu Rahma memberikan hp kepada Umaiza.


"Baik, Ibu. Umaiza terima. Terima kasih untuk hp nya."


"Sama-sama, Sayang. Maafkan kami baru bisa menemukanmu sekarang. Banyak moment yang hilang, Ibu tidak menyaksikanmu tumbuh menjadi gadis cantik seperti sekarang." Ibu Rahma menangis dan memeluk Umaiza dengan penuh kasih sayang.


Rahman dan Pak Baskoro pun meneteskan air mata dan terharu melihat Ibu dan anak.


"Sudah tidak usah ibu dan ayah sesali, ini semua sudah takdir kita. Umaiza harap kembalinya Umaiza ke pangkuan ayah dan Ibu tidak perlu di beritakan atau di rayakan. Umaiza takut orang yang berniat jahat kepada Ibu dan Ayah, mengulangi lagi untuk menculik Umaiza. Nanti pun Umaiza bergabung di perusahaan ayah, jangan di kenalkan sebagai putri ayah." Jelas Umaiza yang khawatir kejadian 23 tahun lalu terulang kembali.


"Baik, Nak. Ayah dan Ibu mengerti," ucap Pak Baskoro.


"Pemikiranmu sejauh itu, sungguh sangat bagus Nak. Ibu dan ayah tidak akan mengulangi hal yang sama," ucap Ibu Rahma menangis.


Kami pun sampai di Panti asuhan, semuanya turun. Ibu Rahma dan Pak Baskoro pamit kepada Ibu Aisyah begitupun dengan Rahman.

__ADS_1


__ADS_2