
Rahman, Ibu dan Umaiza kembali ke rumah.
Umaiza memberikan buku harian milik Pak Baskoro.
"Iya, benar, Za, yang ini,"
"Alhamdulillaah, nanti Za dan Kak Rahman mau mencoba bertanya kepada RT setempat. Apakah Ibu mengetahui alamat korban tersebut?"
"Iya, kalau tidak salah Ayah pernah memberikannya kepada Ibu,"
"Alhamdulillaah, Allah mudahkan,"
Ibu pergi ke kamar untuk mengambil catatan alamat.
Umaiza mengambil air hangat untuk Rahman.
Rahman pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan ganti baju.
Ibu keluar dari kamar.
"Ini Nak,"
"Oh, Iya, Bu."
Umaiza ke kamar untuk menyimpan air minum.
Umaiza mencari alamat korban tersebut dan mencocokkannya dengan alamat Alifa. Ternyata benar sama. "Sesuai dengan dugaanku," gumam Umaiza.
Rahman keluar dari kamar mandi.
"Kak, sesuai dugaan kita. Ternyata benar, alamat korban sama dengan alamatnya Alifa,"
"Baik, berarti dugaan kita semakin kuat. Ini semua karena salah faham,"
"Iya, benar, Kak, besok kita temui dan menjelaskan kepada keluarganya Alifa,"
"Iya, Kakak setuju, semakin cepat semakin baik semuanya terungkap supaya tidak ada salah faham lagi"
"Iya, bisa-bisa nanti salah faham lagi kepada kita ya, Kak, karena sudah memasukkan Alifa ke tahanan,"
"Iya, sayang," jawab Rahman sambil tersenyum
Umaiza menyimpan buku alamatnya di tas. Lalu pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengganti baju.
Rahman menunggu Umaiza untuk sholat isya berjama'ah.
Keesokan harinya.
Umaiza seperti biasa bangun pagi.
Shalat tahajud
Tadarusan
Shalat subuh
Memasak untuk sarapan
Mandi dan siap-siap ke kantor
Sarapan
Tidak ada yang spesial.
Dan jadwal hari ini, sepulang kerja akan mencari keluarga korban yang di selama ini di bantu oleh Ayah. Dan mencari tahu, apa hubungan Alifa dengan keluarga korban.
Rahman sudah siap pergi ke kantor.
Begitu juga dengan Ibu.
"Ibu, sudah cantik mau kemana?" ucap Umaiza heran
"Jadwal Ibu hari ini mau ke panti dan WO,"
"Oooo, Ibu mau pergi sama siapa?" tanya Umaiza kaget
"Ibu mau pergi sama Bunda," sambil tersenyum.
"Kalau begitu, Ibu dan Bunda hati-hati ya,"
"Iya, Nak, In Syaa Allah, kami akan jaga diri,"
"Mau pakai sopir?"
"Tidak usah, Ibu mau pesan taxi online saja,"
"Ya, sudah kalau itu mau nya Ibu,"
Ibu, Rahman, Umaiza sarapan bersama.
30 menit berlalu, mereka selesai sarapan.
Rahman dan Umaiza pamit untuk pergi ke kantor.
"Bu, nanti hati-hati di jalan ya?"
"Iya, Nak, In Syaa Allah kami akan baik-baik saja,"
"Aamiin"
POV Rahman dan Umaiza
Rahman dan Umaiza pergi ke kantor, sebelumnya pamit juga ke Bunda dan mengucapkan kata-kata yang sama kepadanya.
__ADS_1
Umaiza melihat ke arah samping, dilihatnya orang-orang yang lalu lalang dengan tujuan dan kegiatannya masing-masing. Ada yang berseragam sekolah, kantor, pabrik. Ibu-Ibu yang baru pulang dari pasar.
Mobil dan motor yang memenuhi jalan raya sehingga berjalan pun merayap seperti semut yang sedang berbaris.
"Za, tumben mengamati jalan?" tanya Rahman heran
"Iya, Kak, semuanya sibuk dengan tujuan dan kegiatannya masing-masing,"
"Iya, kalau di perhatikan. Memang membuat kita jadi geleng-geleng kepala,"
"Kalau sekarang kita hendak kemana, Kak?" ledek Umaiza
"Ke kantor," jawab Rahman tegas
Umaiza manyun
Rahman fokus kembali melihat ke depan.
"Kak, Allah memudahkan kita untuk bersatu. Karena Allah menginginkan kita menyelesaikan masalah ini,"
" Masalah apa?"
"Ayah,"
Rahman mengangguk pelan, "Itu tandanya Allah percaya kalau kita mampu melewati ini semua,"
"Aamiin, In Syaa Allah, kalau Kakak tetap berada di samping Za," sambil menggenggam tangan Rahman.
Rahman mengangguk kembali.
Umaiza kembali melihat ke samping.
Sampai di kantor.
Rahman dan Umaiza bekerja seperti biasanya. Hari ini tidak ada jadwal meeting hanya bekerja di kantor. Makan siang pun Umaiza memesan makanan via ojek online.
Sore hari
Pekerjaan sudah beres semua, Rahman dan Umaiza siap-siap untuk pulang.
Farid dan Rara sudah menunggu di lobbi.
"Sekarang mau pergi kemana?" tanya Rara
"Oh, pasti Farid sudah bilang ya?"
Rara mengangguk
Farid nyengir sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Ada yang bisa kami bantu?"
"Boleh, kalau mau ikut,"
"Gimana kalau pergi dengan dua mobil saja?"
"Iya, boleh, nanti Rara bareng Farid,"
"Sip, nanti Umaiza kirim alamatnya. Takutnya di perjalanan terpisah, namun nanti Rara dan Farid menunggu kami dari kejauhan saja,"
"Iya, siap kami mengerti kok, Umaiza,"
Rahman dan Umaiza.
Rara dan Farid.
Semuanya sudah sampai di komplek rumah Alifa.
Rahman dan Umaiza pergi ke rumah Ketua RT keluarga Alifa.
Rara dan Farid menunggu di ujung jalan.
"Sore, Pak," sapa Rahman setelah sampai di rumah ketua RT.
"Iya, Sore, ada yang bisa di bantu?"
"Saya mau bertemu dengan ketua RT nya,"
"Oh, iya, kebetulan saya sendiri ketua RT nya,"
"Baik, perkenalkan saya Rahman dan ini istri saya Umaiza. Saya mau bertanya apakah Bapak mengenal Pak Baskoro?"
"Pak Baskoro," ketua RT mencoba mengingatnya, "Apakah kalian maksud Pak Baskoro seorang pengusaha yang baik hati itu?" setelah mengingatnya, "yang menjadi donatur untuk keluarga Pak Sanusi?" sambungnya lagi.
"Oh, iya, benar, Pak," yang baru tahu kalau korbannya itu bernama Pak Sanusi.
"Baik, silahkan masuk,"
Rahman dan Umaiza pun masuk ke dalam rumahnya.
"Silahkan duduk,"
Rahman dan Umaiza pun duduk, "Terima kasih," ucap Rahman.
"Apa yang bisa saya bantu?"
"Kebetulan saya anaknya Pak Baskoro, saya ingin banyak tahu tentang keluarga Pak Sanusi,"
"Pak Sanusi adalah seorang pedagang, menurut kabar yang sampai kepada saya, beliau tertabrak oleh komunitas motor gede,"
"Anaknya ada berapa?"
"Ada dua, pertama Alifa dan kedua Surya,"
__ADS_1
Mendengar kata Alifa, Umaiza dan Rahman sudah tidak kaget lagi. Karena semua memang sudah jelas.
"Alifa yang kerja di perusahaan Pak Baskoro?"
"Iya, kenapa Bapak bisa tahu kalau Alifa bekerja disana?" tanya Umaiza penasaran
"Karena Pak Baskoro sendiri yang memberikan penawaran Alifa untuk bekerja disana, tentu saja melalui perantara saya,"
Umaiza terdiam.
"Apakah Bapak tahu sekarang keadaan Alifa bagaimana?"
"Alifa di tahan, karena membantu laki-laki yang disukai untuk mencelakakan seseorang,"
"Bapak tahu siapa seseorang itu?"
"Saya tidak tahu," sambil menggelengkan kepala.
"Pak Baskoro," jawab Umaiza
"Apa?"
"Iya, Pak," jawab Umaiza lagi. Dan menjelaskan kenapa Alifa sampai hati merencanakan pembunuhan pada Pak Baskoro.
"Astagfirullah, kenapa Alifa seperti itu?" tanya ketua RT menampakkan wajah sedihnya, "Padahal gadis itu anak yang baik dan penurut," lanjutnya, "Keluarga nya juga, keluarga yang baik,"
"Sama, Pak, saya juga tidak menyangka. Saya berpendapat sama seperti Bapak dan yang lainnya kalau Alifa terpengaruh oleh laki-laki itu, ternyata setelah bukti-bukti dikumpulkan, semuanya mengarah kepada dia,"
"Saya siap jadi saksi kalau diperlukan,"
"Terimakasih, Pak, atas kesediaannya, apakah Bapak bisa mengantarkan saya ke rumah keluarganya?"
"Dengan senang hati,"
Rahman Umaiza dan ketua RT pergi menuju rumah Alifa.
Ketua RT menceritakan semua kebaikan Pak Baskoro. Umaiza mendengarnya ada rasa haru dan sedih.
Rasa sedihnya karena orang lain lebih mengenal Pak Baskoro di banding dirinya.
"Assalamu'alaikum," ucap ketua RT sambil mengetuk pintu rumah Alifa.
"Wa'alaikummussalaam," jawab dari dalam.
Keluar wanita paruh baya, kemungkinan beliau adalah ibunya Alifa sekaligus istrinya Pak Sanusi.
"Eh, Pak RT, ada apa ya?"
"Saya mengantarkan mereka," ucap Ketua RT sambil melihat ke arah Rahman dan Umaiza.
Ibu itu melihat Umaiza lalu ke Rahman.
"Mau apa kalian kesini?" tanya Ibu itu dengan pandangan tajam.
"Kami hanya ingin bersilaturahmi," jawab Rahman dengan tenang.
"Apa mau kalian?"
"Kami tidak ingin apa-apa, kami hanya ingin meluruska suatu masalah supaya tidak ada korban lagi" jelas Rahman
"Apa yang perlu di jelaskan?" dengan nada marah, "Alifa sudah mendekam di penjara," masih dengan nada yang tinggi.
"Saya bisa membebaskan Alifa, asalkan Alifa mau bicara jujur kenapa dia menabrak Ayah,"
"Ingin tahu?"
"Iya,"
"Karena Ayahmu sudah menabrak suamiku dan ayahnya Alifa,"
Umaiza dan Rahman masih tenang meski ibu itu terus berbicara dengan nada tinggi dan menunjuk-nunjuk Umaiza.
"Nah, itu, Bu, yang ingin saya jelaskan. Semua ini hanya salah faham,"
"Siapa yang salah faham?"
"Ibu dan anak-anak. Saya hanya tidak ingin, salah faham ini terus berlanjut. Sekarang saja Ibu dan mungkin Alifa sama, salah faham terhadap saya. Nanti bisa-bisa, Ibu dan Alifa akan balas dendam pada saya, karena sudah memasukkan Alifa ke tahanan,"
Ibu itu mencerna perkataan Umaiza.
"Padahal saya melakukan itu karena menuntut keadilan karena Alifa sudah membunuh Ayah,"
"Ya karena Alifa pun sama ingin menuntut keadilan, hukum Allah, nyawa di balas dengan nyawa,"
"Apakah Ibu sudah menyelidiki kalau Ayah memang bersalah?"
Ibu itu menggelengkan kepala.
"Nah, itu. Harusnya Ibu mencari tahu, supaya tidak menjadi fitnah. Kalau iya Ayah yang melakukannya, kalau bukan?"
Ibu itu menundukkan kepalanya.
"Kalau Ayah yang melakukannya, ayah pun tidak lari dari tanggung jawab. Ayah sudah membawa Pak Sanusi ke rumah sakit berikut pembiayaannya. Apalagi ini Ayah tidak menabrak, saat itu Ayah sedang jalan bersama komunitasnya, di lihatnya di pinggir jalan ada korban kecelakaan. Orang-orang berdatangan lalu menyalahkan Ayah, semuanya langsung meninggalkan Pak Sanusi termasuk teman-teman komunitasnya, yang tersisa hanya Ayah, apa yang dilakukan oleh Ayah?"
"Membawa ke rumah sakit," jawab ibu itu.
"Lalu apa yang di dapat dari keluarga korban?" tanya Umaiza lagi, "Hanya hinaan dan sama seperti yang lainnya menyalahkan Ayah,"
Kembali menundukkan kepalanya.
"Ayah, pergi karena tidak ingin situasi menjadi panas. Apa yang Ayah lakukan selanjutnya kepada keluarga Ibu?"
Ibu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1