Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Pak Baskoro


__ADS_3

Rahman dan Umaiza sudah sampai di Rumah Pak Baskoro. Ibu Rahma sedang menanti di luar sambil membaca buku.


"Assalamu'alaikum," Ucap Umaiza sambil turun dari mobil Rahman yang melihat Ibu sedang asyik membaca buku di teras.


"Wa'alaikummussalaam," Ucap Ibu sambil menoleh ke arah Umaiza dan Rahman.


"Ibu rencana ke WO jam berapa?" Jalan ke arah Ibu yang di ikuti oleh Rahman.


"Nanti setelah maghrib saja,"


"Oh, iya, kalau begitu ada waktu untuk Umaiza bersih-bersih dulu ya, Bu,"


"Iya, Nak," mengajak masuk kepada Rahman dan Umaiza.


"Kakak, mau minum apa?" tawar Umaiza kepada Rahman yang mengikuti Ibu untuk masuk.


"Mau yang segar saja, habis tadi panas banget,"


"Panas cuaca atau hatinya nih?" goda Umaiza sambil tersenyum


"Dua-duanya," timpal Rahman


Ibu Rahma sudah lebih dulu duduk jadi tidak mendengar percakapan mereka.


"Kakak, duduk dulu saja. Za, buatkan minumnya dulu,"


"Iya, Za," Rahman duduk di ruang keluarga bersama Ibu Rahma.


Ibu Rahma sudah rapi, siap untuk pergi.


"Pak Baskoro belum pulang, Bu?" tanya Rahman,


"Belum, mungkin sebentar lagi," jawab Ibu singkat, "Karena rencana Bapak juga ingin ikut pergi ke tempat WO," sambung Ibu Rahma.


"Alhamdulillah, kalau begitu,"


Umaiza datang membawakan minuman untuk Rahman dan Ibu Rahma.


"Terima kasih," ucap Rahman ketika Umaiza menaruh minumannya di atas meja.


"Sama-sama," jawab Rahman sambil tersenyum lalu menyimpan yang punya Ibu.


Umaiza membuatkan jus mangga untuk Ibu dan Rahman.


"Terima kasih, Nak,"


"Sama-sama, Bu, Umaiza izin ke atas dulu ya,"


Rahman dan Ibu mengangguk bersamaan untuk mengiyakan ucapan Umaiza.


Umaiza ke atas untuk siap-siap. Rahman dan Ibu Rahma masih terdiam di ruang keluarga.


Rahman mengecek hp dan Ibu Rahma meneruskan membaca buku.


Umaiza turun dari tangga,


"Ayah belum pulang, Bu?"


"Belum, Nak, tadi ayah bilang akan pulang ashar dari proyek,"


"Memang jauh ya, kantor cabangnya, Bu?"


"Harusnya sih sudah sampai," ucap Ibu sudah merasa khawatir.


"Coba Ibu hubungi lagi ayah!" pinta Umaiza ikut khawatir


Ibu mengambil hp dan berniat menghubungi Pak Baskoro.


Sambungan hp berdering namun belum di angkat.


"Tidak seperti biasanya,"


"Kak, adakah yang bisa di hubungi?"


Rahman mencoba berfikir


Ibu mencoba kembali menghubungi Pak Baskoro.


Rahman mencoba menghubungi seseorang yang berada di proyek.


Sama-sama tidak di angkat.


Ibu menghubungi sopir juga sama tidak di angkat.


"Ya, Allah semoga Engkau menjaga suamiku," do'a Ibu Rahma dengan suara lirih.

__ADS_1


Orang yang berada di proyek menghubungi balik Rahman.


"Sore, Pak. Ada yang bisa di bantu?" ketika telepon sudah terhubung


"Saya mau menanyakan Pak Baskoro, apakah beliau sudah pulang,"


"Oh, Pak Baskoro tadi pulang jam 3, katanya mau langsung pulang ke rumah,"


Wajah Rahman kaget mendengar jawaban dari seberang sana. "Kebetulan saya sedang berada di Rumah Pak Baskoro, beliau masih belum sampai," sambung Rahman dengan suara pelan.


"Kenapa Kak?" tanya Umaiza khawatir melihat perubahan raut wajah Rahman.


Ibu Rahma pun sama.


"Baik, kalau begitu. Mungkin Pak Baskoro sedang ada keperluan lain sebelum pulang ke rumah," mencoba berfikiran positif,


"Semoga begitu, semoga Pak Baskoro baik-baik saja,"


"Aamiin, terima kasih info dan do'anya,"


"Sama-sama, Pak,"


Sambungan telepon terputus.


"Pak Baskoro pulang jam 3 dari proyek, mungkin ada keperluan lain di jalan,"


"Mungkin saja, namun tidak seperti biasanya. Kalau ada keperluan lain suka memberitahukan Ibu," timpal Ibu Rahma dengan raut wajah bingung dan khawatir.


"Ibu, tenang saja dulu ya. Mungkin Ayah ingin memberikan kejutan kepada Ibu," ucap Umaiza dengan duduk di samping Ibu dan mencoba menenangkannya.


"Bismillah, saja ya, Nak," sedikit tenang


"Iya, Ibu,"


Adzan maghrib pun berkumandang, Pak Baskoro masih belum sampai juga di rumah.


Rahman, Umaiza dan Ibu Rahma mendirikan shalat maghrib sambil menunggu.


Selesai shalat masih belum tiba juga.


Ibu Rahma berniat mau menghubungi kembali Pak Baskoro atau sopirnya. Namun ada panggilan telepon dari nomor yang tidak di kenal masuk, Ibu Rahma segera menggeser gambar telepon warna hijau sebagai tanda telepon di terima.


"Selamat petang," suara dari seberang, "Ini dengan istrinya Pak Baskoro?" Lanjutnya


"Saya adalah orang yang berada di tempat kejadian, mobil Pak Baskoro mengalami kecelakaan sekarang sedang di bawa ke rumah sakit terdekat dengan tempat kejadian," jelasnya


"Yang benar, Pak?" Ibu Rahma mencoba tenang namun terlihat wajah sedih dan cemas


"Iya, saya tahu nomor Ibu dari hp milik korban,"


"Kalau boleh tahu dimana tempat kejadiannya?"


"Di jalan Cempaka,"


"Oh, Iya, Baik. Terima Kasih informasinya,"


Sambungan telepon terputus.


Ibu Rahma langsung memeluk Umaiza yang berada di sampingnya, "Umaiza, ayah," air mata Ibu Rahma tidak terasa terjatuh.


"Ada apa dengan Ayah, Bu,"


Rahman hanya terdiam mendengarkan Ibu Rahma berbicara


"Kecelakaan di jalan Cempaka," jawab Ibu sambil mengusap air mata yang sudah terjatuh di pipinya dan melepaskan pelukan dari Umaiza.


"Innalillahi wa inna illaihi roji'un," ucap Umaiza spontan dan memperlihatkan wajah sedihnya. Air mata yang tak di undang pun turut hadir.


"Apakah sudah di bawa ke rumah sakit sekarang, Bu?" tanya Rahman.


"Sudah, di bawa ke rumah sakit terdekat,"


"Kalau begitu mari kita pergi sekarang, Bu," ajak Rahman


"Iya, Bu," timpal Umaiza juga.


Ibu Rahma masuk ke kamar untuk mengambil tas dan bergegas keluar. Rahman dan Umaiza sudah menunggu di depan.


"Ibu yang tenang ya, semoga Ayah baik-baik saja. Tidak ada yang serius,"


"Aamiin, semoga ya, Nak,"


Rahman, Umaiza dan Ibu Rahma masuk ke dalam mobil.


Rahman melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena melihat Ibu Rahma tidak berhenti menangis.

__ADS_1


Kami pun sampai di rumah sakit yang kami tuju.


Rahman bergegas masuk ke ruangan informasi.


Umaiza dan Ibu Rahma menunggu di lobby


"Selamat malam," kata Rahman di bagian informasi


"Malam, ada yang bisa kami bantu," petugas rumah sakit


"Mau tanya ada kah pasien yang bernama Baskoro yang merupakan korban kecelakaan di jalan Cempaka,"


"Sebentar saya cek dulu," lalu petugas mencari data pasien di komputer, "Oh, iya, ada. Korban sedang di tangani oleh dokter di ruangan IGD," sambung petugas ketika sudah menemukannya.


"Baik, Pak, terima kasih informasinya,"


"Sama-sama, Pak,"


Rahman segera meninggalkan meja informasi lalu keluar ruangan dan kembali ke tempat dimana Umaiza dan Rahman berada.


"Bagaimana, Kak?" tanya Umaiza ketika Rahman hampir mendekat.


"Pak Baskoro sedang di tangani oleh dokter di ruangan IGD, mari kita kesana," ajak Rahman


"Mari, Bu," kata Umaiza sambil merangkul Ibu.


Rahman berjalan di depan Ibu Rahma dan Umaiza.


Sekali-kali Rahman menoleh ke belakang untuk memastikan Ibu Rahma dan Umaiza dalam keadaan baik-baik saja.


Sesampainya di IGD, seorang perawat keluar dari ruangan Pak Baskoro di periksa.


"Adakah keluarga Pak Baskoro?" tanya perawat


"Sepertinya belum ada, Sus. Saya yang bawa beliau kesini, ada yang bisa di bantu?"


"Bapak sudah menghubungi keluarganya?"


"Sudah, mungkin istri beliau sedang di jalan menuju kesini,"


Langkah Rahman di percepat setelah secara sayup-sayup terdengar perbincangan antar perawat dengan seorang laki-laki.


"Saya, Sus, keluarganya," teriak Rahman


Umaiza dan Ibu Rahma melakukan hal yang sama dengan Rahman.


"Bagaimana dengan keadaan Pak Baskoro?" tanya Rahman setelah dekat dengan perawat.


"Alhamdulillah, kalau keluarganya sudah ada disini. Pak Baskoro banyak kehilangan darah, kebetulan darah beliau sangat langka. Mungkin keluarganya ada yang cocok?" jelas perawat


"Golongan darah ayah apa?" tanya Umaiza panik


"B rhesus negatif,"


"Alhamdulillah, cocok dengan saya Sus, ambil saja darah saya sebanyak yang ayah butuhkan, yang terpenting ayah sembuh," ucap Umaiza sengan suara sedikit terbata-bata karena sedih mendengar keadaan Pak Baskoro


"Saya juga sama," kata orang yang menolong Pak Baskoro


"Alhamdulillah, kalau begitu mari ikut saya ke ruangan untuk di ambil darahnya" ucap perawat sambil mempersilahkan Umaiza dan Bapak penolong untuk mengikutinya.


Umaiza dan Bapak penolong mengikuti perawat.


Untuk Umaiza ini bukan pertama kali mendonor darah, hampir sebulan sekali Umaiza ke PMI untuk donor darah.


Bagi Umaiza dengan donor darah setetes saja sudah berarti bagi orang yang membutuhkan apalagi golongan darahnya sangat langka.


Rahman dan Ibu Rahma duduk di depan ruangan IGD.


"Ibu, saya tinggal dulu tidak apa-apa?"


"Rahman mau kemana?"


"Mau membeli makanan takutnya Ibu dan Umaiza lapar,"


"Baik kalau begitu, terutama Umaiza. Biasanya kalau sudah di ambil darah suka lapar,"


"Iya, Bu,"


"Tidak lama-lama ya?"


"Tidak akan, Bu. Tapi kalau ada apa-apa, Ibu tidak sungkan menghubungi saya ya,"


"Iya, Nak Rahman," ucap Ibu Rahma dengan mencoba tersenyum meski terasa berat.


Rahman berjalan menuju minimarket yang ada di rumah sakit tersebut.

__ADS_1


__ADS_2