
Pov Rahman
Rahman bangun seperti biasa. Namun yang membuat beda adalah tujuan kepergiannya. Rahman sarapan dengan mudah saja. Menggoreng ayam, karena masakan yang sisa kemarin dibawa Farid ke rumah Bunda.
Nasinya di buat nasi goreng ala kadarnya.
Rahman melahap hasil masakannya. Dan waktu sudah menunjukkan pukul jam 07.00 Rahman beresin piring lalu mencuci piring dan bekas memasak nasi goreng. Rahman memang kalau bekas masak tidak dibiarkan sampai menumpuk, suka langsung di cuci, di lap dan di simpan ke tempat semula.
Rahman hari ini pergi tidak menggunakan jas ataupun kemeja namun menggunakan kaos panjang rajut yang pas di badan berwarna biru strip dan celana katun warna hitam, untuk sepatunya yang flat saja supaya terlihat santai.
Rahman keluar dari rumah tidak lupa membawa hp nya, dan mengunci rumah. Rahman berjalan menuju mobil dan masuk ke dalam. Rahman menyalakan mobilnya lalu dengan sigap satpam membuka gerbang rumah ketika Rahman sudah menjalankan mobilnya untuk keluar dari gerbang.
Di Jalanan ada yang menjual buket bunga mawar, Rahman menepi dan memanggil penjual bunga tersebut. Rahman membeli satu buket lalu menyerahkan uangnya.
Rahman simpan di belakang kursi. Untuk memberikan kejutan kepada Umaiza.
Pov Umaiza
Umaiza bangun jam 04.30. Umaiza membuka-buka sedikit buku skripsi untuk mempelajari sedikit bahan skripsi. Semuanya sudah terasa ada di dalam ingatannya, Umaiza menutup dan menyimpan kembali buku skripsi.
Umaiza pergi ke kamar mandi, udara terasa sangat dingin. Umaiza menyalakan air hangat di bathtub untuk berendam.
Setelah airnya penuh, Umaiza masuk ke dalam bathtub. Sebelumnya Umaiza sudah mandi di bawah shower. Berendam sebentar dan air yang hangat sudah terasa dingin. Umaiza keluar hanya menggunakan handuk dan dalaman saja.
Umaiza berniat untuk mengeringkan rambutnya terlebih dahulu pakai hairdryer. Rambut kering, Umaiza mengambil baju dan menggantinya di ruang ganti. Terasa semuanya sudah rapi, Umaiza memakai make up seperlunya saja. Untuk mencerahkan, Umaiza mencoba memakai liptin di bibir mungilnya yang terlihat menjadi pink segar. Dan mata bawahnya menggunakan 'celak' seperti orang arab atau india gitu. Mata kecilnya terlihat seperti mata belo.
Umaiza menggunakan rok Panjang berwarna hitam dan tunik putih sampai lutut. Kerudungnya panjang sampai paha warna hitam dan sekeliling pinggirnya strip putih. Pakai tas selendang dan sepatu flat hitam.
Umaiza bawa buku skripsinya. Dan membuka kunci pintu kamar, membuka pintu dan keluar, menutup pintu dan menguncinya. Umaiza turun ke bawah lewat tangga.
Ibu Rahma dan Pak Baskoro belum keluar.
Umaiza menunggu di ruang keluarga.
Ibu Rahma keluar dan di ikuti oleh pak Baskoro.
"Umaiza sudah lama menunggu?"
"Tidak, Bu. Umaiza juga baru turun."
"Kita sarapan dulu sayang,"
"Iya, Ayah,"
Pak Baskoro, Ibu Rahma dan Umaiza menuju meja makan.
"Cantiknya anak ayah," ucap Pak Baskoro saat melihat wajah Umaiza dengan secara penuh,"
"Iya, ya, Yah,"
"Ah, Ibu. Umaiza cantik karena Ibunya juga cantik, ayahnya tampan, hehehe,"
Umaiza makan roti yang di olesi oleh selai coklat dan minum susu.
"Tidak makan nasi goreng, Nak?"
"Tidak, Bu. Roti dan susu saja,"
"Baik, buah-buahannya juga. Biar tidak lapar nanti saat sidang."
"Iya, Bunda. Nanti kalau masih lapar Umaiza makan apel,"
"Iya, Nak,"
Sarapannya sudah selesai, Umaiza, Ibu Rahma dan Pak Baskoro berdiri dan segera meninggalkan meja makan dan kembali ke ruang keluarga untuk membawa buku skripsi dan tas.
"Langsung berangkat?" tanya Pak Baskoro.
"Iya, Yah,"
"Rahman mana?"
"Rahman langsung ke kampus, nanti ketemu disana,"
"Baik, kalau begitu. Ayo kita pergi," ucap Ibu Rahma.
Kami semua pergi keluar dan menuju ke mobil. Sopir sudah siap di dekat mobil.
"Antar kami ke kampus ya, Pak," ucap Pak Baskoro.
"Baik, Pak,"
Pak Baskoro masuk ke mobil di depan di samping sopir, Umaiza dan Ibu Rahma di belakang.
"Umaiza sudah siap?"
"In Syaa Allah, Bu,"
"Semangat,"
"Terimakasih, Bu,"
Sopir menjalankan mobilnya, keluar gerbang lalu masuk ke jalan raya. Umaiza selama perjalanan tak henti-hentinya berdzikir dan berdo'a mohon diberikan kemudahan.
Ibu Rahma hanya diam dan melihat keluar jendela, begitu pun dengan Pak Baskoro.
Mobil sudah sampai ke pelataran parkir. Rahman sudah berada disana. Umaiza segera turun dari mobil, Rahman melihat penampilan Umaiza dengan tidak berkedip dan tanpa memalingkan wajahnya sedikit pun.
Umaiza berjalan dengan tersenyum ke arah Rahman. Hati Rahman tidak karuan dan berdegup sangat kencang. Ini kali pertama melihat Umaiza sedikit dipoles wajahnya.
Umaiza mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Rahman. Dan seketika Rahman tersadar.
Rahman tersenyum dan bergumam, "Za, sangat cantik,"
"Apa Kak?"
"Ooooh, tidak." Rahman salah tingkah.
Umaiza tersenyum.
__ADS_1
Kau bagaikan Bidadari
Yang Allah ciptakan untukku.
Kau Khumairahku
Dikala kau malu
Pipimu memerah.
Rahman dan Umaiza berjalan mendekat ke arah Ibu Rahma dan Pak Baskoro. Buku skripsinya dibawa oleh Rahman.
"Za, kita cari ruang sidangnya,"
"Baik, Kak,"
Keduanya berjalan menelusuri lorong kampus untuk mencari ruang sidang, di jalan ketemu dengan dosen pembimbing Umaiza.
"Umaiza sudah datang?"
"Iya, Pak."
"Sudah siap?"
"In Syaa Allah, Pak."
"Mari kita ke ruang sidang,"
"Baik, Pak,"
Rahman dan Umaiza mengikuti Dosen Pembimbing. Sampai di depan ruang sidang, Umaiza menunggu giliran.
"Rahman bagaimana kabarnya?" tanya Dosen pembimbing.
"Alhamdulillah, baik, Bapak bagaimana?"
"Alhamdulillah, Baik,"
Pak Baskoro dan Ibu Rahma berada di belakang. Karena di lorong kampus banyak yang menyapa.
"Saya tinggal dulu ya, Rahman."
"Baik, Pak."
Dosen pembimbing masuk ke ruang sidang.
"Umaiza," panggil dari ruangan.
"Bismillah," ucap Umaiza.
"Za, semangat," ucap Rahman memberikan dukungan.
"Makasih, Kak," jawab Umaiza dengan senyuman khasnya.
Dan melangkahkan kakinya ke ruangan sidang. Rahman menunggu diluar.
"Umaiza nya sudah masuk?" tanya Ibu Rahma.
Umaiza menjawab semua pertanyaan dengan lugas, tegas, cepat dan tepat. 1 jam sudah Umaiza di dalam ruangan sidang.
"Sudah selesai," ucap penguji.
Umaiza tersenyum lega.
"Sudah selesai, Pak?" tanya Umaiza untuk memastikan.
"Sudah, semua pertanyaan sudah Umaiza jawab dengan tepat,"
"Alhamdulillah,"
"In Syaa Allah, kamu akan lulus, Za,"
"Aamiin, ya Allah,"
"Umaiza di antar sama siapa?"
"Alhamdulillah, sekarang Umaiza sudah bertemu dengan ayah dan Ibu. Jadi Umaiza di antar oleh mereka dan Kak Rahman tadi,"
"Alhamdulillah, kami ikut senang mendengarnya, kalau Rahman tadi itu Khairul Rahman kan?" tanya dosen pembimbing.
"Iya, Pak. Pasti Kak Rahman populer di kampus ini,"
"Iya, dia salah satu mahasiswa yang baik, pintar, cerdas."
"Hehehe, iya, Pak. Apakah saya sudah bisa keluar?"
"Sudah, silahkan Umaiza. Sekali lagi selamat," ucap dosen pembimbing.
"Terimakasih, Pak."
Umaiza keluar dan dosen pembimbing mengikuti dari belakang.
Dosen pembimbing kaget melihat Pak Baskoro dan Bu Rahma ada di luar ruang sidang yang sedang memeluk Umaiza.
Rahman mengangguk sama dosen pembimbing.
Umaiza melepaskan pelukan Pak Baskoro dan Ibu Rahma.
"Umaiza ini ayah dan ibumu?"
"Iya, Pak. Ini Pak Baskoro dan Ibu Rahma,"
"Kampus ini sangat mengenalnya, karena Pak Baskoro ini merupakan donatur kampus,"
"Maa Sya Allah, Umaiza baru tahu, Yah,"
"Umaiza, dosen pembimbingmu ini berlebihan,"
"Pagi, Pak. Bagaimana kabarnya?" tanya dosen pembimbing, yang tidak melanjutkan membahas tentang donatur karena sepertinya Pak Baskoro tidak ingin terlalu senang kebaikannya di ketuahui semua orang termasuk Umaiza.
__ADS_1
"Baik, Alhamdulillah."
"Pantesan Umaiza pintar, ternyata anak dari Bapak dan Ibu,"
"Alhamdulillah, itu bonus untuk kami, Pak,"
Rahman dan Umaiza hanya tersenyum. Mendengar percakapan mereka.
"Bagaimana sudah selesai?"
"Sudah, Pak. Umaiza In Syaa Allah, lulus."
"Alhamdulillah, Kalau begitu kami pamit pulang dulu," ucap Pak Baskoro.
"Baik, Pak. Senang bertemu dengan Bapak,"
"Sama-sama,"
Pak Baskoro dan Rahman salaman dengan dosen pembimbing.
Umaiza dan Bu Rahma menangkupkan tangannya di depan dada.
Pak Baskoro berjalan dengan Ibu Rahma dan Rahman berjalan di samping Umaiza.
"Za, sekarang mau kemana?"
"Pulang ke rumah saja,"
"Bagaimana kalau ke mall, kita sekalian mencari buat seserahan,"
"Boleh, Kak,"
Kami menelusuri kembali lorong yang tadi kami lewati.
"Umaiza," panggil Rara dari kejauhan.
Umaiza mencari sumber suara. Suara yang sudah sangat Umaiza kenal.
Rara berlari mengejar Umaiza. Rahman yang mendengar suara dari belakang lalu membisikkan ke telinga Umaiza yang sedang celingukan. "Rara berada di belakang, Za,"
Umaiza segera membalikkan badannya ke belakang.
"Maa Syaa Allah," ucap Umaiza saat melihat penampilan Rara.
Rara segera memeluk Umaiza. Rahman tersenyum melihat kedekatan persahabatan mereka.
"Sejak kapan?"
"Selasa, bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, Baik, Rara bagaimana" ucap Umaiza.
"Alhamdulillah, baik juga."
Pak Baskoro dan Ibu Rahma sudah ada di bawah menunggu Umaiza dan Rahman.
"Sini, Umaiza kenalkan kepada ayah dan Ibu,"
"Boleh," ucap Rara.
Umaiza, Rahman dan Rara menuruni tangga.
"Bu, Yah, ini Rara. Ra ini Pak Baskoro dan Ibu Rahma."
"Pagi, Tante, Om,"
"Ini anak Rudi Antara itu, Umaiza?"
"Iya, Yah, ini sahabat Umaiza,"
"Senang bertemu denganmu, Ra," ucap Ibu Rahma.
"Rara juga senang bertemu dengan Om dan Tante,"
"Ra, masih ada kelas?"
"Masih, Umaiza. Sekarang 4 mata kuliah,"
"Ooo, kalau gitu Umaiza harus pulang dulu."
"Iya, Umaiza,"
"Rara, salam untuk ayah dan ibumu," ucap Ibu Rahma.
"Baik, Tante, nanti Rara sampaikan kepada ayah dan Ibu,"
Rara pelukan sama Umaiza lalu salaman dan mencium tangan Ibu Rahma. Rara kembali lagi ke kampus.
Pak Baskoro di telepon oleh Alifa.
"Baik, tunggu saya akan ke kantor segera," itu yang terdengar dari ucapan Pak Baskoro.
"Ada apa, Yah?" tanya Ibu Rahma.
"Alifa telepon, Bima dan Dewa mau mengundurkan diri. Jadi ayah harus ke kantor,"
"Baik, Ibu pulang bersama Umaiza dan Rahman saja."
"Iya, Rahman titip Ibu dan Umaiza ya,"
"Baik, Pak,"
Pak Baskoro berjalan dan masuk ke mobil. Rahman, Umaiza dan Ibu Rahma pun masuk ke mobil.
"Bu, Kak Rahman mau mengajak Umaiza ke Mall, Ibu mau ikut atau di antar dulu pulang ke rumah?"
"Ibu, Ikut saja sama kalian. Sekalian Ibu mau belanja bulanan,"
"Baik, Bu."
__ADS_1
Rahman menjalankan mobilnya keluar dari parkiran kampus dan melajukan mobilnya menuju mall yang terdapat beberapa butik terkenal disana. Dan beberapa langganan Ibu Rahma.