Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Umaiza Sayang


__ADS_3

Alarm hp berbunyi.


Umaiza mencoba mencari hp yang sebelum tidur di simpan di sampingnya dengan mata yang masih tertutup rapat.


"Apa itu?" tanya Rahman dengan mata masih tertutup juga


Mata Umaiza langsung terbuka dan langsung ke posisi duduk ketika mendengar suara laki-laki di sampingnya.


"Kenapa ada Kak Rahman ada disini lalu ini rumah siapa?" tanya dalam hati Umaiza kaget


Alarm hp berbunyi lagi


"Za," panggil Rahman


Umaiza masih termenung sambil mengingat-ingat kejadian kemarin.


"Za, alarm hp nya bunyi tuch," ucap Rahman lagi dengan mata yang masih tertutup.


"Astagfirullah, Za, kan sudah menikah ya kemarin sebelum Ayah meninggal," runtutan demi runtutan kejadian kemarin di putar kembali dalam ingatan Umaiza.


Alarm hp berbubyi lagi


"Umaiza sayang," panggil Rahman kembali dengan mencoba membuka matanya.


"Eh, Kakak dah bangun?" tanya Umaiza dengan senyuman khasnya yang memperlihatkan lesung pipinya.


"Iya, kirain Za, lom bangun. Ada apa kok hp nya bunyi di biarkan saja?"


"Oh, maaf. Kakak terbangun gara-gara alarm dari hp Za, ya?" Umaiza langsung mengambil hp dan mematikan alarmnya


"Iya, di panggil-panggil Za gak jawab!" duduk menyandarkan tubuhnya di tepi kasur tepat di samping Umaiza.


"Maaf, Za, tadi kaget saat mendengar suara Kak Rahman,"


"Pasti lupa iya, kalau kita sudah menikah?" sambil menoleh ke arah Umaiza dan memegang hidungnya yang mancung.


"Iya, Kak, kan namanya juga baru bangun tidur. Nyawanya belum kumpul semua jadi tidak ingat," sambil menutup mulutnya.


"Karena kita sudah bangun, kita shalat malam yuk!" ajak Rahman


Umaiza mengangguk.


"Kita shalat disini saja, ya?"


"Iya, Kak,"


Rahman pergi ke kamar mandi duluan sedangkan Umaiza ke dapur untuk mengambil air minum hangat.


Rahman keluar dari kamar mandi, Umaiza sudah berada kembali di dalam kamar.


"Ini Kak, minum dulu air hangatnya," ucap Umaiza sambil memberikan segelas air hangat kepada Rahman.


"Terima kasih, istriku,"


"Iya, suamiku, sama-sama," sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Saat Umaiza keluar dari kamar mandi, Rahman sudah menunggu sambil duduk di atas sajadah dengan menggunakan baju koko dan peci.


Umaiza mengambil mukena di dalam koper.


Sajadahnya sudah di gelar oleh Rahman.


Rahman memulai sholatnya, suaranya sangat merdu, bacaannya begitu fasih dan sesuai dengan tajwidnya. Meski surat yang di bacakan sedikit panjang-panjang namun Umaiza yang selaku makmum mendengarkan dengan tenang.


Sebelas Rakaat sudah didirikan, mereka berdo'a bersama untuk kedua orangtuanya, keselamatan dunia akhirat, rezeki yang berkah dan meminta anak yang sholeh dan sholehah.


Rahman mengambil Al-Qur'an dan mereka tadarusan bersama.


Sungguh rumah tangga yang di idamkan semua orang. Suami yang sholeh dan istri yang sholehah, bisa beribadah bersama, menikah bukan hanya sekedar di dunia namun mengaharapkan hidup bersama di akhirat kelak sehingga membuat bidadari-bidadari surga cemburu kepada mereka. Semoga setiap ujian yang menerpa rumah tangga mereka kelak bisa di hadapi bersama.


Adzan subuh berkumandang


Rahman segera berdiri untuk mendirikan shalat rawatib begitu juga dengan Umaiza.


Mereka selesai secara bersamaan

__ADS_1


Di lanjut dengan shalat subuh berjama'ah lagi.


"Kak, mau sarapan apa?" tanya Umaiza setelah mereka selesai mendirikan shalat dan dzikir.


"Apa saja yang Za, sediakan akan Kakak makan,"


"Coba Za, tengok dulu di kulkas ya, ada stok makanan apa," sambil membereskan mukena dan sajadah.


Rahman keluar kamar


"Bunda dan Ibu apakah belum bangun?" tanya Rahman dalam hati


Umaiza memakai bergo dahulu dan mengikuti Rahman keluar kamar.


"Bunda dan Ibu belum bangun ya, Kak?"


"Kakak juga menanyakan hal yang sama tadi,"


"Biarkan saja mereka istirahat, mereka dua hari kemarin kelelahan," ucap Umaiza.


"Iya, nanti saja kalau sudah rapi masaknya baru di bangunkan,"


"Iya, Kak,"


Kak Rahman keluar rumah, Umaiza pergi ke dapur. Untuk melihat ada stok makanan apa di kulkas.


Di kulkas hanya ada telur dan sayuran berupa buncis, wortel dan sosis. Beras pun tinggal sedikit lagi.


Umaiza masak sesuai stok ada, buncis, sosis, wortel di potong kecil-kecil dimasukan ke dalam telur yang sudah di kocok tidak lupa bawang daun dan penyedapnya. Beras dì cuci lalu di masak menggunakan megic com.


Ada beberapa potong roti tawar, Umaiza simpan di atas meja beserta selai nya.


Untuk minumnya Umaiza membuat teh manis hangat.


"Ibu, Bunda," panggil Umaiza sambil mengetuk kamar Ibu


Tidak ada suara di dalam


"Ibu, Bunda, bangun sudah siang," panggil Umaiza kembali.


Umaiza keluar menemui Rahman.


"Kak, Ibu dan Bunda sepertinya tidak ada di kamar,"


"Masa?"


"Iya, Kak, Za, coba ketuk pintu dari dalam tidak ada suara,"


"Coba Kakak lihat di rumah Bunda,"


Umaiza kembali lagi ke rumah, mau mencoba mengetuk kembali pintu kamar Ibu.


Ibu keluar dari kamarnya.


"Ibu, Ibu, membuat Za, khawatir. Di ketuk-ketuk pintu, dari dalam tidak ada yang menjawab,"


"Ibu lagi di kamar mandi, Nak,"


"Oh, syukurlah. Bunda kemana?"


"Bunda sudah pulang ke rumahnya, katanya mau masak dulu. Menyiapkan sarapan buat Farid dan kita,"


"Za, sudah masak juga, Bu, gimana dong?"


"Untuk menghargai Bunda, lebih baik kita makan dulu di rumah Bunda,"


"Baik, kalau begitu, Bu,"


Rahman datang dan melihat Ibu sudah rapi dan berseri kembali membuat hatinya lega.


"Za, sudah masaknya?"


"Sudah, Kak, Za, cuma masak omelet saja Kak, soalnya hanya itu yang ada," dengan wajah sedih.


"Ya, sudah kita makan saja dulu yang ada. Takutnya Za sama Ibu sudah lapar,"

__ADS_1


"Kata Ibu, Bunda sedang masak,"


"Iya, tapi kayaknya masih lama matangnya,"


"Oh, baik kalau gitu kita makan dulu yang ada ya, Bu,"


"Iya, Nak, sepertinya Nak Rahman juga sudah lapar ya," kata Ibu sambil menunjuk kepada Rahman dan tersenyum.


"Iya, Bu, kemarin kita tidak makan lagi, hanya makan di rest area saja," keluh Rahman.


Umaiza mengambil piring dan mengeluarkan nasi dalam magic com, menyimpannya ke dalam mangkok besar.


Rahman makan dengan lahapnya begitu juga dengan Ibu dan Umaiza.


Ibu benar-benar sudah mengikhlaskan kepergian Pak Baskoro.


Life is must go on, benarkan ya?


Selesai makan Ibu dan Rahman duduk di ruang keluarga, Umaiza membereskan piring bekas makan semua. Sampai rapi seperti sedia kala.


"Kak, kalau Pak Pengacara sudah kesini nanti kita ke pasar terdekat ya. Buat belanja sayuran, lauk dan beras juga. Di kulkas sudah tidak ada stok,"


"Iya, Za, kenapa tidak sekarang saja?"


"Iya, ya, benar sekarang saja. Kalau siang takut di pasarnya sudah tidak ada apa-apa. Kakak mau mengantarkan?"


"Iya, Kakak antar. Takutnya Za, belanjanya banyak nanti tidak ada yang membantu membawa belanjaannya."


"Alhamdulillah, Ibu, mau ikut?" tanya Umaiza


"Tidak, Nak, Ibu mau disini saja, mau kasih kesempatan pengantin baru buat jalan berduaan" canda Ibu


"Ah, Ibu," sambil memeluk Ibu.


"Aduh, apa ini kok meluk Ibu?"


"Memang tidak boleh?" tanya Umaiza sedih


"Sekarang Kan sudah menikah, harusnya yang di peluk itu Kak Rahman bukan Ibu," goda Ibu.


Suasana hati Ibu benar-benar sudah kembali seperti sebelum Pak Baskoro meninggal.


Rahman hanya tersenyum melihat Ibu dan Umaiza becanda.


Umaiza cemberut dengan memonyongkan mulutnya yang kecil.


"Ibu, tidak apa-apa disini saja. Ibu ingin istirahat,"


"Baik, kalau begitu nanti Rahman minta Bunda untuk temani Ibu," sambung Rahman.


"Terima kasih ya, Nak Rahman,"


"Iya, Bu, sama-sama,"


Umaiza masih cemberut.


"Anak Ibu lagi sensi ya, di becandain sedikit oleh Ibu kok marah gitu,"


"Prank, Umaiza gak apa-apa, Ibu saja yang perasa," ucap Umaiza sambil tersenyum.


Ibu dan Rahman tersenyum secara bersamaan.


"Kalau Umaiza dan Kak Rahman bermesraan di depan Ibu, nanti Ibu sedih lagi,"


"Sedih karena ayahnya tidak ada?" tanya Ibu


"Iya," jawab Umaiza sambil mengangguk.


"Orang tua akan ikut bahagia kalau melihat rumah tangga anaknya bahagia, harmonis dan saling setia," jelas Ibu.


"Alhamdulillah, Umaiza bersyukur memiliki Ibu, Kak Rahman, Bunda dan yang lainnya yang sayang sekali sama Umaiza,"


Umaiza memeluk Ibu sambil mencium kedua pipinya dan pergi ke kursi Rahman untuk memeluk dan mencium kedua pipinya juga.


Rahman kaget menerima pelukan dan ciuman dari Umaiza seketika spontan Rahman melakukan hal yang sama di tambah dengan mencium kening Umaiza.

__ADS_1


Ibu tersenyum melihat keharmonisan mereka berdua.


__ADS_2