
Pov Umaiza
Setelah makan malam, Umaiza langsung pergi ke kamar. Sebelumnya pamit dahulu kepada ayah dan Ibu.
Umaiza duduk di depan meja rias. Di pandang wajahnya dalam-dalam. Pikirannya pun melayang, ada rasa tak percaya atas apa yang terjadi dalam minggu-minggu terakhir. Dimana saat ketemu dengan Rahman, Ibu dan Ayah, skripsi serta sidang yang begitu mudahnya.
perjalanan selama 23 tahun, yang begitu berat dan tertatih-tatih untuk melewatinya. Terbayar dalam waktu yang singkat ini.
"Astagfirullah, ada apa ini?" tanya Umaiza dalam hati
"Semua ini adalah bentuk kasih sayang Allah terhadap Umaiza," lanjut Umaiza dalam hati.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Umaiza ucapkan atas semua kemudahan dan kasih sayang yang sudah Allah berikan pada hamba," bisik hati Umaiza.
Hp Umaiza berdering yang sedang ucap syukur di dalam hatinya.
Umaiza segera beranjak dan mengambilnya. Ternyata ada wa dari Kak Rahman.
π© Sedang apakah yang di sana?
Umaiza tersenyum saat membacanya lalu membalasnya.
π¨ Idih kepo
π© Kepo ke calon istri itu harusπ€
π¨ Lagi memikirkan calon suamiπ
π© Ciyus?
π¨ π€
π© Besok tidak ada acara?
Rahman tidak melanjutkan candaannya.
π¨ Belum tau Kak, lihat saja besok.
π© Kalau ada acara keluar kasih tau Kakak ya
π¨ Sudah pasti Kak
Untuk memberikan kejutan, Umaiza sengaja tidak memberi tahu Rahman, jika besok sudah mulai ngantor untuk membantu Ayah, menggantikan Pak Bima sementara waktu sebelum ada penggantinya.
π© Sudah shalat?
π¨ Baru mau Kak,
π© Selesai shalat langsung istirahat ya?
π¨ Ocre calon suaminya, Za. Kakak juga sama ya, selamat istirahat.
π© Selamat istrihat juga, calon istrinya kakak.
Hp nya di simpan, Umaiza bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu sekalian mencuci muka.
Umaiza sedikit melakukan perawatan wajah dan tubuhnya, sekaranh tidak terlalu cuek seperti di panti dulu. Karena semua keperluan skincare Umaiza sudah di sediakan oleh Ibu.
Setelah selesai semua, Umaiza keluar lalu mengambil mukena dan mendirikan shalat. Setelah selesai shalat, Umaiza tidak lupa dzikir.
Umaiza memang menyukai kerapihan jika sudah selesai melakukan kegiatan apapun, Umaiza langsung melipat, membereskan ke tempat yang biasa. Begitu pun kali ini.
Umaiza sebelum tidur tidak lupa memakai cream malam, sekarang penampilan memang harus di jaga karena sedikitnya untuk menghargai Ibu, Ayah dan Rahman.
Umaiza langsung rebahan di atas kasur, tidak butuh waktu lama Umaiza sudah terlelap.
Tepat pukul 03.45 hp Umaiza berdering. Umaiza terbangun karena hp tepat berada di samping telinga Umaiza.
Saat wa di buka ternyata dari Rahman,
π© Sudah bangunkah calon makmumnya Kakak.
Umaiza masih menyipitkan matanya sambil membaca pesan.
π¨ Baru bangun Kakπ€«π€
π© Bangun yuk, shalat sepertiga malam
__ADS_1
π¨ Iya Kak. Terima kasih sudah mengingatkan calon imamnya Za.
π© Sudah menjadi sebuah keharusan, kita saling mengingatkan. π
π¨ π
Umaiza mengakhiri wa nya. Langsung ke kamar mandi.
Umaiza mendirikan shalat malam.
Baca Qur'an
Shalat subuh
Lalu siap-siap ke Kantor.
Jam sudah menunjukkan ke angka 6.30, Umaiza segera turun takut Ayah menunggu lama. Model pakaian yang dikenakan Umaiza sederhana namun tetap terlihat berbeda karena barang branded yang di sediakan oleh Ibu.
Ayah masih belum keluar dari kamar, Umaiza pergi ke dapur untuk mengambil minum. Di rumah memangβ© ada bi Marni, namun karena sudah terbiasa mandiri, Umaiza melakukan segala sesuatunya sendiri selama merasa dirinya mampu.
"Pagi, Bi Marni,"
"Pagi, Non, sudah cantik saja. Ada yang bisa bibi bantu?" tanya bi Marni
"Tidak, Bi. Umaiza mau mengambil minum saja,"
"Mau Bibi buatkan jus atau teh manis?"
"Tidak, Bi, Umaiza minum air putih hangat saja"
"Baik, Non. Kalau butuh apa-apa, panggil bibi saja ya,"
"Siap, Bi," sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan Bi Marni di dapur.
"Putri Ibu, sudah cantik saja. Nanti Rahman gak fokus kerjanya lho," goda Ibu saat melihat Umaiza yang sedang duduk di ruang tengah sambil minum
Umaiza menoleh ke arah Ibu sambil tersenyum.
"Salah siapa, Ibu, menurunkan cantiknya kepada Umaiza," goda balik Umaiza kepada Ibu, sambil memeluknya dari belakang.
"Alhamdulillah, jadi Ibu dan Ayah tidak sulit menemukan Umaiza sayang. Saat melihat Umaiza, Ibu langsung yakin klo Umaiza anak Ibu. Ibu merasa Umaiza itu cerminan Ibu saat masih muda,"
Ibu mencoba berbalik, Umaiza melepaskan pelukannya. Dan kini Ibu sudah saling berhadapan dengan Umaiza.
"Umaiza bahkan lebih cantik dan anggun di banding Ibu," ucap Ibu sambil mengecup kening Umaiza.
"Terima kasih, Ibu." balas Umaiza mencium kedua pipi Ibu.
"Umaiza ingin dengar kisah cinta Ibu dan ayah, ya." lanjut Umaiza.
"Nanti jika ada waktu luang Ibu akan ceritakan semua nya,," jawab Ibu sambil tersenyum dan menggandeng Umaiza untuk duduk.
"Bagaimana Ibu bisa memilih ayah di banding ayah nya Rara?," Umaiza merasa penasaran
"Pastinya Ayah lebih pintar dan ganteng," sambung ayah mengagetkan kami berdua, karena keluar kamar tanpa suara.
"Iya, bu?" Umaiza tambah penasaran
"Atau Ayah yang narsis?" sambung Umaiza sambil menghampiri ayah.
"Bahasannya lanjut nanti ya, sekarang waktunya sarapan. Kalau di bahas sekarang, kalian akan telat masuk kantor. Apalagi Umaiza kan karyawan baru," Seru Ibu sambil berdiri untuk menghampiri ayah, membantu memperbaiki dasinya.
Umaiza melihat Ayah dan Ibu dengan perasaan kagum dan bangga. Setelah menikah hampir 25 tahun tetap harmonis dan saling setia. "Akankah Umaiza bisa seperti mereka?" batin Umaiza.
"Ayo kita sarapan dulu," ajak Ayah sambil merangkul kami berdua, yang memecahkan lamunan Umaiza.
"Ayo, Ayah," jawab Umaiza spontan.
Kami bertiga berjalan bersama menuju meja makan.
"Umaiza makan yang banyak, ya!" ucap Ibu
"Iya, Umaiza. Karena pasti akan banyak kerjaan takutnya nanti Umaiza lupa untuk makan,"
"Baik Ayah,"
"Rahman sudah tahu, Umaiza akan masuk kantor sekarang?" tanya Ayah
__ADS_1
"Belum, Yah, Umaiza sengaja tidak memberitahu. Umaiza ingin kasih kejutan kepada Kak Rahman,"
"Ntar, malah Umaiza yang terkejut lagi?"
"Maksud Ibu?" tanya Umaiza dengan nada menyelidik.
"Gimana kalau Rahman lagi asyik sama perempuan lain?"
"Ach, Ibu. Jangan buat Umaiza khawatir dan takut dong" dengan nada manja
"Iya, nih, Ibu. Malah membuat anaknya takut," seru Ayah.
"Tapi jika itu memang terjadi, berarti Kak Rahman bukan yang terbaik untuk Umaiza. Benar kan Ayah?," ucap Umaiza sambil tersenyum dan mencoba menenangkan hatinya. Takut apa yang Ibu ucapkan itu menjadi kenyataan, pasti hati Umaiza akan sedikit hancur.
"In Syaa Allah, Rahman, laki-laki baik, setia dan sayang banget sama Umaiza. Ibu tadi hanya mencoba menggoda Umaiza saja. Sekarang Umaiza tenang ya, sarapan yang banyak," Jelas Ibu, setelah melihat Umaiza terdiam.
"Iya, Ibu, mudah-mudahan kami bisa selalu bersama seperti Ibu dan Ayah sampai tua,"
"In Syaa Allah," ucap Ayah.
Umaiza, Ibu dan Ayah sarapan tanpa ada suara. Semua sudah faham betul bagaimana cara makan Umaiza, jadi Ayah dan Ibu pun ikut tidak pernah berbicara saat makan.
Waktu sudah menunjukkan ke angka 07.30, Umaiza dan Ayah sudah berada di dalam mobil. Mereka di antar oleh sopir.
Sebelumnya Umaiza dan Ayah pamit kepada Ibu.
"Umaiza semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan kelancaran dalam semua urusan pekerjaan," do'a Ibu sambil mengecup kening Umaiza.
"Aamiin, Ibu." mencium tangan Ibu dan kedua pipi Ibu.
"Titip Umaiza," Ucap Ibu kepada Ayah
"Sudah pasti, Bu. Umaiza anak Ayah juga kan?," jawab ayah sambil tersenyum.
Ibu mencium tangan Ayah
Ayah mencium kening Ibu
Umaiza membayangkan tentang apa yang Ibu ucapkan benar-benar terjadi. Ketika masuk kantor melihat Kak Rahman sedang menggandeng perempuan lain.
"Astagfirullah," ucap Umaiza dengan nada pelan.
Ayah tidak mendengar karena sedang asyik melihat hp.
Suara hp berdering tanda WA masuk.
Umaiza mengambil hpnya di dalam tas.
Di slide dari atas ternyata dari Rahman.
π© Calon istrinya Khairul Rahman sedang apa ya?π€
Umaiza tersenyum lihat stickernya.
π¨ Za sedang otw nih
π© Mau kemana?
π© Kok gak bilang sama Kakak kalau mau pergi
π¨ Mau menemui calon Imamnya, Zaπ€
π© Serius?
π© Kalau begitu Kakak tunggu ya, di kantor
π¨ Siyapπ
Wahai hati
Jika Kau telah tetapkan pilihanmu
Janganlah Kau Ragu tuk melangkah
Percaya adalah ujung tombak
Dalam sebuah hubungan
__ADS_1
Yakin dan teruslah melangkah