
Kami semua sudah sampai di rumah Umaiza.
Umaiza langsung menemui Ibu Rahma.
Wajah Ibu Rahma terlihat sendu dan lelah.
"Ibu, apakah pusing?" Tanya Umaiza penuh perhatian
"Iya, Nak, Ibu sedikit pusing dan lelah. Mungkin karena kurang istirahat dua hari ini," jelas Ibu Rahma
"Kalau begitu mau Umaiza antar ke kamar?"
"Ibu, belum siap masuk kamar. Pasti terbayang-bayang Ayah,"
"Kalau begitu di kamar tamu?"
Ibu Rahma menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita tinggal di rumah Rahman saja. Di sana juga ada Bunda, jadi Ibu kalau Umaiza kerja, tidak sendirian," tawar Rahman
"Iya, sekarang kan kita sudah menjadi keluarga," sambung Bunda.
"Umaiza setuju, supaya Ibu juga menemukan suasana baru,"
"Baik, Ibu ikut dengan Nak Rahman dan Umaiza. Karena kalau tinggal disini, setiap tempat, setiap sudut rumah ini. Akan mengingatkan Ibu kepada kenangan tentang Ayah," Jelas Ibu, "dari awal menikah sampai sekarang Ibu dan Ayah menjalani rumah tangga di rumah ini," lanjut Ibu.
Semua orang yang ada mendengarkan dengan seksama cerita Ibu.
"Cinta Ibu kepada Ayah begitu besarnya," Ucap Umaiza sambil memeluk Ibu.
"Sebesar Ayah mencintai Ibu," jawab Ibu dengan meneteskan air matanya.
"Sekarang Ibu mau beres-beres barang yang akan di bawa?" tanya Umaiza sambil mengalihkan pembicaraan supaya Ibu tidak sedih lagi.
Hidup terus berjalan, tugas Ayah di dunia ini sudah selesai, sehingga Allah menjemputnya untuk kembali. Sekarang tinggal kami, sebaik mungkin menyelesaikan sisa umur yang masih di miliki.
"Ibu, bisa minta tolong Umaiza yang membereskan pakaian milik Ibu!"
"Baik, Ibu. Umaiza akan membereskan baju milik Ibu, lalu milik Umaiza,"
Bunda dan Farid pamit pulang duluan, untuk beres-beres di rumah Rahman ikut bersama Pak Doris dan Ibu Aisyah.
Pak Rudi Antara, istrinya dan Rara juga pamit untuk pulang, begitu juga dengan Pak Pengacara.
"Nak Umaiza, Ibu Rahma, saya tidak ingin lama-lama menyimpan amanah, In Syaa Allah besok saya ke rumah Rahman untuk menyampaikan amanah Pak Baskoro,"
"Apakah tidak terlalu cepat?" tanya Ibu Rahma
"Lebih cepat lebih baik, Bu,"
"Baik kalau begitu, nanti besok kami tunggu di rumah Rahman,"
Bi Marni dan satpam di minta tinggal dulu di rumah, untuk menjaga dan beres-beres di rumah.
Umaiza sudah beres.
Rahman membantu memasukkan koper milik Ibu Rahma dan Umaiza ke bagasi mobil.
"Bi, jaga rumah ya!"
"Iya, Bu," dengan wajah sendu
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi saya, Umaiza atau Rahman,"
"Baik, Bu,"
"Untuk gaji dan belanja, biasa nanti saya transfer," kata Ibu Rahma.
"Makasih, Bu,"
"Kami tinggal ya, Bi," pamit Umaiza
"Titip Ibu ya, Non,"
"Pastinya, Bi, bibi jaga diri baik-baik disini,"
"Pasti Non,"
Ibu Rahma dan Umaiza masuk kamar.
Rahman sudah ada di balik kemudi.
__ADS_1
Rahman segera menjalankan mobilnya.
Satpam dan Bi Marni sama-sama menangis melihat kepergian majikannya.
Semuanya terjadi begitu cepat.
########
Bunda sedang membersihkan kamar yang kosong di rumah Rahman yang akan di jadikan kamar Ibu Rahma.
Karena sering dibersihkan juga sama Rahman, jadi debu yang ada tidak terlalu banyak sehingga mudah bersih dan rapi.
Semua barang Rahman untuk seserahan, Bunda rapikan dan di masukkan ke dalam lemari Rahman.
Rahman sudah sampai.
Semuanya langsung masuk ke rumah Rahman yang di sambut hangat oleh Bunda dan Farid.
Rahman segera mengambil koper di dalam bagasi dan membawanya ke rumah.
Umaiza bantu memasukkan koper milik Ibu ke kamarnya.
"Besar juga rumahmu, Nak,"
"Alhamdulillah, Bu,"
"Umaiza harus bersyukur, Rahman sudah mempersiapkan semuanya untukmu. Kalau Ibu dulu semuanya di mulai dari nol. Karena ayahmu tidak memiliki apa-apa dan keluarga Ibu menentang pernikahan kami," kenang Ibu
"Ibu, Umaiza juga sangat bahagia. Memilki Ibu dan Ayah, yang sangat mendukung hubungan kami. Sehingga Ayah pun tenang meninggalkan kita setelah kami sah menjadi suami istri," terang Umaiza.
"Iya, Nak. Semua yang terjadi pada kehidupan kami, menjadikannya bijaksana dan pekerja keras. Sehingga Ayah meninggalkan kita tidak dalam keadaan kekurangan," lanjut Ibu.
"Iya, Bu. Umaiza sangat sayang Ayah dan Ibu. Sekarang Ibu jangan sedih lagi, Ayah sudah tenang disana. Sekarang sedang tertidur pulas sampai hari kebangkitan nanti tiba. Ibu harus tetap tersenyum, yang kuat dan ikhlas," pinta Umaiza
"Iya, sayang. Ibu akan mencoba mengikhlaskan kepergian Ayah,"
Umaiza memeluk Ibu.
"Kak, kalau malam ini, Za, tidur bareng Ibu, gak apa-apa?" Tanya Umaiza
"Ibu biar Bunda saja yang menemaninya," sela Bunda
"Iya, Nak, Ibu tidur bareng besan saja,"
"Iya, deh. Umaiza ikut saja," Jawab Umaiza sambil tersenyum.
Ibu dan Bunda masuk kamar
Umaiza dan Rahman pun sama.
Umaiza pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan ganti baju tidak lupa membawa bergonya.
Rahman menunggu sambil membaca pesan di wa, banyak pesan di grup. Atas berita kematian Pak Baskoro.
Umaiza keluar menggunakan baju tidur dan bergonya.
Rahman tidak menyadari kalau Umaiza sudah keluar kamar mandi dan duduk di sebelahnya.
"Serius amat yang baca pesan di wa," kata Umaiza mengagetkan Rahman. Seketika Rahman menoleh dan bengong.
"Kenapa bengong, Kak?"
"Keseharian Za, memang begini ya?" tanya Rahman sambil menunjuk tubuh Umaiza dari kaki sampai kepala.
"Iya, memang ada yang aneh ya?"
"Tidur pakai bergo juga?"
"Kalau tidur sih nggak, Kak. Namun Za, belum siap saja membuka bergo di depan Kakak,"
"Siap nya kapan?"
"Nanti ya, kalau sudah siap, Za, akan buka sendiri,"
"Gimana Za, saja deh. Kakak tidak akan memaksa. Apalagi kalau minta jatah, minta di buka bergo saja tidak mau," celetuk Rahman sambil berlalu ke kamar mandi.
Deg, hati Umaiza mendengar ucapan Rahman.
Semua tubuh Umaiza sekarang sudah hak nya Rahman begitu pun sebaliknya. Semuanya mengandung ibadah kalau di lakukan dengan benar dan sesuai Qur'an hadist.
Umaiza keluar kamar, berniat menyeduhkan susu untuk Rahman dan dirinya.
__ADS_1
Saat masuk ke kamar, Rahman sudah terbaring di atas tempat tidur.
"Kak, ini susunya, minum dulu!" pinta Umaiza.
Rahman bangun dan meminum susu yang di buatkan Umaiza.
"Maafkan Za, ya, Kak. Semua butuh waktu, karena semua terjadi begitu cepat,"
"Iya, Kakak, juga minta maaf. Sudah berbicara yang tidak enak untuk di dengar,"
Umaiza mengangguk dan keluar kamar untuk menyimpan gelas.
Rahman menunggunya di dalam kamar.
Umaiza masuk.
"Ayo, kita tidur," pinta Rahman
Umaiza mengangguk, dengan rasa canggung Umaiza naik ke tempat tidur dan membaringkan badannya tepat di samping Rahman.
"Kenapa kaku gitu?" tanya Rahman
"Belum terbiasa, Kak,"
Rahman segera memeluk Umaiza, "Supaya terbiasa," bisik sekaligus goda Rahman.
Umaiza tersenyum kecut.
Rahman melayangkan kecupan kepada kening dan kedua pipi Umaiza.
Padahal hari ini beberapa kali di peluk oleh Rahman. Namun kali ini sangat beda rasanya. Ada rasa takut dan canggung.
Umaiza sampai keluar keringat dingin.
"Kenapa sayang, Za sakit?" Rahman Khawatir ketika memegang kening Umaiza basah.
Umaiza menggelengkan kepalanya.
"Za, takut sama Kakak?"
Umaiza menganggukkan kepalanya.
"Astagfirullahal adzim, Za, Kakak becanda."
Umaiza balik badan menghadap Rahman dan menangis.
"Za, sayang sama Kakak,"
"Kakak juga sama, makanya Kakak tidak akan maksa. Kakak akan menunggu Za sehat dan siap,"
"Makasih ya, Kak,"
"Tapi Kakak boleh meminta sesuatu?"
"Apa itu, Kak?"
"Buka bergonya ya, biar, Za, gak kepanasan dan nanti rambut Za, rontok lagi,"
Umaiza mengangguk dan menuruti permintaan Rahman selaku suaminya untuk membuka bergo.
Kau
adalah bidadari
yang tercipta untukku
"Maa Syaa Allah, kecantikannya yang selama ini tertutupi oleh hijab," Rahman terpesona melihat Umaiza tanpa kerudung dan bergo.
Umaiza menutup wajahnya dengan tangan
"Jangan kau tutupi sayang, kamu begitu cantik. Terima kasih sudah menutupi kecantikanmu dengan iman,"
Umaiza membuka tangannya.
Rahman mengecup kembali kening Umaiza.
Suasana sudah mencair.
Rahman tidur dengan memeluk Umaiza.
Mereka tidur dengan nyenyak.
__ADS_1