Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Rama


__ADS_3

Suara hp Umaiza berdering tanda telepon masuk.


Umaiza mengambil hp untuk mengangkat telepon, dilihat dari layar, ternyata Ibu yang menghubungi Umaiza.


"Assalamu'alaikum, Ibu." Jawab Umaiza setelah menggeser gambar telepon warna hijau


"Wa'alaikummussalaam, sedang sibuk tidak, Nak?"


"Tidak, Bu. Ada apa Ibu menghubungi Umaiza, ada yang seriuskah?" tanya Umaiza khawatir


"Tidak sayang, Ibu hanya ingin memberitahu. Kalau sudah waktunya pulang, langsung pulang ke rumah ya,"


"Baik, Ibu. Namun kita mau kemana?"


"Kita akan pergi ke tempat WO, tadi Ibu sudah menghubungi ownernya. Dan malam ini beliau ada waktu"


"Oh, Iya, Baik, Ibu. Nanti Umaiza akan pulang bareng Kak Rahman,"


"Ibu tunggu di rumah ya, assalamu'alaikum,"


"Baik, Ibu. Wa'alaikummussalaam,"


Sambungan telepon terputus


Umaiza menekan aplikasi WA lalu mengirim chat kepada Rahman


πŸ“¨ Kak, kata Ibu sore nanti kita ke WO,"


Tidak langsung dibaca


"Mungkin Kak Rahman sedang sibuk," batin Umaiza.


Sampai jam 14.30 masih belum di balas.


"Nanti saja sekalian shalat ashar, akan mampir ke ruangannya," ucap Umaiza.


Umaiza mengerjakan pekerjaan yang baru di serahkan oleh bagian pembelanjaan. Yang tak lain ternyata itu Rama yang berada di bagian tersebut.


Di dalam map di selipkan notes


"Salam kenal, teruntuk Umaiza. Izinkan aku untuk mengenalmu lebih jauh,"


Dug, hati Umaiza saat baca notes tersebut. Untuk beberapa menit, membuat Umaiza tidak fokus dalam bekerja.


"Sepertinya harus membuat rencana ini, nanti lebih lanjutnya harus di diskusikan dengan Kak Rahman," pikir Umaiza


"Kalau di biarkan takutnya akan melakukan apa yang pernah Roni lakukan ke Umaiza," sambung Umaiza.


"Bismillah," Ucap Umaiza sebelum memulai pekerjaannya.


Seketika Umaiza sudah merasa tenang.


Tidak terasa, suara adzan berkumandang dari hp, tandanya waktu ashar telah tiba.


Umaiza segera menyelesaikan pekerjaannya dan pergi shalat ke ruangan Pak Baskoro, sebelumnya Umaiza menyerahkan berkasnya kepada Rahman.


"Kak, Ini, sudah selesai ya," ucap Umaiza ketika sudah berada di ruangan Rahman.


"Iya, Za, makasih, ya,"


"Sama-sama, Kak. Oh, iya, Kak. Sore langsung pulang ya, Ibu mau mengajak kita ke tempat WO,"


"Baik, Za, Kakak tinggal memeriksa pekerjaan yang ini." sambil menunjuk ke araf map yang baru Umaiza serahkan.


"Alhamdulillah, Kalau begitu, Za, sholat ashar dulu ya,"


"Iya, baik,"


Umaiza meninggalkan ruangan Rahman.


Umaiza sengaja tidak mengambil notes yang diberikan Rama kepadanya. Biar Rahman tahu sendiri dan setelah pulang baru akan di bahas.


Umaiza melaksanakan sholat, sekalian siap-siap untuk pulang.


Umaiza meninggalkan ruangan dan menunggu Rahman di meja Alifa, sengaja untuk mencari tahu lebih banyak tentang Rama. Takut salah langkah bagaimana cara menghadapinya.


"Mbak, ada waktu sebentar?" tanya Umaiza kepada Alifa


"Iya Mbak, ada yang bisa Alifa bantu?"


"Ingin tahu tentang Rama, apakah Mbak banyak tahu tentang dia?"

__ADS_1


"Oh, Rama. Playboy kelas kakap," celetuk Alifa spontan yang diikuti dengan menutup mulut


"Apakah di kantor ini sudah banyak korbannya?" tanya Umaiza dengan wajah serius


"Banyak, Mbak, kata-katanya kan sangatlah manis, semua perempuan pasti akan luluh hatinya saat mendengarnya berbicara," sambung Alifa dengan nada yang serius juga.


"Sampai pada tidur?"


"Alhamdulillahnya tidak, Mbak. Paling hanya sampai kencan saja satu sampai tiga kali, setelah Rama meminta lebih mereka langsung menghindar karena takut apa yang terjadi sama Sandra terjadi pada mereka," jelas Alifa


"Sandra?" sambil bengong


"Iya, Sandra hampir 2 bulan lebih kencan dengannya, sampai tidur beberapa kali. Dia mengandung, Rama tidak mau tanggung jawab karena malu resign dan dikucilkan oleh keluarganya, tidak sanggup dan berakhir bunuh diri," terang Alifa


"Astagfirullah,"


"Ada sarankah, Mbak. Enaknya laki-laki seperti itu di apakan ya?" kata Umaiza sambil berfikir


"Inginnya sich d jadikan rujak saja, Mbak," jawab Alifa sedikit tersenyum


"Rujak tumbuk, ya, Mbak?" sedikit mencair


Rahman keluar dari ruangannya.


"Bantu berpikir ya, Mbak, namun ini rencana kita saja ya. Jangan ada orang lain yang tahu," ucap Umaiza sambil berbisik karena melihat Rahman sudah keluar dari ruangannya.


"Siap, Mbak," Sambil mengangguk,


"Sedang membicarakan apa ya, serius banget,"


"Rama, Kak,"


"Oh, Rama, yang ingin mengenal Za, lebih jauh lagi nih?" goda Rahman


"Ah, Kakak, siapa juga yang mau dekat-dekat dengan playboy cap kampak," sambil tersenyum.


"Masa sih?" goda Rahman lagi,


"Za, lagi ingin cari tahu kelemahannya, Kak,"


"Hati-hati nanti jatuh hati lagi,"


"Idih, na'udzubillahimindzalik, buat apa mencari bekas orang lain kalau di depan Za, ada yang masih perjaka, sholeh lagi," balik goda Umaiza kepada Rahman


Alifa tambah tersenyum lebar mendengar ucapan Umaiza.


"Sudah selesai sekarang?"


"Za, PR kan saja, ya, Mbak. Semoga senin sudah ada jawabannya. Enaknya di apain laki-laki buaya darat itu,"


"Wah, sepertinya akan ada misi nih. Kakak ikut bantu deh, nanti bisa kita diskusikan lebih lanjut lagi ya, Alifa?" ucap Rahman.


"Asyik nambah 1 lagi nih, yang satu misi," Umaiza dengan rona bahagia.


"Alhamdulillah, Mbak, sebenarnya saya ingin melakukan ini setelah kematian Sandra. Namun tidak ada perempuan yang berani,"


"Tapi kalian harus tetap hati-hati, terutama kamu, Za,"


"Selama Kakak ada di samping Za, In Syaa Allah, Za, gak kan takut," Ucap Umaiza mendekati Rahman


"Kakak akan mendukungnya kalau untuk kebaikan bersama," sambil mengelus kepala Umaiza


"Alifa juga akan mendukung dan membantu, Mbak, untuk membuat dia jera dan tidak ada lagi korban dari ucapan manisnya," sudah rapi siap untuk pulang


"Semangat," ucap Umaiza sambil tersenyum.


"Sudah beres?" tanya Rahman, "bukannya sudah di tunggu Ibu?"


"Sudah, Kak," jawab Umaiza, "Maaf, keasyikan ngobrol jadi lupa," menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.


"Saya juga sudah beres, Pak," timpal Alifa


"Kalau begitu, kita duluan ya, Alifa," kata Rahman sambil melangkah


"Iya, Mbak, Umaiza duluan, ya," sambung Umaiza,


"Iya, Mbak,"


Umaiza dan Rahman masuk lift.


Alifa masuk lift yang lainnya

__ADS_1


Karyawan yang lain sedang siap-siap untuk pulang tanpa kecuali dengan Rama.


Saat melihat Umaiza, Rama segera bergegas mendekatinya.


"Sudah menerima notes dari saya?"


Umaiza terdiam


Rahman berjalan di depannya


"Saya harap masih ada kesempatan untuk mengenalmu lebih jauh, Umaiza,"


"Lihat nanti saja, untuk saat ini, izinkan saya pulang dulu," Jawab Umaiza dengan nada tegas tanpa melirik ke arah Rama dan tetap berjalan mengikuti Rahman.


Rama mengekor di samping Umaiza.


"Mari saya antar,"


"Terima kasih, namun saat ini. Saya di perintahkan oleh Pak Baskoro untuk pulang dengan Pak Rahman," masih dengan nada tegas


"Lain waktu harus mau pulang bersama saya, ya,"


"In Syaa Allah," dengan nada pelan namun sedikit ketus.


Rahman menunggu di depan pintu lobi.


Umaiza menggandeng tangan Rahman untuk menuju ke parkiran dimana mobil Rahman berada.


Rama hanya melihat mereka bergandengan tangan dengan perasaan kecewa dan hati panas.


Rahman dan Umaiza sudah berada di dalam, Rahman berada tepat di belakang kemudi dan siap menjalankan mobilnya.


Tanpa ada kata yang keluar dari mulut mereka, Rahman masih merasakan marah. Karena merasa tidak di hargai, calon istrinya di goda dihadapannya tanpa bisa melakukan apa-apa.


Umaiza pun merasakan kemarahan Rahman, jadi tidak berani berkata apa-apa.


"Apa yang akan dilakukan, Za?" memecahkan keheningan di dalam mobil


"Ibu Rara punya restoran, bagaimana kalau kita jebak Rama saja di sana. Kebetulan dengan karyawannya juga, Za, sudah kenal."


"Terus?"


"Iya, laki-laki seperti itu pasti pikirannya kotor dan licik. Kita minta bantuan saja sama Ibu nya Rara dan karyawannya,"


"Kakak mengerti, berarti harus menemui Rara, Ibu Rara dan karyawannya,"


"Alifa sama Farid juga sepertinya harus di ikut sertakan, Kak,"


"Untuk apa?"


"Untuk bawa korban-korbannya Rama. Kalau bisa, sebelum nikah kita lakukan misi ini,"


"Kakak, setuju. Takutnya nanti di hari bahagia kita, diganggu oleh playboy cap kampak," ucap Rahman.


Umaiza tersenyum.


"Kakak minta maaf sudah su'udzon sama Za,"


"Su'udzon apa?"


"Ya, tadi saat pulang, waktu percakapan terakhir jawabannya In Syaa Allah,"


"Aaaaah, Kakak. Untuk melancarkan misi Kak, kalau langsung di tolak mentah-mentah, takut lebih nekad lagi dari Roni,"


"Benar juga, iya" mengangguk tanda setuju dengan apa yang Umaiza katakan


"Sepertinya dia memang punya kelainan deh, Kak,"


"Sepertinya,"


"Tapi Za, ingin sekali saja jalan dengannya. Harus dipikirkan masak-masak misi nya, biar langsung berhasil,"


"Iya, Kakak setuju. Karena Kakak khawatir nanti Za akan jatuh cinta lagi,"


"Kakak, buat apa cari yang lain. Kalau di samping Za, sudah ada laki-laki yang mendekati sempurna. Yang Allah kirimkan untuk Za,"


Rahman merasa tersanjung atas apa yang Umaiza ucapkan.


"Nanti kan Za, yang menyempurnakannya," celetuk Rahman sambil tersenyum.


Mereka pun tersenyum bersama dan suasana di dalam mobil lebih mencair lagi.

__ADS_1


__ADS_2