
Rahman dan Umaiza sudah sampai di rumah Bunda. Bunda menyambut Umaiza dengan senyuman. Dan mengajaknya untuk duduk. Rahman dari belakang ikut duduk.
"Kapan Umaiza sidang?"
"In Syaa Allah, besok,"
"Do'akan ya, Bunda," ucap Rahman.
"Kak, tadi Kak Umaiza masakin kakak apa, Farid lapar. Bunda masaknya sedikit, sekarang sudah habis,"
"Tadi ada sisa Farid, masih di simpan di atas meja."
"Asyik, kuncinya mana, Kak?"
"Ini, nanti jangan lupa kunci lagi. Bawa semuanya saja kesini, sekalian buat Bunda,"
"Baik, Kak,"
Farid pergi ke rumah Rahman.
"Umaiza, Bunda mau tanya,"
"Boleh, Bunda,"
"Umaiza ingin menikah, kapan?"
"Umaiza ingin dua minggu lagi, Bun. Karena lama-lama juga Umaiza takut, Bun. Kak Rahman selalu menggoda menjurus kesana, takut syetan lewat nanti terjadi sesuatu yang tidak di inginkan," keluh Umaiza.
Bunda menatap tajam ke arah Rahman.
Rahman hanya tersenyum dan menunduk.
"Rencana nikahnya dimana?"
"Di panti, Bun. Karena Umaiza tidak ingin resepsi yang mewah. Umaiza ingin yang sederhana,"
"Bunda setuju,"
"Rahman kapan mau mempersiapkan seserahan,"
"Untuk tas, Sepatu, kan sudah Rahman titip ke Bunda,"
"Iya, Ada, Tunggu sebentar Bunda ambil dulu,"
Bunda masuk ke kamar dan mengambil beberapa tas dan beberapa sepatu dan sandal untuk di coba oleh Umaiza.
"Ini, Nak. Coba dulu,"
"Kapan belanjanya, ini, Bun?" tanya Umaiza heran.
Umaiza mencoba untuk membuka satu persatu, Tas-tas branded semua, sepatunya pun sama.
"Itu semua Rahman beli setiap pulang dari dinas ke luar negeri. Bunda juga aneh dan heran. Tas dan sepatunya saja di beli, calon istrinya mana?"
Umaiza menoleh ke arah Rahman.
Rahman tersenyum.
"Rahman selalu jawab, Bu, jika sudah waktunya nanti calon Rahman akan datang sendiri ke Bunda. Dan ternyata benar, Allah pertemukan Bunda dengan Umaiza," Cerita Bunda.
Umaiza tersenyum lalu tersipu malu.
Dan mengingat kembali bagaimana, Umaiza ketemu dengan Bunda dan datang sendiri kesini untuk melihat keadaan Bunda.
Farid datang membawa makanan yang dimasak oleh Umaiza. Kuncinya di berikan kembali kepada Rahman.
"Yang mana, Nak, yang mau di bawa untuk seserahan,"
Umaiza memilih 1 tas jinjing, 1 tas selendang kecil, 1 sepatu kantor dan 1 sepatu sandal. Ukuran sepatunya pas di kaki Umaiza.
"Yang ini ya, Bun. Sisanya Bunda simpan lagi saja,"
"Ini semua milik Umaiza, Bunda hanya di amanahkan untuk menyimpan dan merawatnya, sekarang pemiliknya sudah ada."
__ADS_1
"Terimakasih, Bunda sudah menjaga dan merawatnya selama ini. Semua ini adalah bentuk kasih sayang Bunda untuk Umaiza,"
"Biar nanti di simpan di rumah Rahman saja, Bunda,"
"Iya,"
Bunda dan Umaiza kembali duduk.
"Untuk gaun, mukena, baju, kosmetik, Nanti belanja sama Umaiza saja ya, biar bisa langsung milih," ucap Bunda.
"Iya, Bunda,"
"Jangan lupa dalaman juga," tambah bunda mengingatkan.
Umaiza tersenyum, mengangguk dan langsung menunduk karena malu sama Rahman dan Farid. Itu merupakan hal pribadi bagi Umaiza.
"In Syaa Allah, Bunda, ke rumahmu hari sabtu dengan Rahman dan Farid,"
"Iya, Bun, kami tunggu,"
"Rahman untuk perhiasannya sudah diperlihatkan kepada Umaiza, siapa tahu ada yang kurang?"
"Belum, Bun."
"Kenapa ya di nanti-nanti, sekarang saja. Kapan lagi Umaiza main kesini,"
"Nanti sekalian ke panti, Umaiza pasti mampir ke Bunda. Dan pastinya Umaiza akan memasak untuk Rahman, ya, kan, Za?"
"Iya, Bun, tenang saja. Kalau semuanya sekaligus hari ini, nanti Umaiza sidangnya tidak fokus, karena membayangkan bagaimana Kak Rahman menyiapkan segala sesuatunya sebelum kenal dengan Umaiza,"
Bunda tersenyum, mendengar ucapan Umaiza. Bunda tahu kalau Umaiza memang gadis yang istimewa. Tidak memikirkan uang dan harta.
"Kak, masakannya enak sekali. Nanti kalau sudah menikah dengan Kak Rahman, Farid akan lebih sering memakan masakan kakak," ucap Farid.
"Jadi selama ini, Bunda gak enak gitu masaknya?"
"Bunda yang paling enak, sekarang ke tambah sama kak Umaiza, tambah lezat, Bun,"
"Aamiin Ya Allah,"
"Kuliah dulu yang benar,"
"Tinggal 2 semester lagi ini, tahun depan Farid bisa menyusun skripsi,"
"Sama kayak Rara ya, Kak?" tanya Umaiza ke Rahman.
"Iya,"
Melihat jam sudah setengah delapan, Umaiza pamit pulang ke bunda dan Farid. Umaiza berdiri yang diikuti oleh semuanya, Umaiza dan Rahman berjalan keluar lalu Umaiza salaman dan mencium tangan Bunda. Umaiza dan Rahman segera naik ke mobil. Bunda mengantar sampai depan pintu.
Satpam membukakan pintu gerbang. Lalu Rahman mengendarai mobilnya meninggalkan halaman rumahnya.
Jalanan sedikit sepi. Yang siang hari sangat padat oleh kendaraan, malam hanya satu dua yang melaluinya.
"Kak, pantas saja Za minta waktu dua minggu lagi, Kakak menyanggupinya. Ternyata kakak sudah mempersiapkan semuanya?"
"Iya, untung saja tidak jamuran. Hehehe," goda Rahman.
"Za, rasanya mimpi, Kak, tidak pernah terbayang sebelumnya. Memiliki orangtua yang kaya terus sekarang calon suami belum mengenal Za, tapi sudah mempersiapkan semuanya,"
"Iya, bagi laki-laki apalagi yang harus dipikirkan kalau sudah mapan," ucap Rahman.
"Apakah kakak pernah istikharah?"
"Pernah, bukan hanya sekali tapi beberapa kali, yang datang dalam mimpi kakak itu seorang gadis senyumnya sangat indah, namun wajahnya tidak terlalu jelas,"
Umaiza masih mendengarkan cerita Rahman.
"Saat pertama kali kakak melihat, Za, sedang tersenyum dengan indah. Hati kakak berdegup kencang, dari sana kakak membayangkan terus wajah Za,"
"Saat ketemu di kampus pertama kali?"
"Yaitu suatu kebahagiaan terbesar, bisa bertemu dengan Za di kampus, lalu di jalan saat Za sedang jalan kaki,"
__ADS_1
"Oooo, iya, bagian itu Za lupa, padahal itu pertama kali kita ngobrol panjang lebar,"
"Dan saat melihat Za, merawat Bunda, begitu perhatiannya, kakak tambah yakin sama Za,"
"Iya, iya," ucap Umaiza sambil mengangguk-angguk.
"Za, gak menyesalkan kenal sama kakak?"
"Menyesal, menyesal banget," sambil tersenyum.
Wajah Rahman terlihat cemas dan sedih.
"Menyesal kenapa tidak dari dulu," bisik Umaiza dengan mendekatkan bibirnya ke arah telinga Rahman.
"Sudah mulai bisa godain kakak ya," melirik ke umaiza sambil mengelus kepalanya.
"Kan, kakak, yang ngajarin," sambil tertawa dan menutup mulutnya.
"Terimakasih Za, sudah mau jadi calon istri kakak," dengan menepikan mobilnya dan menghadap ke arah Umaiza.
"Za yang terimakasih kepada Kakak, mau menunggu dan menanti Za, ini semua memang sudah di atur sama Allah. Jodoh datang di waktu yang tepat,"
"Semoga Allah meridhoi kita untuk segera halal," memijit hidung Umaiza karena gemasnya.
"Aamiin,"
Rahman melajukan kembali mobilnya.
"Kakak minta KTP, Kk dan pashpoto ya?"
"Iya, Kak. Za, tanya dulu ke ayah atau Ibu. Apa Za sudah dimasukkan ke KK mereka atau belum,"
"Iya, Za, untuk belanja kapan?"
"Minggu saja, menunggu Bunda datang ke rumah,"
"Siap, Oke, sekalian ke butik lihat-lihat baju pengantin. Dan mencari WO juga. Za, harus jaga kesehatan,"
"Iya, Kak,"
Mobil Rahman sudah sampai ke halaman rumah Pak Baskoro.
"Kakak langsung pulang ya, sudah malam. Za, langsung tidur, ini bukunya, jangan lupa besok di bawa,"
"Baik, Kak, terimakasih sudah mengantar,"
"Ini sudah kewajiban calon suami mengantarkan calon istrinya,"
"Za, masuk dulu ya, Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikummussalaam,"
Umaiza masuk ke rumah, Rahman masuk ke mobil lalu menyalakan mobilnya. Rahman menjalankan dengan kecepatan tinggi, supaya cepat sampai ke rumah. 15 menit perjalanan Rahman sudah sampai di depan gerbang dan segera masuk setelah satpam membuka gerbang.
Rahman keluar dari mobil lalu menguncinya dan berjalan menuju rumah. Rahman membuka kunci dan membuka pintu lalu masuk dan mengunci pintunya kembali.
Rahman masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya sejenak sebelum shalat isya. Apa yang terjadi tadi siang berputar di ingatan Rahman. Rahman tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian di lift tadi. Dan di kamar ini, wajah Umaiza begitu dekat dengan wajah Rahman.
"Iman Umaiza sangat kuat, Saya semakin kagum dan sayang," ucap Rahman pelan. Rahman beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk wudhu dan keluar dari kamar mandi, Rahman mengambil sajadah dan menggelarnya di dekat lemari lalu shalat.
**Hi pecinta novel 'Cinta Rahman bukan hanya sekedar Rasa' Author ucapkan terimakasih yang sudah comment**.
**Author minta maaf kalau up nya tidak konsistent**.
**Yang masih belum baca, coba dulu buka ceritanya, buka lagi, ikuti dari tiap babnya mudah-mudahan menjadi suka**.
__ADS_1