
Adzan maghrib berkumandang dan print sudah beres. Rahman menyatukan hasil print nya dan di bagi menjadi dua bagian. Dan memasukkannya ke dalam map.
"Umaiza ini di sini ya, kakak sengaja print 2. Untuk Dosen pembimbing 1, 1 lagi buat arsip. Jadi kalau beres semua tinggal photocopy."
"Iya, Kak. Terima kasih,"
"Sekarang shalat yuk!,"
"Iya Kak,"
"Ayo, kita ke mushola. Sebelumnya wudhu dulu di sana." tunjuk Rahman.
"Umaiza ingin ke air dulu, buang air kecil. Toiletnya mana?"
"Mau toilet kamar kakak atau di luar saja?"
"Yang di luar saja, kalau yang di kamar nanti kakak macam-macam lagi,"
"Suudzon saja terus sama kakak ini,"
Umaiza masuk kamar mandi dan Kak Rahman wudhu duluan lalu menunggu Umaiza di mushola. Umaiza keluar dari kamar mandi, wudhu dan menyusul Rahman ke mushola.
Mereka shalat berjama'ah. Rahman membaca surat demi surat dengan Fasih dan mereka shalat dengan khusyuk.
"Mau masak sendiri disina atau mau makan keluar?"
"Memang kakak punya apa?"
"Coba tengok sendiri di kulkas." sambil melipat sajadah.
"Siap, Kak," Umaiza melipat dulu mukenanya.
Rumahnya terlihat rapi dan bersih.
Umaiza turun dari mushola yang di ikuti oleh Rahman. Umaiza tidak sungkan membuka kulkas dan mencari bahan makanan. Umaiza melihat ada cumi dan sayurannya ada buncis, wortel dan jagung.
"Kak, Umaiza masak cumi dan orak arik jagung ya,"
"Iya, silahkan. Apakah kakak perlu bantu?"
"Tidak usah, Kak. Umaiza sendiri saja."
Umaiza memasak cumi yang di bumbu asam manis dan untuk sayurannya, yaitu buncis, wortel, jagung di orak-arik di tambah telur. Tidak butuh lama, Umaiza menyelesaikan masaknya. Umaiza segera menyimpan di atas meja makan. Dan tidak lupa membuatkan air teh hangat.
"Kak, sudah selesai," panggil Umaiza yang sebelumnya membersihkan dapur bekas masak dan mencuci wadahnya.
"Harum sekali, sepertinya enak,"
"Apa tidak akan memanggil bunda, untuk makan bersama?"
"Sepertinya bunda tadi sudah masak, mungkin lain kali saja,"
"Oh, Iya baik kalau begitu."
Rahman dan Umaiza makan bersama dan tidak ada yang mengeluarkan kata hanya suara sendok dan piring saja. Seakan Rahman sudah mengetahui kebiasaan Umaiza.
Setelah selesai makan, Umaiza membereskan piringnya. Dan sisa makannya di pindahkan ke piring yang baru.
"Kak, sisa makanannya ini bagaimana?"
"Sudah simpan saja, siapa tahu malam kakak mau makan lagi."
"Baik, Kak,"
Umaiza mencuci piring bekas makan lalu mengelap wastafel supaya kering. Dan tak lupa meja makannya.
"Kak, ke rumah Bunda yuk. Umaiza gak enak, di sini cuma berdua saja. Takutnya ada fitnah."
"Iya, ayo."
__ADS_1
Umaiza membawa barang-barangnya sekalian supaya tidak harus balik lagi ke rumah Rahman.
"Umaiza," panggil Rahman.
"Iya, Kak." Umaiza menoleh ke arah Rahman.
"Kakak sudah ingin segera melamarmu, jika sidang selesai. Izinkan kakak datang ke rumahmu, tidak harus menunggu wisuda."
Umaiza terdiam sejenak, "Baik, Kak," Umaiza setuju.
Rahman tersenyum bahagia dengan wajah yang berbinar-binar.
Umaiza pun menunduk malu.
Rahman dan Umaiza pergi ke rumah bunda. Tidak lama disana, Umaiza pamit pulang. Karena Umaiza sudah merasa sedikit lelah, beberapa hari ini tidak istirahat dengan baik untuk mengejar target skripsinya.
Rahman mengantarkan Umaiza menggunakan mobil.
"Kak, besok sebelum ke rumah sakit antar dulu Umaiza ke stopan ya?"
"Baik, mau apa?"
"Kalau hari minggu biasanya Umaiza suka bermain dengan mereka sekalian evaluasi hasil belajar mereka. Nanti kakak di kenalkan kepada mereka,"
"Baik, jam 9 ya kakak ke panti,"
"Baik, Kak,"
Memang pertemuan Rahman dengan Umaiza yang tanpa sengaja itu baru satu minggu ini, namun rasa yang dimiliki Rahman bukan hanya sekedar rasa cinta yang karena nafsu namun lebih dari itu. Sehingga Rahman ingin segera melamarnya.
Dengan akhlak dan kepribadian Umaiza yang membuat Rahman jatuh hati dan nyaman. Sosok seperti Umaiza adalah yang selama ini di inginkan Rahman.
"Terima kasih ya Allah, sudah Engkau pertemukan hamba dengan Umaiza," syukur Rahman kepada Allah.
Mereka sudah sampai di panti. Umaiza turun lalu Rahman langsung pulang. Umaiza masuk ke dalam panti.
*****
Rahman sudah sampai di rumahnya. Rahman pun segera pulang ke rumahnya untuk shalat isya.
Masuk kamar, wudhu, shalat isya dan tidur.
Keesokan harinya, Rahman bangun jam 05.00. Dilihat dari hp nya, Umaiza sudah chat.
๐ฉ pasti belum bangun.
Dilihat waktu kirim jam 03.45. Rahman tersenyum membacanya. Dan pergi ke kamar mandi untuk wudhu lalu shalat subuh.
Rahman lari-lari kecil di depan rumahnya sampai keluar keringat. Lalu istirahat sebentar dan minum ke dalam. Pergi mandi dan siap-siap untuk menjemput Umaiza.
Menghangatkan makanan yang malam di masak oleh Umaiza. Lalu makan dan menghabiskannya, mencuci piring bekas makan dan pergi menjemput Umaiza.
๐จ Maaf baru balas calon istriku, kakak kesiangan ๐, kakak bangun jam 05.00 tadi. Sekarang kakak pergi jemput Umaiza. Tunggu ya, masih tahan kan kangennya๐.
Rahman langsung menjalankan mobilnya untuk pergi ke panti. Umaiza sudah rapi menunggu di depan panti. Melihat Rahman datang Umaiza langsung berjalan dan mendekat ke mobil Rahman. Lalu naik ke mobil Rahman.
"Mentang-mentang Umaizanya sudah mau, sudah saja gitu usaha do'anya," ucap Umaiza saat mobil sudah di jalankan.
"Maaf, Kakak tidak pasang alarm,"
"Nanti kalau sudah nikah, Kakaknya susah untuk bangun shalat malam. Kakak akan Umaiza siram pakai air satu ember,"
"Nanti kasurnya basah, Umaiza jadi repot. Cape untuk beres-beres."
"Ih, kakak, kakak nanti yang jemur kasurnya, siapa suruh susah shalat malam,"
"Iya, nantikan alarmnya Umaiza, jadi kakak tidak akan pernah kesiangan,"
Wajah Umaiza di tekuk, bibirnya yang mungil terlihat lucu kalau sedang marah.
__ADS_1
"Jangan cemberut gitu, kalau cemberut nanti kakak cium,"
Umaiza diam tidak menghiraukan ucapan Rahman. Rahman pun sama fokus mengendarai mobil.
Sampai di stopan mobil Rahman di parkir di depan ruko.
Umaiza bercanda, mengobrol dan anak-anak saling curhat. Rahman terkejut melihat Umaiza begitu dekat dengan mereka. Yang sudah dijadikan kakak oleh mereka.
๐ฒ dari Ibu.
"Assalamu'alaikum. Nak, Ibu dan ayah sudah menuju rumah sakit,"
"Baik, Ibu. Umaiza segera menyusul dengan Kak Rahman,"
Telepon ditutup.
"Kak, Ibu dan ayah sudah menuju Rumah sakit. Ayo, kita menyusul."
Umaiza pamit kepada anak-anak jalanan.
Rahman dan Umaiza masuk ke dalam mobil. Dan Rahman segera menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
Umaiza selama perjalanan menuju rumah sakit nampak gelisah, seperti mengkhawatirkan sesuatu. Membuat Rahman pun ikut tegang.
"Umaiza tenanglah, serahkan semuanya kepada Allah," ucap Rahman menenangkan.
"Iya, Kak. Umaiza takut hasilnya tidak sama dengan ayah,"
"Apapun yang terjadi, itu yang terbaik menurut Allah,"
"Iya, Kak,"
Mobil Rahman pun sampai di rumah sakit. Dan mobil Pak Baskoro sudah ada di parkiran.
Rahman dan Umaiza berjalan menuju tempat yang kemarin, Bu Rahma dan Pak Baskoro sudah menunggu.
Semuanya masuk ke ruangan Dr. Leo.
"Silahkan hasilnya di lihat sendiri," ucap Dr. Leo, mendekat ke arah kami yang duduk di sofa."
Ayah membukanya, Kami semua membaca, "Bismillah,". Ayah buka kertasnya dan membaca hasilnya. "Alhamdulillah,".
Kami semua langsung sujud syukur.
" Engkau benar putriku, kemari Nak. Izinkan ayah memelukmu,"
Umaiza mendekat ke arah ayahnya.
"Ayah," Panggil Umaiza dengan memeluk ayahnya dengan erat.
"Maafkan ayah, Nak. Yang terlambat menemukanmu,"
"Sudahlah ayah, yang sudah berlalu tidak usah di sesali. Yang terpenting sekarang Umaiza sudah bertemu dengan ayah dan Ibu."
Umaiza melepaskan pelukan ayahnya, dan kini memeluk ibunya. Memeluk sangat erat dan deraian air mata dari keduanya.
Rahman dan Dr. Leo terharu melihat mereka.
"Mulai sekarang, apakah Umaiza mau tinggal bersama kami?"
"Iya, Bu. Umaiza mau,"
Kami semua pamit kepada Dr. Leo. Dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.
Ibu Rahma terus memeluk pinggang Umaiza dan Umaiza tidak melepaskan tangan ibunya sama sekali.
Sopir di suruh pulang dan Rahman mengantar ke panti untuk pamit dan membawa barang-barang milik Umaiza.
Rahman dengan senang hati bisa terus berada di sisi Umaiza.
__ADS_1