Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Kebahagiaan Berbalut Duka


__ADS_3

Umaiza dan Rahman sudah siap.


Kedua mempelai pengantin, wali nikah perempuan, 2 orang saksi sudah berada di ruangan, sekarang waktunya ijab kabul.


Yang menjadi saksi adalah Pak Rudi Antara dan Farid, untuk Wali nikah mempelai perempuan Pak Baskoro sendiri, dan penghulu nya Pak Doris.


Umaiza terlihat begitu cantik dengan menggunakan baju pengantin dengan hiasan wajah yang flawless.


Rahman seketika tidak berkedip saat Umaiza keluar dari kamar mandi, begitu juga yang lainnya.


Menikah dadakan namun tetap berusaha sesempurna mungkin karena menikah itu satu kali seumur hidup hanya cara nya saja yang berbeda.


Penghulu tidak ingin membuang waktu lagi.


"Sudah siap semuanya untuk melakukan prosesi pernikahan?" tanya Pak Doris yang berlaku sebagai penghulu.


Pak Baskoro mengangguk di ikuti oleh Rahman dan Umaiza.


Ibu Rahma setia berada di sampai Pak Baskoro.


Baca Qur'an sudah di lantunkan


Penyerahan dan sambutan sudah di lakukan


Khutbah nikah yang di sampaikan oleh Pak Doris


Sekarang saatnya ijab qabul atau akad nikah.


"Maharnya apakah sudah ada?" tanya Pak Doris


"Sudah, Pak, ini," ucap Bunda


"Baik kalau begitu saatnya akad nikah, Nak Rahman sudah hafal?"


"In Syaa Allah," Jawab Rahman


"Pak Baskoro bagaimana siap?"


"Iya, Pak," dengan suara lantang


"Bismillah, akad nikah akan segera di laksanakan. Coba Nak Rahman pegang tangan kanan Pak Baskoro,"


Ibu Rahma menggeser


Rahman pindah mendekat ke samping Pak Baskoro.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Rahman bin Yahya dengan anak saya yang bernama Umaiza dengan maskawin berupa emas logam mulia seberat 50 gram, tunai,"


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Umaiza binti Baskoro dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai." dengan suara lantang


"Bagaimana saksi, sah?" jawab Pak Doris


"Sah," jawab Farid dan Rudi Antara.


"Alhamdulillah," ucap Pak Doris


Di sambung dengan membacakan do'a.


"Untuk buku nikahnya nanti bisa di ambil di KUA ya, karena Bapak belum sempat mencatatnya," kata Pak Doris


"Baik, Pak,"


"Sekarang silahkan mendekat, kini kalian sudah sah menjadi suami istri," perintah Pak Baskoro


Rahman mendekat kepada Umaiza lalu Umaiza mencium tangan Rahman.


Rahman mencium ubun-ubun Umaiza yang kini sudah menjadi istrinya.


Bunda mendekat ke arah Umaiza dan Rahman untuk memberikan perhiasan.


Rahman mengambil cincin untuk di pakaikan di jari manis Umaiza.


Begitu pun dengan Umaiza memakaikan cincin kepada jari tengah Rahman.


Umaiza dan Rahman salaman kepada Bunda, lalu kepada Ibu Rahma dan Pak Baskoro secara bergantian. Di sambung kepada orang yang hadir disana.


"Selamat ya, Umaiza, sekarang sudah menjadi istrinya Kak Rahman. Semoga sakinah mawaddah warahman,"


"Aamiin, Ra, semoga cepat menyusul," goda Umaiza.


"Rara mau berbenah diri dulu, biar bisa mendapatkan calon suami yang sholeh kayak Umaiza," bisik Rara dengan suara pelan.

__ADS_1


"Selamat ya, Kak, dah memiliki pendamping sekarang," Ucap Farid kepada Rahman.


Pak Baskoro tersenyum lebar dan ada perasaan lega dalam dirinya.


"Rahman titip Umaiza dan Ibu ya!"


Semua menoleh kepada sumber suara.


Ibu Rahma tak terasa menangis kembali.


Umaiza berlari mendekat ke tempat tidur Pak Baskoro.


Pintu di ketuk


Rahman dengan segera membuka pintu


Ternyata pengacara Pak Baskoro yang datang.


"Bapak terima kasih sudah datang," ucap Rahman


Pak Baskoro tersenyum melihat pengacaranya datang.


"Bapak bagaimana keadaannya sekarang?"


"Alhamdulillah, saya sudah baikan, sekarang sudah merasa tenang."


"Alhamdulillah, kalau begitu. Bapak ada yang perlu saya bantu?"


"Saya yakin Bapak akan menjalankan semua amanah yang sudah saya berikan. Semoga Bapak tidak pernah meninggalkan anak dan istri saya, tetap jadi pengacara yang selalu ada untuk mereka," jelas Pak Baskoro


"In Syaa Allah Pak, selagi saya mampu," jawaban bijak pengacara.


"Alhamdulillah, saya tambah tenang," kata Pak Baskoro


Umaiza dan Ibu Rahma tetap berada di sampingnya.


"Ibu, maafkan Ayah jika selama menjadi pendamping Ibu belum bisa menjadi suami yang di harapkan Ibu." ucap Pak Baskoro, "Umaiza, Ayah minta maaf. Tidak bisa mendampingi Umaiza tumbuh kembang dan kini Ayah harus meninggalkan Umaiza dan Ibu,"


Air mata keluar lebih deras dari mata Ibu Rahma dan Umaiza.


Semua yang berada di ruangan pun ikut menangis termasuk Rahman, pengacara dan Rudi Antara.


"Ayah, Ayah tidak punya salah terhadap Umaiza begitupun dengan Ibu," ucap Umaiza di samping Pak Baskoro.


"Waktu ayah tinggal sebentar lagi, Umaiza jaga Ibu dan jadilah istri yang sholehah,"


"Iya, Yah, pasti,"


Ayah menarik nafas dalam.


Semua terkejut melihatnya kecuali Pak Doris dan Pengacara karena sudah terbiasa menyaksikan orang yang akan meninggal.


"La illaha ilallah," kata terakhir yang keluar dari bibir Pak Baskoro lalu tertidur dan menoleh ke arah kanan dengan bibir tersenyum.


Pak Doris memeriksa urat nadi Pak Baskoro.


"Sudah tidak ada, yang sabar ya Nak," ucap Pak Doris kepada Umaiza


Semua serempak mengucapkan "Inna lillahi wa inna illaihi roji'un,"


"Ayyyyaaaahhhhh," Ucap Umaiza dengan suara agak keras


Ibu Rahma hanya menangis dengan memeluk jenazah Pak Baskoro.


"Rama, kamu harus mempertanggungjawabkan," lirih dalam hati Umaiza.


Rahman segera mendekat dan memeluk Umaiza.


Di wajah Umaiza terlihat ada kemarahan dan kekecewaan.


Rudi Antara keluar untuk memanggil dokter


"Sabar ya, Za," ucap Rahman menenangkan.


"Rama harus bertanggung jawab," celetuk Umaiza sambil menangis.


Ayah


Kasihmu yang ku nanti


Baru sesaat ku terima

__ADS_1


Kini


Kau telah pergi


Hanya karena cinta


Yang dia miliki untuk Umaiza


Cinta yang bukan karena Iman


Namun karena cinta buta


Yang bernama Rama


"Rama?"


"Iya, Kak, nanti kita sama-sama lihat di CCTV mobil Ayah. Apa sesungguhnya yang terjadi," cerita Umaiza


"Baik, Kakak akan bantu untuk menyelidikinya. Sekarang Umaiza harus kuat demi Ibu," pinta Rahman


"Astagfirullah, iya, Kak, Za lupa akan Ibu," ucap Umaiza sambil melepaskan pelukan Rahman.


Dokter tiba di ruangan.


Semua yang berada di ruangan di minta untuk keluar dulu kecuali Umaiza, Rahman dan Ibu Rahma.


"Pak Baskoro sudah tidak ada, semoga kalian kuat dan sabar dalam menerima ujian ini," ucap dokter


Umaiza dan Ibu Rahma baru mengucapkan, "Innalillahi wa inna illaihi roji'un,"


"Izinkan saya untuk melepaskan alat-alat medis ini,"


"Silahkan Pak," Ucap Umaiza.


Ibu Rahma di gandeng Umaiza untuk keluar ruangan di ikuti oleh Rahman.


Jenazah Pak Baskoro di tutup oleh selimut.


"Rahman, Ibu percayakan semua urusan pemakaman ayah kepada Nak Rahman dan Umaiza" pinta Ibu Rahma


"Baik, Bu," ucap Rahman


Rahman meminta Bunda dan Farid mengantar serta menemani Ibu Rahma di rumah duka.


Umaiza dan Rahman akan mengurus administrasi dan kepulangan jenazah.


Pak Baskoro rencana akan di makamkan di tanah wakaf keluarga di Bandung.


Rara dan keluarga pamit pulang dulu dan akan kembali melayat ke rumah Pak Baskoro.


"Yang sabar ya, Umaiza. Kami masih ada untuk Umaiza dan Ibu," kata-kata Rara menghibur Umaiza.


Ibu Aisyah dan Pak Doris ikut ke rumah Umaiza.


Ibu Rahma mengikuti apa yang di katakan Rahman dan Umaiza.


Semua sudah tidak ada, hanya tinggal Umaiza dan Rahman.


Rahman meminta pihak rumah sakit untuk memandikan jenazah Pak Baskoro namun Umaiza dan dirinya ingin di libatkan.


Dokter pun menyetujuinya.


Jenazah sudah di mandikan dan di bungkus kain kafan, semuanya sudah rapi.


Semua administrasi sudah selesai.


Umaiza masuk ke ambulance, jenazah Pak Baskoro masuk dengan di ikuti oleh Rahman dan perawat.


Kami menuju rumah duka.


"Kakak, apakah pihak perusahaan akan di beritahukan tentang kabar duka ini?"


"Sebaiknya iya di kasih tahu, namun coba nanti diskusikan dengan pengacara dan Ibu,"


"Oh, iya, itu lebih baik,"


Kami sampai di rumah duka


Sudah banyak orang yang melayat, kabar ini sangat cepat menyebar.


"Apakah Ibu yang mengumumkan atas meninggalnya Ayah?" tanya dalam hati Umaiza.

__ADS_1


Rahman pun sama terkejutnya dengan Umaiza ketika melihat di depan rumah Pak Baskoro sudah di pasang tenda dan banyak orang yang memakai baju hitam-hitam.


 


__ADS_2