
Mereka berdua sampai di rumah.
Ibu sedang memasak yang telah di siapkan tadi sebelum Umaiza pergi.
"Ibu sedang apa?" tanya umaiza.
"Ibu sedang memasak yang sudah Umaiza tadi siapkan,"
"Maafkan Umaiza, jadi Ibu yang memasak,"
Rahman masuk ke rumah.
"Iya, gak apa-apa, Nak, Ibu juga dari tadi diam saja. Sudah beres urusannya?"
"Sudah, Bu, Alhamdulillaah,"
"Alhamdulillaah, kalau begitu Umaiza shalat dulu nanti kita makan,"
"Iya, Bu, terima kasih ya,"
"Iya, Ibu, kami jadi merepotkan Ibu,"
"Tidak apa-apa, Nak Rahman Ibu senang melakukannya,"
Rahman dan Umaiza masuk ke kamar. Untuk bersih-bersih dan Wudhu secara bergantian lalu sholat maghrib berjama'ah.
Selesai shalat Umaiza dan Rahman keluar lalu menuju dapur untuk membantu Ibu menyiapkan makan dan minumnya.
Mereka makan bersama di meja makan.
Ketika makan tidak ada suara sedikitpun.
"Alhamdulillaah, siap-siap buncit ini perut. Karena Ibu, Umaiza dan Bunda masaknya enak-enak," Puji Rahman.
"Alhamdulillah, Ibu senang mendengarnya," jawab Ibu.
"Iya, Ibu, Umaiza harus belajar lagi masak ini. Sepertinya Ibu jago memasak menu barat ini,"
"In Syaa Allah, jago tidak apalagi ahli. Namun Ibu bisa memasak," Ibu merendah.
"Umaiza ingin makan steak, pasti Ibu bisa," dengan nada manja.
"In Syaa Allah, nanti Ibu masak buat Umaiza,"
"Asyiiik," teriak Umaiza seperti layaknya anak kecil yang kemauannya di penuhi oleh orang tuanya.
Rahman hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Za, nanti kalau hamil jangan merepotkan Kakak sama Ibu ya," celetuk Rahman.
"Itu gak bisa di prediksi Kak, kalau lagi ngidam kan keinginan baby bukannya Za,"
"Iya, Bu?"
"Iya, Nak, Rahman. Ya pada dasarnya, mamahnya yang mau. Karena lagi hamil itu hormon tidak stabil, yang di rasa pusing, mual, jadi keinginannya suka yang aneh-aneh. Dan yang di salahin baby nya," jelas Ibu.
"Jadi yang harus di salahkan hormonnya ya?" tanya Umaiza polos.
"Iya kurang lebih seperti itu, mudah-mudahan Umaiza jika hamil nanti Allah mudahkan segala sesuatunya,"
"Aamiin, Bunda,"
Umaiza membereskan semua piring dan gelas yang kotor lalu segera mencucinya. Makanan sisa disimpan kepada tempatnya.
Umaiza ke ruang keluarga berkumpul dengan Rahman dan Ibu yang telah dulu pergi ke sana.
"Kak, Za, ada rencana mengadakan syukuran pernikahan di panti,"
"Kapan Za?"
" Setelah selesai wisuda,"
"Berarti sebulan lagi ya?"
"Iya, Kak, Bagaimana menurut Kakak,"
"Kakak setuju, Syukuran pernikahan dan kelulusan Za,"
Ibu hanya mendengarkan perbincangan mereka.
"Iya, Kak, Za, ingin mengundang anak jalanan, saudara Kakak dan saudara Za, sama beberapa kolega Ayah,"
"Iya, Kakak juga setuju. Kalau tidak sibuk kita datang langsung ke Bandung sekalian ziarah ke makam Ayah, kalau keluarga Kakak semua ada di Jakarta,"
__ADS_1
"Alhamdulillah, berarti sama dengan keluarga Ibu juga ada di Jakarta,"
"Sekarang kita fokus dulu cari karyawan, Za, untuk menggantikan posisi Alifa, Pak Bima dan Rama,"
"Yang pasti untuk posisi Ayah, Kakak yang ganti. Biar Kakak nanti Za yang ganti, sekarang tinggal posisi Rama dan Alifa, Za sih sudah minta tolong Rara dan Farid untuk membantu Za di perusahaan,"
"Kenapa kok jadi Kakak yang menggantikan Ayah, harusnya kan Za?"
Umaiza menoleh kepada Ibu.
"Tidak apa-apa Nak Rahman, ada beberapa alasan mengapa Umaiza dan Ibu mengambil keputusan itu. Demi perusahaan, Rahman kan sudah berpengalaman, terus Rahman kan suaminya Umaiza, ya harta Umaiza harta Rahman juga. Jika Ayah masih ada pasti akan sangat setuju dengan keputusan ini,"
"Innalillahi, ini amanat yang sangat besar bagi Rahman, semoga Rahman bisa menjaga dan menjalankan amanat ini. Selalu ingatkan Rahman jika suatu saat nanti melakukan kesalahan," jawab Rahman
"Iya, pasti Nak,"
"Kalau Kakak macam-macam, Za, akan jewer telinganya," Umaiza mencairkan suasana supaya tidak terlalu tegang.
"Iiiiih, takut,"
Ibu tersenyum.
"Mereka mau?" sambung Rahman lagi.
"Farid sudah mau, kalau Rara mau diskusi dulu sama orang tuanya,"
"Menurut Ibu bagaimana?"
"Ya, menurut Ibu untuk saat ini orang dekat dulu saja. Kalau mencari karyawan baru akan membutuhkan waktu dan jujur Ibu masih khawatir takut ada Rama dan Roni lain diluar sana,"
"Coba saja Rara nya di telepon,"
"Sekarang?"
"Iya,"
"Baik, Za, ambil dulu hp nya ya "
Umaiza masuk ke kamar untuk mengambil hp.
Umaiza menelepon Rara.
"Assalamu'alaikum, Umaiza," Sapa dari seberang
"Ada angin apa nih, menghubungi besty mu ini?"
"Umaiza mau menanyakan perihal minta bantuan, Ra,"
"Minta bantuan apa?" Tanya dari seberang dengan nada kaget.
"Bantu di perusahaannya Umaiza,"
"Oh, yang itu. Rara siap, ayah dan Ibu juga sudah mengizinkan. Namun bagiannya jangan dulu yang sulit ya, Umaiza kan tau gimana Rara, suka loadingnya lama," ucap Rara.
"Iya, siap,"
"Bagian staf dulu saja, Rara mau,"
"Iya, iya, besok ke kantor ya, nanti Kak Rahman akan jelaskan job desk nya,"
"Iya, siap, bawa lamaran jangan?"
"Bawa saja buat administrasi bagian HRD,"
"Siaap, besok Rara jam 07.30 sudah ada di kantor,"
"Terima kasih ya, Ra,"
"Sama-sama, tapi gaji nya jangan staf ya?" canda Rara
"Iya, deh, nanti di tambahin dari uang saku Umaiza. Di traktir sebulan sekali," balas Umaiza.
"Parah abis, lho, udah ach, Rara lagi ngerjain tugas nih,"
"Masih zaman ya, ngerjain tugas?" goda Umaiza.
"Iya deh, yang sudah lulus, ledek teruuuss" ucap Rara.
"Ya, sudah, selamat mengerjakan tugas, sampai ketemu besok di kantor,"
Sambungan telepon terputus.
"Sudah, Kak, Rara siap, tapi Rara inginnya bagian staf dulu. Takut tidak bisa membagi waktu dengan kuliahnya," jelas Umaiza kepada Rahman dan Ibu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kalau begitu. Biar Rara menggantikan Rama saja,"
"Iya, Kak, sekarang tinggal Farid,"
"Kalau Za, siap tidak untuk sementara menggantikan Alifa dan Kakak?"
"In Syaa Allah, siap, Kak, Farid biar menggantikan Pak Bima,"
"Iya, Za, setuju, bagian yang kemarin Za, kan?"
"Iya, kalau begitu Kakak menemui dulu Farid,"
"Iya, Kak,"
Rahman pergi ke rumah Bunda.
"Ibu bangga dengan Umaiza dan Rahman, sama-sama cekatan dalam mengambil keputusan, Ayah memang tidak salah mempekerjakan Rahman dan Ibu bahagia mempunyai putri yang cerdas seperti Umaiza"
"Kak Rahman kan didikan Ayah, kalau Umaiza kan anak Ayah dan Ibu. Sesuai dengan peribahasa kalau daun jatuh tidak akan jauh dari pohonnya,"
Ibu tersenyum mendengar jawaban Umaiza yang bijaksana.
Jodoh kita adalah cerminan diri kita, bagaimana Ibu Rahma dan Pak Baskoro, sekarang Umaiza dan Rahman yang saling dukung, saling menutupi dan melengkapi kekurangan dan kelebihan satu sama lain.
POV Rahman
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikummussalaam,"
"Bun, Farid ada?"
"Ada lagi di kamar,"
Farid segera keluar ketika mendengar namanya di sebut.
"Iya, Kak, ada apa?"
"Bagaimana dengan tawaran Kak Umaiza untuk gabung di perusahaan?"
"Farid siap, Kak, namun jangan menggantikan posisi Kakak ya, takutnya Farid tidak bisa membagi waktu,"
"Tenang saja, Farid akan di tempatkan di bawah divisi Kak Umaiza,"
"Kak Umaiza posisi apa?"
"Kak Umaiza akan menggantikan posisi Kakak yang kemarin, Kakak di minta untuk menggantikan Pak Baskoro,"
"Kenapa bukan Umaiza?" tanya Ibu kaget.
"Itu lah istimewanya menantu dan besan Bunda, tidak ingin melangkahi suaminya,"
"Maa Syaa Allah, jangan sampai sakiti Umaiza, Nak,"
"In Syaa Allah, kalau Rahman melukai Umaiza sama saja melukai Bunda,"
"Bawa lamaran tidak Kak,"
"Ya-iya, untuk administrasi bagian HRD. Besok jam 07.30 sudah di kantor. Meski Farid adik Kakak dan Kak Umaiza, tapi kerja harus tetap profesional ya," nasihat Rahman.
"Siaap, Kak,"
Rahman kembali ke rumah.
"Bagaimana, Kak?"
"Iya, Farid juga mau, namun sama halnya dengan Rara tidak mau di tempatkan di posisi yang sulit alasannya pun sama takut tidak bisa membagi waktu"
"Alhamdulillah," ucap Umaiza, "Apa kok bisa sama ya, jangan-jangan jodoh lagi," sambung Umaiza kaget.
Rahman, Ibu dan Umaiza kembali berbincang masalah yang lainnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, Ibu terlebih dahulu pamit untuk pergi ke kamar
Di lanjut oleh Umaiza.
Rahman masih di ruang keluarga, sedang mengecek hp.
Umaiza pergi ke kamar mandi untuk wudhu dan gosok gigi.
Shalat isya dan mengganti baju tidur model kimono, rambut di urai dan memakai minyak wangi.
Umaiza duduk di tepi kasur dengan membaca buku sambil menunggu Rahman.
__ADS_1