Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Sepuluh


__ADS_3

Sudah satu minggu Bila dan Juna tinggal bersama dirumah Juna. Bahkan Bila sama sekali belum bertemu dengan mertuanya. Setelah mereka menikah, orang tua Juna berangkat ke Singapura. Dan sampai sekarang belum juga pulang ke tanah air.


Berkali-kali Bila menanyakan tentang kabar Rizky , namun Juna selalu menghindar. Hanya menjawab singkat, katanya kondisinya masih sama saja. Pernah Bila protes kenapa nggak dibawa pulang aja kalau memang kondisinya disana masih sama saja. Arjuna hanya diam menatap sinis Bila.


Walaupun mereka sudah menikah dan hidup satu atap, satu kamar, mereka masih tetap menjaga jarak, terutama Bila. Dia masih belum menerima Arjuna sepenuhnya. Dihatinya masih berharap Rizky bisa kembali lagi padanya.


Semakin hari Bila merasa kalau Arjuna itu beda jauh dengan apa yang dikatakan oleh Rizky, kakaknya. Menurut Bila, Arjuna itu tergolong laki-laki yang cuek, sinis, dan bicara seperlunya saja. Jauh dari kata perhatian, pengertian. Meskipun begitu dia kadang juga selalu bikin Bila berdebar. Keusilan dan keisengannya Juna yang kadang bikin Bila deg-degan. Dia kadang selalu menggoda Bila ketika malam hari sepulangnya dari kerja. Hal itu tentu saja membuat Bila jadi susah untuk tidur dengan nyaman.

__ADS_1


Sebenarnya dulu Bila ingin tidurnya beda kamar. Tapi Juna menolak, karena mereka kan tinggal dirumah orang tua Juna. Untuk mengantisipasi ketika tiba-tiba orang tua Juna pulang kerumah. Satu lagi, dirumahnya ada beberapa asisten rumah tangga, mereka pasti juga disuruh ngawasin tingkah laku pengantin baru tersebut. Jadinya dengan terpaksa Bila mengikuti perintah Juna. Dan juga melaksanakan beberapa kewajiban sebagai seorang istri, seperti memasak, menyiapkan baju suami. Kecuali satu hal, berhubungan badan selayaknya suami istri. Bila berdalih dia belum siap. Lagi pula tidak ada rasa cinta diantara mereka. Bila masih terlalu berharap Rizky akan sembuh kembali. Jika sewaktu-wakti Rizky sembuh, dan akan kembali lagi padanya, kemungkinan rasa sakitnya akan lebih perih ketika Juna dan Bila berpisah kelak.


Dua minggu pun berlalu. Seperti biasanya Bila disibukkan dengan aktivitasnya ditempat kerja. Kali ini dia sedang pemotretan di luar kantor. Tepatnya didekat Pantai Anyer. Tampaklah lukisan langit karya Tuhan yang Maha Kuasa. Indah sekali dipandang mata. Semburat-semburat warna orange menghiasi langit sore hari ini. Angin sepoi-sepoi. Matahari masih terlihat, dan hampir tenggelam. Bila segera beres-beres beberapa peralatan yang dibawanya tadi, lalu memasukkannya ke bagasi mobil.


Selesai menaruh peralatan tempurnya, Bila berjalan-jalan menikmati suasana sore hari di Pantai. Teman-teman Bila yang lain dan juga modelnya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.


Ketika tengah konsentrasi mengambil foto matahari terbenam, ditangkapnya dua orang yang terlihat sedang adu pandang. Si wanita memegang tangan pria dihadapannya.

__ADS_1


Ah menyebalkan, kenapa disaat begini malah lihat orang pacaran sih... Gerutu Bila dalam hati. Cekrek. Akhirnya Bila mengabadikan momen kedua pasangan tadi di kamera milik Bila.


Kini Bila tengah terduduk, mengamati beberapa hasil karyanya di kamera. Dilihatnya satu persatu, sampai pada foto terakhir yang dia ambil tadi. Bila memicingkan matanya, menatap foto dua orang tadi. Seperti familiar dengan laki-laki ini, batin Bila. Zoom in. Dilihatnya secara seksama. Wajahnya, dan juga bajunya.


Oh shiitt... Ini kan Juna. Siapa wanita ini.


Mata Bila beralih ketempat dimana mereka tadi bertemu. Nihil. Mereka sudah pergi.

__ADS_1


Bila melirik jam tangan yang melingkar ditangannya. Sudah setengah enam sore, hampir magrib. Dia harus segera pulang. Bergegas menuju mobil yang diparkir tak jauh dari sini.


__ADS_2