
"Mesum!"
Sontak kalimat yang dilontarkan orang tersebut membuat dua orang yang sedang dimabuk cinta menoleh bersamaan. Wajah mereka bersemu merah padam saat melihat orang yang masuk keruangan Sandra tanpa permisi.
Rizky segera mundur beberapa langkah sedikit menjauh dari Sandra. Ia nampak gugup dan menjadi salah tingkah.
"Isshh kau pengacau..." Sandra mendengus kesal saat melihat Kevin yang menatap tidak suka kepada mereka berdua.
"Aku bukan pengacau, aku menyelamatkan karier kalian berdua... " Kevin tersenyum. Ia hampir saja meluapkan amarahnya, namun dia teringat jika mereka berdua sedang menjalin hubungan. Sakit sih, tapi mau bagaimana lagi. Demi melihat Sandra bahagia. Asalkan Rizky bisa membahagiakannya dan tidak mempermainkan Sandra, itu sudah cukup.
"Ehem... Aku keluar dulu, masih ada kerjaan... Bye. ."
"Kerjaan kita banyak, jangan pacaran terus..." Ledek Kevin. Sandra melirik tajam kearah Kevin.
"Makanya punya pacar, nggak kerja mulu, jadi sirik begitu kan..." Sindiran Rizky sangatlah pedih untuk kaum jomblo. Ia tergelak, begitupun Sandra.
Tiba-tiba sebuah sepatu melayang hampir mengenai kepala Rizky. Untung Rizky berhasil menangkisnya. Ia menjulurkan lidahnya pada Kevin dan segera keluar ruangan, tak lupa menutup pintu.
"Menyebalkan!" Kevin menggerutu kesal, ia mengambil sepatu sebelah yang ia lemparkan tadi kepada Rizky, dan memakainya kembali.
Sandra tertawa terpingkal-pingkal, hingga ujung matanya sedikit berair.
"Kau juga, menyebalkan.. Berhentilah tertawa sebelum aku menyumpalkan kaos kaki ku yang busuk ini kedalam mulutmu..." Seketika Sandra terdiam, berusaha menahan tawanya.
"Berapa lama kamu tidak mencuci kaos kakinya ?" Ejek Sandra.
" Baru juga tiga hari..." Kevin terkekeh.
__ADS_1
"Ihh.. parah gila..." Sandra menepuk jidatnya.
"Ada apa tiba-tiba nyelonong masuk keruanganku?" Tanya Sandra. Kevin mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi.
"Nggak jadi, tadinya mau ngajakin kamu dinner nanti malam..."
"Wah wah... kamu berani ngajakin pacar orang dinner, Tapi sayang kamu kalah cepat sama dia..." Sandra tersenyum gembira.
"Ah sial..." Kevin mendengus kesal.
"Move on lah, masih banyak cewek cakep diluaran sana..." Sandra berusaha menghibur Kevin yang sedang patah hati. Ia heran, soal urusan cinta Kevin sama-sama keras kepala, seperti dirinya. Mati-matian mengejar orang yang disukainya. Susah move on.
*****
Safira membuka pintu ruangan kerja Juna, setelah dipersilakan masuk. Ia berjalan sampai kedepan meja kerjanya. Terlihat meja kerja sedikit berantakan, karena beberapa waktu lalu ia sempat menunda-nunda pekerjaan. Alhasil kerjaan jadi menumpuk, walaupun sudah dicicil beberapa hari namun rasanya kenapa bertambah banyak, bukan malah berkurang. Berkali-kali Safira memdengar atasannya itu menggerutu kesal. Bahkan tak jarang Safira sering terkena omelannya, padahal hanya masalah sepele. Dan tentu saja, pekerjaan Safira juga ikutan banyak, bahkan sewaktu Juna menemani istrinya dirumah sakit, pekerjaan Safira meningkat berkali-kali lipat. Ia berusaha mati-matian menghandle pekerjaan Juna, walaupun ada bantuan dari orang kepercayaan Ayahnya Juna, namun tetap saja kewalahan. Bahkan pulang sampai malam, sudah capek, nggak sempat nonton drama korea kesayangannya. Uh kasian...
"Begini Pak, diluar ada Bu Aprilia, ingin bertemu dengan Anda..." Safira sedikit gelagapan saat mengatakannya, karena takut atasannya akan marah-marah lagi.
Arjuna mendengus kesal, ia mematikan laptopnya segera. Melirik arloji ditangannya. Sudah pukul 4 sore.
"Dimana dia?" Tanya Juna.
"Sudah ada didepan pak, saya menyuruhnya menunggu di lobi tapi dia tidak mau..."
Safira mengikuti langkah Arjuna yang hendak melangkah keluar ruangan.
Begitu membuka pintu yang dilihatnya pertama kali adalah Aprilia. Ia tengah duduk disebuah kursi dengan elegan. Seperti biasa penampilannya selalu terlihat modis dan seksi. Tapi menurut Juna hal itu sangat memuakkan.
__ADS_1
Selera Juna sekarang sudah berubah. Dulu Citra, mantan kekasih Juna juga hampir mirip dengan Aprilia, namun Citra sedikit lebih kalem dibandingkan dengan Aprilia. Kalem dalam hal penampilan sih ya.
"Hai..." Sapa Aprilia pada Juna, ia tampak tersenyum sumringah, seolah tak pernah terjadi apa-apa beberapa waktu lalu. Juna menatap Aprilia jengah, ia ingin segera pergi dari sini, dan pulang kerumah. Sebenarnya tadinya mau lembur , tapi karena kemunculan Aprilia yang tiba-tiba mengubah mood Juna, ia tak berminat lagi meneruskan pekerjaannya.
"Ada perlu apa?" Juna menatap Aprilia tak suka. Sedangkan Safira ,ia kembali kemeja kerjanya, melihat aura horor atasannya dibalik dinding kaca.
"Bisakah kita bicara ditempat lain, di cafe mungkin..." Ia mendekat kearah Juna.
"Stop! Berhenti disitu, jaga jarak denganku minimal 5 meter, dan satu hal lagi, aku tak mau bicara denganmu lagi, apalagi masalah pekerjaan, lebih baik kamu bicarakan saja dengan sekretarisku..." Sahut Juna geram.
"Oh kamu takut sama istrimu? Dia marah sama kamu? " Aprilia tertawa kecil. Juna hanya meliriknya kesal.
"Kudengar dia amnesia, wah mungkin itu balasan untuk orang yang telah berbuat kasar padaku waktu itu, memang pantas dia mendapatkannya...." Lagi-lagi Aprilia tertawa, tidak mempedulikan Juna yang tengah kesal, tangannya mengepal.
Kalau saja dihadapannya adalah seorang pria, mungkin pria tersebut sudah babak belur bahkan sobek mulutnya, karena melontarkan kata-kata yang tidak pantas.
"Sudah cukup! Aku tak mau mendengar celotehmu. Seharusnya aku melemparkanmu dari atas gedung waktu itu, agar kamu tak perlu muncul lagi dihadapanku sekarang..."
Safira sampai merinding mendengar perkataan Arjuna. Mengerikan sekali kalau bos nya sedang marah.
"Hahaha... Kau mana berani. Justru aku yang akan melenyapkan istrimu segera, jika kamu tak segera mengambil keputusan untuk menikah denganku, setelah kita menikah tentu saja perusahaanmu akan semakin melambung tinggi... Sedangkan istrimu, dia bisa apa, dia punya apa?"
"Aku bahkan rela menjadi istri keduamu, kalau kamu tak mau meninggallkan Salsabila..." Perlahan Aprilia mendekati Juna, ia hendak menyentuk kemeja Juna. Namun Juna segera menepisnya.
"Jangan menyentuhku. Dengar ya, mungkin istriku tak sehebat dirimu, tapi hatinya jauh lebih mulia dibandingkan denganmu, hatimu dan mulutmu itu busuk... Jangan temui aku lagi. Mengerti?"
Arjuna segera berlalu meninggalkan Aprilia, sebelum kesabarannya benar-benar habis. Sedangkan Aprilia , ia begitu kesal dengan perlakuan Juna, baru kali ini ada seorang pria yang menolaknya mentah-mentah.
__ADS_1