Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Selawe


__ADS_3

Akhirnya mereka menginap dirumah orang tua Bila. Mumpung besok hari libur, Mama meminta Bila untuk menginap semalam dirumahnya. Karena udah lama sekali sejak menikah belum pernah bertemu.


Hari sudah malam, semua penghuni rumah sudah terlelap. Termasuk Bila, yang sudah lama tak menyentuh bantal guling dikamarnya. Dia tidur mring kekanan memeluk guling kesayangannya dulu. Tapi saat ini Juna masih belu tertidur. Dia masih bermain dengan ponselnya. Lalu dia memencet tombol panggil. Entah menghubungi siapa.


"Gimana sudah ketemu belum dimana wanita itu?" Raut wajah Juna berubah pias. Dia mendengus kesal, menaruh ponselnya di meja. Lalu berbaring disamping Bila yang sudah tertidur.


Kakakku koma, dia malah hilang entah kemana. Arrgghhh. Juna.


Juna mengambil guling yang dipelukan Bila dengan perlahan. Terlepas. Lalu Juna mendekatkan tubuhnya, memeluk Bila yang tenagh tertidur pulas. Mencium bibirnya sekilas. Menatapnya dalam. Membelai rambutnya pelan. Mencium keningnya. Mengelus punggungnya. Tiba-tiba Bila terbangun. Sontak dia beringsut mundur sedikit menjauh dari Juna. Juna tersenyum jahil.


"Sebegitu menakutkannya kah aku?" Juna tergelak.


"Aku...aku... cuma nggak siap aja..." Bila masih enggan untuk berhubungan badan dengannya lagi.

__ADS_1


"Kalau aku minta,,lagi,,, kamu bakal nolak ya?" Juna langsung to the point. Memang lelaki mana sih yang bisa tahan tidur dengan seorang wanita yang sudah halal tanpa melakukan apapun. Meskipun Bila masih belum mencintai Juna, begitupun Juna yang perasaannya belum tau seperti apa. Tapi setiap kali dia melihat Bila, membuat jantungnya berdegup kencang.


Bila masih terdiam, memutar otaknya bagaimana cara menolaknya secara halus. Tapi sama sekali tak muncul alasan satupun untuk menolaknya.


Juna menggeser tubuhnya mendekati Bila. Mengelus pipinya pelan. Membuat bulu kuduk Bila merinding seketika. Tubuhnya mendadak kaku. Perlahan tangan Juna mulai menelusuri punggungnya. Tapi tiba-tiba ditepis oleh Bila. Membuat pergerakan tangan Juna terhenti. Juna memicingkan kedua matanya tak percaya. Mendengus kesal.


"Dosa loh menolak ajakan suami..."


Perkataan Juna membelalakkan mata Bila. Tenggorokannya seperti tercekat, tak bisa mengatakan apapun. Dia bersusah payah menelan salivanya. Juna masih menatapnya tajam, menunggu jawaban.


Berakhir sudah keinginan Bila untuk kembali pada Rizky. Bagaimanapun sekarang dia harus bisa menerima Juna.


Disodorkannya gelaa berisi minuman air bening kepada Bila. Dia tak menyangka setelah Bila mengatakan haus, Juna langsung keluar kamar kedapur mengambil air minum. Bila segera meneguknya, agar Juna tak curiga kalau dia sedang beralasan saja.

__ADS_1


Setelah ini ngapain. Astaga. Ya Tuhan. Segitu sayangnya sama aku kah atau memang karena udah kebelet banget sih dianya. Gumam Bila dalam hati.


Bila menaruh kembali gelas tersebut diatas meja. Dia masih duduk berselonjor diatas kasur.


"Udah?" Bila mengangguk pasrah. Terserah deh.


"Sekarang boleh ?" tanya Juna lagi sambil tersenyum. Lagi-lagi Bila mengangguk.


Juna menubruk tubuh Bila hingga jatuh telentang. **** sebagian tubuhnya. Tangannya menjadi tumpuan. Juna tersenyum mengamati wajah cantik Bila. Pertama melumat bibirnya pelan-pelan dan semakin dalam. Membuat Bila ngos-ngosan.


"Aku nggak bisa nafas..." Juna terkekeh. Tanpa mempedulikan perkataan Bila. Bibirnya beralih menelusuri leher jenjangnya, mengecupnya pelan dan menggigitnya. Meninggalkan bekas merah.


Kini mereka berdua sudah tak mengenakan kain satu helaipun. Juna semakin gencar menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Membuat Bila mendesah.

__ADS_1


Malam semakin larut, namun mereka masih asik bercumbu. Peluh keringat sudah membasahi keduanya. Setelah mencapai puncak, perlahan mata mereka terpejam. Terlelap dalam mimpi mereka masing-masing. Sambil berpelukan.


__ADS_2