Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Wolulas


__ADS_3

Sesampainya di Restoran, mereka berempat segera memesan makanan. Lima belas menit kemudian, semua pesanan makanan sudah tersaji diatas meja. Tanpa babibu mereka langsung menyantapnya dengan lahap. Laper banget bro. Hihihi.


Udang masak saus padang, udang goreng tepung, Cumi bakar rica-rica, kerang hijau saus padang, kepiting lada hitam, kepiting saus tiram. Menu pilihan mereka berempat.b


Siapa sih yang nggak ngiler sama makanan seafood. No picture ya, tambah ngiler nanti. hehe...


Bila merebahkan tubuhnya yang lelah seharian beraktivitas. Masih mengenakan baju kerja, dan belum melepas sepatunya. Matanya terpejam sambil memijit-mijit kepalanya.


Suara ketukan pintu membangunkan Bila.


"Siapa? Masuk aja..." sahut Bila didalam kamar tanpa bergerak sedikitpun. Masih mager dia.


Ceklek. Pintu terbuka, Bunda melongok mencari sosok Bila. Ternyata ada ditempat tidur.


"Kamu capek banget ya..." Seru Bunda, membuat Bila terperanjat kaget. Bila langsung merapikan diri dan duduk ditepi ranjang.


"Oh ternyata Bunda, hehe maaf bund, capek banget ,jadi mager..."

__ADS_1


Bunda duduk disamping Bila. Menghela nafas pelan.


"Bunda boleh tanya sesuatu nggak ?"


"Boleh Bund... tanya apa?"


"Kamu cinta nggak sama Juna?" Bunda menatap Bila lekat-lekat. Namun Bila mengalihkan pandangannya ketempat lain.


"Bunda tahu kamu belum bisa menerima Juna sepenuhnya,, kamu masih cinta sama Rizky?" Pertanyaan Bunda membuat jantung Bila berdenyut nyeri. Bila terdiam cukup lama, bingung harus menjawab bagaimana perasaannya. Walaupun sebenarnya Bila mulai terbiasa tanpa Rizky, tapi perasaannya belum sepenuhnya juga untuk Juna. Kalaupun Rizky sudah kembali, dia tak tahu harus bagaimana, harus senang atau sedih.


"Cobalah untuk mencintai Juna, dia juga baik seperti Rizky, hanya saja emosinya sedikit labil" Bunda menyunggingkan senyuman disudut bibirnya. Mengusap tangan Bila.


"Oh iya, katanya Juna udah beli rumah baru buat kalian, Bunda senang kalau Juna mau hidup mandiri..."


Apa!!!


Bila terbengong.

__ADS_1


"Tapi Bila betah kok di sini Bund, kalau pindah rumah nanti Bunda sama Ayah kesepian...hehe" Bila merangkul lengan Bunda, mengerucutkan bibirnya, seakan nggak rela kalau harus tinggal berdua dengan Juna. Walaupun udah pernah sih tinggal berdua satu atap dengan Juna, tapi tetap saja rasanya berbeda. Lagian Bila juga nggak terlalu bisa memasak, nanti kalau nggak ada asisten rumah tangga gimana. Bila terlihat fruatasi memikirkannya.


Bunda hanya tertawa melihat Bila merajuk seperti anak kecil.


"Anggap saja honeymoon.. Biar kalian saling mengenal satu sama lain"


Tidaaakkk!!! Aku nggak setuju.


Beberapa saat setelah obrolan mereka selesai, Bunda pamit kedapur untuk menyiapkan makan malam. Karena waktu sudah sore menjelang magrib. Bila segera mandi, karena badannya terasa lengket.


Usai mandi, Bila kaget mendapati Juna rebahan di tempat tidur hanya memakai celana kolor tanpa baju. Dadanya yang bidang, putih mulus mengingatkannya pada malam itu.


Astaga. Apasih yang aku pikirin. Hush hush hush. Gumam Bila dalam hati membuang jauh-jauh kenangannya malam itu.


Meski rebahan, tapi Juna tahu kalau Bila sudah selesai mandi. Tanpa basa-basi Juna segera melangkah masuk ke kamar mandi. Menghiraukan Bila yang sedang menyisir rambut.


Apa dia nggak bisa basa-basi dikit kek. Gerutu Bila.

__ADS_1


Seperti biasa Bila dan Juna solat magrib berjamaah. Selesai solat mereka makan malam. Gara-gara kecapekan, jadinya Bila nggak ikut nimbrung didapur sama Bunda. Untungnya mertuanya baik hati. Oh iya sekarang Bunda udah nggak sesibuk dulu, dia lebih banyakan dirumah. Segala urusan pekerjaan sudah dia serahkan kepada asistennya. Tinggal memantau dari rumah saja. Kadang asistennya yang datang kerumah membawa sejumlah laporan.


__ADS_2