
Waktu magrib telah tiba ketika Bila tengah diperjalanan pulang. Lalu dia memutuskan untuk mampir di Masjid terdekat untuk solat magrib.
Setelah selesai solat magrib, Bila bergegas pulang kerumahnya. Untungnya jalanan tak begitu macet jadi lumayan lancar perjalanannya sampai dirumah.
Ceklek.
Bila membuka pintu rumah perlahan, masuk kedalam dan menutupnya kembali. Beberapa pasang mata tertuju kearah Bila yang tengah melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Bila sempat terkejut ada 2 orang paruh baya diruang tamu, dan ada Juna juga disana. Bila berusaha untuk tetap terlihat tenang. Berjalan mendekati 2 orang paruh baya tadi, dan menyalaminya, mencium tangan mereka. Ya, mereka adalah kedua orang tua Juna. Setelah bersalaman, Bila langsung duduk disamping Juna, berhadapan dengan kedua orang tua Juna.
"Kamu tiap hari pulang jam segini terus nak?" tanya Bunda Ayana.
"Oh enggak bun... tadi ada pemotretan di luar kantor jadi memakan waktu yang cukup lama, jadinya pulang agak malem... Biasanya sih jam 4 udah pulang.." sahut Bila sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Grogi setengah mati sih iya. Soalnya baru pertama kali ngobrol sama mereka. Pas hari resepsi pernikahan cuma tebar senyum aja.
"Udah lama kamu kerja disana ?" Kini gantian Ayah yang bertanya.
"Mm... kira-kira baru dua tahunan lah.. hehe"
Ayah Juna hanya manggut-manggut sambil tersenyum.
Setelah obrolan selesai mereka melanjutkan makan malam bersama. Seperti biasa kokinya adalah Bi Surti. Jarang sekali Bila memasak didapur. Walaupun memang dasarnya Bila nggak bisa masak, tapi semenjak menikah dia sudah mau belajar sedikit demi sedikit.
Selesai makan malam, Bila dan Juna kembali ke kamar mereka.
__ADS_1
"Kenapa nggak kasih tau kalau Ayah Bunda pulang sih..." Bila berdecak sebal.
"Mana aku tahu... Aku juga baru pulang tadi, tahu-tahu mereka udah dirumah..." sahut Juna sembari melepas kemejanya.
"Terus ada kabar dari mas Rizky?"
"Dia udah sadar, tapi masih tahap pemulihan..."
Arjuna mengambil pakaian di lemari lalu bergegas ke kamar mandi.
"Hah serius??" Bila terlihat girang.
"Iya. Kenapa?" sahut Juna ketus.
"Ya seneng dong... hehe"
Bila masih tersenyum sampai Juna berlalu masuk kamar mandi. Bila merebahkan tubuhnya dikasur.
Ah bahagia banget rasanya. Gumam Bila.
Selesai mandi Bila langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Disamping Juna. Tapi masih ada pembatas diantara mereka yaitu guling. Hahaha.
__ADS_1
"Jangan pernah berfikiran aku akan menceraikanmu lalu kamu bisa kembali sama mas Rizky.." Juna memiringkan tubuhnya menatap Bila yang sedang memainkan ponselnya.
"Apa maksutmu..?" Bila terkejut setengah mati.
"Apa kata-kataku tadi kurang jelas?" Juna duduk, menyandarkan tubuhnya diatas bantal. Wajahnya terlihat serius tanpa ekspresi.
"Mana bisa begitu... Cinta sejatiku cuma untuk mas Rizky.."
"Kamu sama dia itu cuma masa lalu.. Masa depanmu sekarang adalah aku... Memang kamu punya berapa muka bisa menikah dengan kedua anak Ayah Bunda??" Intonasi suara Juna naik satu oktaf. Mendelik menatap Bila.
Matanya terlihat berkaca-kaca.
Salsabila masih terdiam, memikirkan perkataan Juna. Tangan kanannya mencengkeram kuat sprei.
Astaga.. aku sedang berhadapan dengan dua laki-laki kakak beradik. Lagian kenapa sih dulu mau-maunya dia ngikutin wasiat kakaknya. Kenapa nggak nolak aja. Toh sekarang mas Rizky udah sadar. Kalaupun nikahnya diundur aku pun tak masalah. hmm
"Memang apa yang kamu harapkan lagi dari pernikahan ini? Kita nggak saling cinta bukan? Kita nikah karena terpaksa, kalau kakakmu nggak bikin surat wasiat segala kan semua nggak jadi kayak gini.. Dan kamu.. astaga.. bukan tipeku... Tipeku tuh kayak mas Rizky, pembawaannya dewasa, baik hati, bicaranya halus, perhatian, setiap hari selalu bikin jantungku berdegup kencang tiap ketemu... pokoknya dia yang paling ngerti aku banget deh... Sedangkan kam...."
Belum sempat selesai bicara, Juna sudah mendekap Bila, menarik tengkuknya, lalu ******* bibirnya paksa. Bila terkejut, dia berusaha melepaskan diri. Namun gagal, karena Juna terlalu kuat. Perlahan lumatannya mulai melembut, dan lidahnya mulai menyusuri bagian terdalam. Cukup lama bibir mereka saling bertautan, sampai akhirnya Juna melepaskannya. Nafas Bila nampak tersengal-sengal. Baru pertama kali ia berciuman seperti ini.
"Jangan pernah membandingkan aku dengan kakakku, aku bisa saja melakukan lebih dari ini, tapi aku nggak bisa memaksamu lebih jauh lagi, jika kamu belum siap. Tapi aku bersumpah sampai kapanpun kita nggak akan pernah bercerai, aku nggak mau bermain-main dengan pernikahan. Walaupun kita nggak saling cinta, tapi cobalah untuk menerima kenyataan ini sedikit demi sedikit. Jangan pernah mengharapkan dia lagi... " Juna menatap tajam kearah Bila. Emosinya sedikit tersulut mendengar penuturan Bila tadi. Ia segera beranjak pergi meninggalkan Bila. Mengambil jaket dan kunci mobil. Juna bergegas keluar dari kamar, meninggalkan Bila yang sudah berurai air mata. Tubuhnya terasa lemas seketika. Ingin rasanya ia bertemu Mamanya, mendekapnya dan menangis sejadi-jadinya. Meluapkan segala kesedihannya. Saat ini Bila tak ada pilihan lain selain pasrah dengan keadaan ini.
__ADS_1
Halo readers, kalau ada yang baca dan bingung sama alurnya, saya mohon maaf, karena cerita ini saya rombak lagi, ada beberapa bab yang saya rubah. Karena sekitar satu bulan lebih atau malah dua bulan saya nggak pernah update, karena sibuk dengan pekerjaan saya. Sampau lupa sampai mana alurnya, dan mau dikemanain. Jadinya muncul ide baru untuk merubah beberapa bab. Hehehehe... Selamat membaca.