Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Telungpuluh Siji


__ADS_3

Aku memilih duduk didekat jendela, sambil menikmati pamandangan diluar. Disamping restoran memang dirancang sebuah taman yang indah banget. Tapi nggak sembarang bisa masuk kesana. Reservasi taman hanya untuk acara-acara tertentu, misalnya party dan lain-lain.


Sambil menanti pesanan datang , aku bermain dengan ponselku. Bermain game sebentar untuk mengusir kebosananku.


"Bisa nggak sih kalau ponselnya disimpan dulu, masa aku dianggurin?" Juna protes. Dia langsung mengambil ponselku, melihatnya sebentar lalu memasukkannya kedalam saku celananya. Aku mendengus kesal.


"Astaga... Segitunya, sambil nungguin makanan datang kan..."


"Hargai orang didepanmu dong..." potong Juna. Dia agak kesal juga. Yaudah aku langsung terdiam membisu. Juna tersenyum melihatku merengut.


"Gitu aja marah... " Juna tertawa.


Belum sempat aku membalas perkataan Juna, pelayan sudah datang bersama dengan pesananku. Tak sabar aku ingin segera menyantapnya. Melupakan kekesalanku pada Juna. Huh dia hampir mirip sama kakaknya, nggak suka kalau aku main hp pas lagi berduaan sama dia.


"Oh iya, kamu tadi siang kemana? Pas aku bangun tidur nggak ada siapapun dirumah?" Ditengah acara makan, aku jadi teringat hal itu.


"Aku diruangannya Ayah, ngobrolin perusahaan"


"Oohh... kirain kemana..."

__ADS_1


Tepat setelah selesai makan, seorang wanita menghampiri kita, lebih tepatnya menghampiri Juna. Dia langsung duduk dikursi sebelah Juna, tanpa menghiraukan keberadaan aku. Ingin rasanya ku jambak rambutnya yang panjang bergelombang. Tapi kutahan. Jaga image dong.


"Citra, ngapain kamu kesini?" Juna kaget Citra sudah duduk disampingnya.


"Loh ini kan restoran...Ya makanlah..." Citra tertawa renyah.


"Maksutku ngapain kamu duduk disini juga? Nggak lihat aku sedang makan sama istriku?"


Aku tergelak. Dia bilang istriku. Haha. Aku pasti salah dengar. Tapi nggak papa sih. Aku malah senang. Pasti mantannya itu langsung naik pitam.


"Mana? Udah selesai kok..." Sahut citra. Aku mendengus kesal.


"Eiittss jangan marah dong, anggap aja kita reunian... Udah lama nggak ketemu.. Ya kan?" Citra sedikit menekankan kalimat terakhirnya.


Namun aku hanya diam saja. Mencoba menahan emosiku yang sudah berapi-api. Kalau aku marah nanti Juna kege-eran, dikira aku cemburu sama Citra. Idiihh.


Namun Juna hanya diam saja. Dia langsung berdiri, menarik tanganku pergi menjauh dari Citra. Sebelum keluar restoran, kami mampir kekasir membayar tagihan makanan. Setelah membayar, kami langsung keluar. Aku sedikit kesal karena Juna terlalu cepat berjalan, membuat tanganku sedikit sakit dan jalanku jadi terseok-seok.


Citra menggeram kesal. Karena ditinggal begitu saja oleh Juna. Dia tampak menelepon seseorang diseberang sana. Lalu tersenyum.

__ADS_1


Tunggu saja pembalasanku. Citra.


"Stop!!" Aku berteriak kesal kepada Juna. Sekali hentakan tanganku sudah terlepas dari cengkramannya. Juna berbalik menatapku. Matanya masih tajam.


"Sakiitt tauk..." Aku meringis kesakitan, mengamati pergelangan tanganku yang sedikit memerah.


Juna mengamati tanganku yang memang agak kemerahan. Dia mengusap-usapnya pelan.


"Maaf..."


"Kenapa sih? Nggak perlu narik-narik tanganku kayak gitu kan..." protesku kesal.


"Maaf deh... habisnya aku sebel sama wanita itu..." kata Juna mengiba.


"Sebel ya sebel jangan lampiasin ke aku dong... Lagian wanita itu juga pernah mengisi hatimu kan?" Kataku hati-hati. Takut dia semakin marah. Namun Juna malah tertawa.


"Itukan dulu, sekarang enggak! " seru Juna. Aku tertawa dalam hati. Penasaran hati Juna sekarang untuk siapa. Langsung kutepis rasa penasaranku.


"Yaudah yuk pulang..." Kata Juna. Kini dia menggandeng tanganku lembut. Membukakan pintu mobil bak seorang putri. Aku tersenyum dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2