Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Patangpuluh Songo


__ADS_3

"Maya..." Kata Romi lirih, namun Citra masih bisa mendengarnya. Citra masih penasaran siapa Maya. Mungkinkah dia istrinya, pikir Citra. Ia merasa kurang tepat berada diantara mereka berdua. Suasananya sedang tidak baik. Citra hendak melangkah pergi kembali ketempat duduk semula. Namun baru membalikkan badan tangan Citra sudah didekap oleh Maya. Mereka berdua beradu pandang. Dapat dirasakan Citra kalau hati wanita dihadapannya kini tengah hancur. Menangkap basah suaminya sedang berselingkuh, terlebih malah melamar selingkuhannya dan hendak menceraikan istrinya.


Ia dapat melihat ekspresi Romi yang begitu takut melihat Maya. Mungkin takut melihat mimik wajahnya yang terlihat sangat marah. Atau mungkin juga takut kehilangan harta dan tahta.


Sebenarnya cintanya kepada Juna lebih besar ketimbang cintanya pada Romi. Romi hanya sekedar pelarian saja, terlebih ia juga kaya. Sekarang Citra tahu darimana kekayaan Romi didapat, tentu saja dari istrinya yang merupakan keturunan orang kaya.


"Kamu tahu kalau Romi sudah beristri?" Tanya Maya. Ia menatap tajam kearah Citra.


"Iya..." Citra menjawab lirih.

__ADS_1


"Lalu kenapa masih berhubungan dengannya?" Sedari tadi Maya menahan emosinya agar tidak melakukan sesuatu yang berbahaya.


"Itu... waktu itu..." Citra sedikit terbata-bata. Hendak menjelaskan namun ia takut salah ucap.


"Ini semua salahku May.. Jangan salahin Citra..." Sahut Romi. Maya menatap tajam kearah Romi. Ia berdiri menghadap Romi. Air mata mulai membasahi kedua pipi Maya. Karena sudah tak sanggup lagi membendung air mata yang sedari tadi sudah terkumpul dipelupuk mata.


"Seharusnya aku mendengarkan perkataan Ayahku dan juga kakakku dari dulu, kalau kamu itu memang laki-laki nggak bener. Kamu sudah menghancurkan perasaanku, sudah menghancurkan kepercayaanku, dan juga menghancurkan semua perjuanganku merayu keluargaku agar kita bisa menikah... " Maya sangat frustasi menerima kenyataan pahit hari ini. Hatinya hancur begitu saja melihat suami yang dulu ia perjuangkan agar mendapat restu keluarganya, kini hanya menyisakan luka yang sangat dalam. Lima tahun sudah ia bersamanya, menjalani kehidupan yang bahagia. Dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik seperti ibunya. Kini mimpi-mimpi menuju masa depan yang membahagiakan telah pupus.


"Temui aku dirumah Ayah setelah ini.. " Maya menatap tajam kearah Romi. Ia juga melirik Citra sekilas. Lalu Maya segera meninggalkan mereka berdua, keluar dari cafe dan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Maya melajukan mobilnya meninggalkan cafe dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


Setelah agak jauh meninggalkan cafe, Maya menepikan mobilnya ditepi jalan raya. Ia mematikan mesin mobilnya dan menangis sejadi-jadinya. Meluapkan segala emosinya. Maya terngiang-ngiang akan anaknya yang baru berusia 4 tahun. Masih terlihat lucu dan menggemaskan. Ia bingung bagaimana akan menjelaskan semua ini pada anak semata wayangnya.


Sebenarnya jauh-jauh hari, Maya sudah mencurigai Romi jika dia selingkuh dengan wanita lain. Suatu ketika ia mendapati ponsel suaminya terdapat pesan masuk ketika Romi sedang tidur. Ketika hendak membuka ponselnya dan memasukkan password, ternyata passwordnya sudah tak seperti dulu. Mungkin sudah diganti. Ia sempat melirik pesan masuk tersebut, pesan yang berisikan kata-kata sayang. Membuat dada Maya berdenyut nyeri. Sejak saat itulah dia mulai memata-matai suaminya. Dan kini ia memergoki suaminya tengah melamar seorang gadis, ia baru tahu tujuan Romi menikahi Maya adalah karena harta semata.


----------------------


Sementara itu di cafe masih terdengar bisik-bisik dari para pengunjung yang melihat drama rumah tangga Maya dan Romi. Mereka ada yang menyayangkan sikap Romi sebagai suami dan juga menjelek-jelekkan Citra yang berstatus sebagai pelakor.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Citra pada Romi yang masih diam mematung. Tubuhnya sedikit gemetar. Bekas telapak tangan dipipi masih agak memerah. Citra mengelus pipi Romi begitu mereka berdua duduk kembali sambil menikmati pesanan makanan yang tadi. Meskipun keduanya sama-sama larut dalam pikiran masing-masih, dan sudah tak berselera untuk memakannya. Romi sesekali menyeruput moccachino pesanannya tadi. Ia sudah tak berselera makan. Mengingat Maya yang baru pertama kali dilihatnya begitu marah sekali. Karena selama ini ia hanya mengenal Maya yang bersikapa lemah lembut dan baik hati padanya. Ternyata diamnya seseorang lebih bisa menjadi menakutkan ketika ia sedang marah besar.

__ADS_1


__ADS_2