Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Seket Wolu


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Bila merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia merogoh ponselnya didalam tas.


Aku harus segera mengirim pesan kepadanya, sebelum dia mengomeliku lagi.


Pesan terkirim. Sesuai perintah Juna tadi, kalau Bila sudah sampai dirumah ia harus segera memberitahu Juna. Namun hingga menit kesepuluh belum ada jawaban dari Juna. Lalu Bila mengirim pesan lagi. Setengah jam kemudian belum ada balasan. Bila terlihat kesal. Menyebalkan.


Bila mencoba memejamkan matanya, namun bayangan Juna masih ada dipikiran Bila. Hampir setengah jam Bila mencoba tidur namun tetap tak bisa juga.


Arrggg Arjuna menyebalkan. Bila beranjak dari tempat tidur, ia memandangi jam di ponselnya. Pantas saja aku nggak bisa tidur, aku belum solat dhuhur.


Ia segera masuk kamar mandi membersihkan diri dan berwudhu, dan melaksanakan kewajibannya.


Selesai solat ia mengamati ponselnya lagi. Belum ada balasan. Bila menghela nafas pelan.


Apa aku kekantornya saja ya. Sudah lama aku tidak kesana...


Sejurus kemudian Bila bersiap-siap, menghadap cermin, membenahi hijabnya yang sedikit berantakan. Dan memoleskan bedak tipis dan juga lipstik.


Sekarang ia sudah siap untuk kekantor Juna.


Ditengah perjalanan , ia melewati sebuah toko kue. Ia memutuskan untuk membawa kue untuk Juna. Sengaja ia tidak memberitahu Juna. Biar dia terkejut akan kedatangan Bila.

__ADS_1


Ia memilih satu cup kue brownies, setelah membayarnya ia segera masuk kemobil dan melajukan mobilnya ke kantor Juna.


*Makcruuiing. Satu pesan masuk dari Juna.


Ah dia masih ada meeting rupanya. Yasudah nanti aku langsung masuk keruangannya saja. Gumam Bila dalam hati. Ia memasukkan ponselnya lagi kedalam tas tanpa membalasnya.


Lima belas menit kemudian ia sudah sampai dikantor Juna. Tak lupa ia membawa kue yang tadi dibelinya. Sambil tersenyum Bila berjalan memasuki lobi, naik ke lift menuju ruangan Juna.


Ketika sampai didepan ruangan Juna, ia tak melihat sekretarisnya. Padahal ia hendak menanyakan perihal meeting Juna selesai jam berapa. Lima menit ia menunggu didepan meja sekretarisnya namun tak kunjung datang.


Yasudah aku tunggu didalam saja. Bila berjalan menuju ruangan Juna. Ia berhenti tepat didepan pintu. Mengambil ponselnya, ia menimang-nimang ponselnya hendak mengirim pesan untuk Juna.


Lalu ia memasukkan kembali ponselnya kedalam tas.


Bila mendorong pintu ruangan Juna, lalu menutupnya kembali. Perasaannya was was karena ia seperti mendengar suara seseorang didalam ruangan Juna. Langkahnya terhenti ketika mendapati seorang wanita, memakai rok selutut dipadukan dengan kemeja garis-garis, menampilkan keseksiannya. Juna tengah memegangi kedua tangan wanita itu diatas dada Juna. Tubuh kedua orang itu sangat dekat. Yang dilihat Bila sebelum Juna menyadari kedatangannya adalah posisi wanita itu yang memiringkan kepalanya seperti hendak mencium suaminya.


Pandangan mata Bila mulai kabur karena air mata yang mulai menggenang dipelupuk matanya. Ia menggigit bibir bawahnya mencoba menahan air mata agar tidak jatuh.


"Sayang, ini nggak seperti yang kamu fikirkan..." Setelah Juna menyadari kedatangan Bila, ia segera melepas kedua tangan Aprilia dan mendorongnya menjauh. Aprilia tersenyum sinis menatap Juna dan Bila bergantian.


Bila masih terdiam, mencerna apa yang baru saja dilihatnya.

__ADS_1


Ia mencoba menghela nafas agar emosinya terkontrol.


Dengan langkah santai , Bila berjalan mendekati Aprilia. Ia membuka cup kue tersebut dan langsung menghantamkan kue tersebut kewajah Aprilia. Bila masih menatap geram pada Aprilia. Sedangkan Juna tergelak melihat perlakuan istrinya tersebut kepada Aprilia. Juna menahan tawanya ketika tatapan sinis Bila mengarah kepadanya. Sejurus kemudian Bila menendang betis Juna kuat-kuat hingga Juna jatuh tersungkur dan mengaduh. Lalu Bila segera berlari keluar ruangan Juna sambil menangis. Air matanya sudah tak sanggup lagi ia tahan.


Diluar ruangan ia bertemu dengan Safira yang kebingungan melihat istri Juna menangis menuju ke lift. Ia hendak mencegat Bila , namun tiba-tiba Juna membuka pintu ruangannya sambil tertatih karena kakinya masih terasa sakit. Ia menatap tajam kearah Safira.


"Sedari tadi kamu ngapain saja hah?? Kenapa istriku datang kamu tidak memberitahuku!!" Juna meluapkan emosi kepada Safira.


"Maafkan saya Pak, tadi saya sedang ditoilet..." Tubuh Safira gemetar. Ia sangat takut jika bos nya itu marah.


Tanpa bicara sepatah katapun Juna berlari mengejar Bila yang sudah pergi menjauh, ia menekan tombol lift namun belum juga terbuka. Karena kesal Juna menendang pintu lift tersebut. Safira terlonjak kaget melihat bosnya marah besar. Ia kebingungan dengan apa yang barusaja terjadi diruangan Juna.


Aprilia yang masih didalam ruangan Juna mengepalkan kedua tangannya. Senyum yang sempat merekah kini sirna. Kue brownies berceceran di wajah dan kemejanya.


Sialan!!!! Pekik Aprilia dalam hati.


-------


Yang suka dengan novel karyaku mohon like dan Vote sebanyak-banyaknya yaa... Terimakasih.


Maaf typo bertebaran. Kritik dan saran boleh ya... 😃

__ADS_1


__ADS_2