
"Sudahlah diem, jangan nangis, orang-orang sedang nglihatin kita, dikiranya aku ngapain kamu... Stop plis" seru Juna mengelus punggung Citra. Perlahan tangisan Citra mulai mereda.
"Nggak perlu disesali, semua udah terjadi... Seandainya dulu kamu minta bantuanku, pasti ku bantu, memang kamu anggap aku ini apasih, kenapa malah menyelesaikan masalah sendiri..." Juna meneguk air minumnya.
"Kamu kan tahu, semua keluarga mu menentang hubungan kita, apalagi kakakmu... Aku nggak mau dianggap benalu, manfaatin kamu..." citra menahan tangisnya. Mengusap air mata di wajahnya. Menatap Juna sendu.
"Kamu itu sebenarnya baik, tapi egois, nggak mikirin perasaanku gimana.. Kalau memang cinta ya harus berjuang bersama-sama, ya sudahlah... semua udah terjadi, sekarang aku udah nikah, kita jalani hidup kita masing-masing. Semoga kamu memilih jalan yang terbaik... " Juna beranjak dari tempat duduk sambil menepuk pundak Citra pelan. Namun Citra memegang pergelangan tangan Juna, menahannya agar tidak pergi. Juna menepisnya pelan.
"Maaf kita nggak bisa kayak dulu lagi, aku harus pulang..." Juna bergegas meninggalkan Citra. Dia tampak terkejut sekaligus sedih dengan perlakuan Juna. Tak seperti dulu.
Salahkah jika aku ingin berjuang mendapatkanmu lagi. Citra.
Sesampainya dirumah, Juna mendapati Mas Hendra dan Airlangga sedang sarapan berdua.
"Loh kok cuma berdua sih, yang lain mana?" Juna keheranan.
"Tadi udah pada sarapan, kita kesiangan, jadi ketinggalan hehe..." Mahendra tersipu malu.
"Ohh... kirain pada kemana... Yaudah deh aku mandi dulu... Makan yang banyak biar gendut" sahut Juna sambil mengusap kepala Airlangga. Dia melangkahkan kakinya melewati anak tangga menuju kamarnya.
Begitu masuk kamar, dia bergegas mandi, mengambil pakaian terlebih dahulu.
__ADS_1
Lima belas kemudian Juna selesai mandi, rambutnya basah. Juna mengenakan kaos santai, dan juga celana jeans panjang.
"Mau kemana lagi?" Bila menatap Juna terlihat sedikit agak rapi.
"Kerumah baru ..." Juna merapikan rambutnya dengan sisir.
"Sekarang??" Juna mengangguk, tersenyum.
"Kenapa nggak nanti aja... Baru juga jam sembilan" Bila merengut kecewa.
"Terserah aku lah... Dilarang protes hahaa"
"Sarapan dulu gih..." sahut Bila.
"Siapin dong...hehe" Juna mengedipkan sebelah matanya, membuat Bila melotot sebal.
"Manjaaa..." lalu berlalu keluar kamar menuju dapur. Juna tertawa melihat tingkah menggemaskan Bila.
Kini Juna tengah sarapan ditemani Bila. Karena Juna yang meminta untuk ditemani. Terpaksa Bila mengiyakannya. Daripada bengong, Bila mengambil kerupuk lalu memakannya.
"Aaakkk..." Juna menyodorkan sendok berisi nasi goreng dihadapan Bila. Namun Bila menggeleng.
__ADS_1
"Ayolah..." Juna tak patah semangat, masih ingin menyuapi Bila. Terpaksa lagi Bila membuka mulutnya, menuruti kemauan Juna.
"Udah nggak usah aneh-aneh dan sok romantis..." Sambil mengunyah makanan dimulutnya. Juna hanya tersenyum.
"Ciieee ada yang romantis-romantisan..." Seru Mahendra yang tiba-tiba muncul entah darimana, tak ada yang menyadari kehadiran Mahendra. Bila mendelik kearah Mahendra.
"Apaan sih mas... lebay deh..." Lalu beranjak dari tempat duduknya dan melenggang pergi menuju kamar. Wajahnya merah merona. Malu.
Juna dan Hendra tertawa cekikikan.
"Semangat yaa..." Kata Mahendra pada Juna.
"Siap!" sahut Juna.
Kini mereka tengah berpamitan dengan Mama dan kakaknya. Karena akan pindah rumah. Rumah baru mereka nggak terlalu jauh dari tempat kerja Bila.
Bila memeluk Mamanya agak lama.
"Hati-hati ya sayang... Baik-baik ya disana... Inget, patuh apa kata suami..." sahut Mama. Bila melirik sekilas kearah Juna. Lalu bergantian memeluk Mahendra dan Marissa, tak lupa memeluk sikecil Airlangga. Juna bersalaman dengan Mama dan mencium punggung tangannya. Lalu bersalaman dengan kakak iparnya. Dan juga Airlangga. Sebelum berangkat , Juna memberikan sebuah mainan mobil-mobilan untuk Airlangga. Anak itu tersenyum senang karena punya mainan baru.
Sesaat kemudian mobil Juna telah melesat meninggalkan halaman rumah Orang tua Bila.
__ADS_1