
Sementara itu didalam ruangan Juna sudah ada seorang wanita yang tengah duduk di Sofa. Menyilangkan kakinya dengan anggun. Menatap sendu si pemilik ruangan. Juna duduk dihadapan Citra, dibatasi oleh meja. Tangannya bersedekap, raut wajahnya menampakkan kekesalan. Hampir lima belas menit ruangan masih sunyi tak ada pembicaraan.
Citra mengambil gelas berisi minuman yang ada dimeja. Meneguknya. Matanya kembali menatap Juna yang masih cuek.
"Sayang... Aku kan udah minta maaf sama kamu.. kenapa sih kamu masih nyuekin aku... " Citra mulai membuka obrolan.
Juna menghela nafas, merebahkan kedua tangannya.
"Aku udah nggak mau bahas itu lagi... Kalau cuma itu yang mau kamu omongin lebih baik kamu keluar dari sini..." sahut Juna mendelik kearah Citra. Namun citra malah tersenyum.
"Sayaaang.. aku tau kamu masih terbakar cemburu... Aku minta maaf... Aku khilaf waktu itu..."
"Khilaf?? Apa kamu pikir aku buta? Jelas-jelas aku memergokimu sedang dikamar hotel bersama lelaki brengsek itu" Setengah berteriak. Matanya mulai memerah karena kesal.
"Kamu salah paham,, aku nggak ngapa-ngapain sama dia..."
__ADS_1
"Stop! Nggak usah berkelit lagi... Aku punya bukti video kamu sedang mesum dengan lelaki brengsek itu..." Juna melemparkan sebuah flasdisk didepan wajah citra. Kini citra terdiam, wajahnya pucat. Kaget, tentu saja. Kenapa Juna bisa tahu, gumam Citra dalam hati.
"Tanpa sepengetahuanmu aku udah nyewa orang untuk buntutin kamu, kemanapun kamu pergi, ngapain aja... Citra, kamu nggak usah nemuin aku lagi, aku udah muak dan jijik lihat mukamu! " bentak Juna. Lalu Juna mengambil ponsel milik Citra, membuka galeri dan menghapus semua foto Juna, dan juga menghapus foto profile di Whatsapp. Menaruhnya kembali dimeja.
"Sekarang kamu atau aku yang keluar dari ruangan ini??" Citra terdiam, sudah tak bisa berkelit lagi. Tak bisa berkata-kata lagi. Hanya air matanya yang bisa mewakili perasaannya saat ini. Dia menyadari dirinya sungguh telah berdosa menghianati Juna. Tapi hatinya masih mencintainya, masih ingin memilikinya.
"Oke biar aku yang pergi, nikmatilah waktumu disini sesukamu..." Juna membalikkan badannya, melenggang pergi meninggalkan citra. Namun baru beberapa langkah, Citra mendekap tubuhnya dari belakang, menangis sesenggukan. Juna mencoba melepaskan pelukan Citra, namun tak bisa karena terlalu erat.
Salsabila.
Bila tengah memarkirkan mobilnya di kantor Juna.
Bila memasuki kantor, dan menemui resepsionis.
"Permisi mbak, mau tanya ruangan Juna dimana ya?" Perempuan berparas cantik nan anggun dihadapan Bila tampak mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Pak Arjuna maksutnya?" sahut mbak cantik penjaga resepsionis.
"Nah... iya iya betul" Bila menjentikkan jarinya dan tersenyum.
"Anda sudah buat janji? Sepertinya tadi sedang ada tamu, kalau tidak salah pacarnya Pak Arjuna..."
Bila sontak terkejut dengan pernyataan resepsionis barusan. Tapi dia berusaha menenangkan diri.
"Ohh oke, saya cuma mau mengembalikkan ponselnya yang tertukar dengan ponselku tadi.. Bisakah tunjukkan dimana ruangannya?"
Penjaga resepsionis tadi akhirnya menunjukkan arah ruangan Juna. Lantai paling atas.
Kenapa sih harus lantai paling atas. Huh.
Sesampainya dilantai paling atas. Bila segera menuju ruangan Juna.
__ADS_1
Ceklek. Bila membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dia mau memastikan apakah benar yang datang memang pacarnya. Atau Citra yang telepn tadi pagi adalah pacarnya. Jadi dia selingkuh.
Bila menghela nafas pelan, mengatur hati dan pikirannya agar tetap tenang. Diliriknya kanan kiri, ruangannya tampak luas sekali. Pandangan matanya terhenti ketika melihat sepasang makhluk Tuhan yang paling indah sedang berpelukan. Posisi si perempuan memeluk Juna dari belakang. Sepertinya sedang menangis.