
Pagi ini sedikit santai, jadi aku bisa mempersiapkan segala kebutuhan Juna. Dari pakaian, dasi, jas, tas, sepatu, kaos kaki. Aku terduduk ditepi ranjang, mengamati Juna yang tengah memakai kemejanya. Dia tampak terburu-buru. Siapa suruh ikutan tidur. Aku terkekeh dalam hati. Biasanya kan dia selalu bangun pagi, solat subuh dan nggak pernah tidur lagi, paling jogging sebentar diarea dekat-dekat rumah.
"Pakein dong, gara-gara buru-buru malah nggak bisa-bisa masangnya nih..." Raut wajah Juna sedikit dongkol. Gimana enggak. Udah hampir jam 8 dan dia belum berangkat ke kantor. Walaupun perusahaan sendiri, tapi prinsip dia berangkat pagi agar nggak pulang kemalaman. Biar nggak lembur. Kulangkahkan kakiku menghadap Juna. Tinggiku hanya sebatas dagunya. Kupasangkan dasinya. Semerbak harum wangi parfumnya menusuk hidung. Bikin wanita jadi klepek-klepek. Haha. Deru nafasnya memburu.
"Udah..." kataku sambil merapikan sejenak. Aku tersenyum puas, untung aku bisa pasang dasi.
Juna merengkuh pinggangku, merapatkan tubuhku. Lalu dia mengecup keningku, dan juga bibirku lembut.
"Terimakasih..." Juna tersenyum manis. Aku membalas senyumnya.
"Yaudah, sarapan dulu gih..." kataku, melepaskan tangan Juna yang masih melingkar dipinggangku.
"Aku nggak sarapan deh, nanti aja di kantor, udah siang nih.." kata Juna melirik arloji dipergelangan tangannya.
__ADS_1
"Eh yaudah aku bawain bekal aja ya, nanti dimakan dikantor," Aku melenggang pergi meninggalkan kamar menuju dapur. Juna mengekor dibelakangku.
Kuambil kotak bekal makan didapur, dam mengisinya dengan roti selai nanas dan juga mengupas beberapa buah. Juna masih mengamatiku, sambil sesekali melirik arlojinya. Tak memakan waktu lama, packing bekal untuk Juna sudah selesai. Kuberikan pada Juna.
"Makasih ya..." Juna tersenyum.
"Sama-sama. Hati-hati dijalan... Jangan lupa dimakan ya.." Juna mengangguk, lalu berpamitan padaku.
"Kamu nggak kerja?" Tanya Juna, membuatku gugup dan panik.
"Iya nanti..." Kataku berbohong. Duh kenapa sih nggak jawab jujur aja. Astaga. Mungkin momennya kurang tepat kali ya.
"Oh yaudah.. " Juna masuk kedalam mobil. Mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah. Aku bernafas lega. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana nasibku kedepannya kalau tidak bekerja. Masa dirumah terus. Mau ngapain coba. Kalau kerumah Mama, nanti pasti ditanyain macam-macam. Ah yaudah deh hari ini dirumah aja, sambil cari lowongan pekerjaan, barangkali ada yang cocok. Aku masuk kembali kedalam rumah. Mampir kedapur sebentar. Membuat segelas susu, dan mengambil beberapa roti dan selai nanas. Kubawa kemeja makan, dan menyantapnya.
__ADS_1
Beginikah nikmatnya dirumah tanpa terbebani pekerjaan. Aku tersenyum kecut.
"Loh, kok mbak Bila masih dirumah? Nggak kerja mbak?" Tanya Bi Munmun yang kebetulan lewat dapur. Dia melihatku penuh keheranan. Aku meringis malu.
"Lagi nggak enak badan Bi...hehe" kataku berbohong lagi. Lama-lama kebohonganku menumpuk banyak ini.
"Ohh gitu... Mau diantar kerumah sakit, atau dipanggilin dokter?" Raut Bi Munmun terlihat khawatir. Aku menggeleng pelan.
"Atau jangan-jangan Mbak Bila sedanv hamil muda ya? Apa disertai mual-mual juga? pusing? Atau gimana?" Aku syok dengan penuturan Bi Munmun. Mana mungkin aku hamil, kalau aku masih KB.
"Enggak Bi... cuma nggak enak aja badannya, sakit semua ini badan..." Kataku meyakinkan Bi Munmun.
"Oh gitu mbak... Yaudah nanti kalau ada apa-apa bilang sama Bibi ya.." Seru Bi Munmun, lalu dia pergi meninggalkan aku sendiri didapur. Aku melanjutkan sarapanku yang tertunda.
__ADS_1