
Alarm ponsel Bila berbunyi nyaring, membuat pemilik ponsel menggeliat, meraba-raba mencari sumber suara, lalu mematikan alarm. Jam diponselnya menunjukkan jam 4 pagi. Sudah hampir waktu subuh. Bila menggeliat pelan. Badannya terasa berat. Seperti ada yang menindihnya. Ternyata kaki Juna tengah menindih kaki Bila. Sontak Bila terbangun ketika mendapati tubuh Juna yang terlalu dekat dengan tubuhnya.
Matanya masih sembab, karena semalaman ia menangis sampai ia tertidur dengan sendirinya. Dan sama sekali nggak menyadari kapan Juna pulang kerumah. Bila sama sekali tidak menghiraukan kepergian Juna malam itu. Ia masih merasa kesal dengan sikap Juna. Apalagi kata-katanya sedikit melukai hatinya.
Ia segera memindahkan kaki Juna agar bergeser kesamping, sehingga kaki Bila tidak tertindih lagi. Ia merasakan kesemutan dikakinya. Memijat-mijatnya sebentar lalu segera beranjak kekamar mandi.
Seusai keluar dari kamar mandi, ia mendapatu Juna sudah bangun, ia duduk ditepi tempat tidur. Sibuk mengamati ponselnya. Lalu Juna mendongak menatap Bila yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi. Tatapan mata mereka bertemu. Namun Bila segera beralih mengambil mukena dan sajadah untuk bersiap solat subuh.
"Tunggu aku, kita solat berjamaah..." Juna segera masuk kekamar mandi.
Sepuluh menit kemudian...
Bila sudah mengenakan mukena. Siap untuk melaksanakan solat subuh. Sementara Juna masih mengenakan handuk dipinggangnya. Rambutnya masih basah. Tubuhnya terlihat sempurna. Wanita mana yang nggak tergoda coba kalau lihat tubuh polos Juna. Atletis.
Dipakainya baju koko lengan pendek dan sarung. Sebelum pakai peci, dia menyisir rambut dulu. Udah siap.
Ya Tuhan jauhkanlah hamba dari godaan orang tampan. Tapi dia suamiku. Huhuhu. Tapi aku masih berharap sama mas Rizky. Apa yang harus kulakukan sekarang... Aku terjebak dalam sebuah pernikahan yang tak kuinginkan...
Ya Tuhan tunjukkan aku jalan yang lurus... Berikan yang terbaik untuk kita semua. Aamiin...
__ADS_1
Sarapan pagi kali ini beda dari hari sebelumnya. Formasi lengkap, ada Ayah Bunda. Bila masih terlihat kikuk dihadapan mertua.
Bahkan hari ini yang masak sarapan adalah Bunda. Begitu selesai subuh tadi, Bila ke dapur, dan ternyata Bunda tengah memasak bareng Bi Surti. Bila hanya tinggal bantu-bantu sedikit.
Untungnya Bunda yang masak, coba kalau Bila ikutan masak, nggak tau deh hasilnya kayak apa. Bisa-bisa dapat nilai minus dari mertuanya. Hihihi
"Gimana urusan kantor selama Ayah tinggal ?"
"Beres yah... Nggak usah cemas..."
"Terus gimana kerjasama dengan perusahaan Sinar Jaya group? "
Juna terdiam sesaat. Lalu mengambil minum dan meminumnya.
"Lhohh kenapa? Itukan juga salah satu perusahaan terbesar di Bandung. . . Ayah kenal baik dengan CEO nya, dia teman seperjuangan Ayah waktu kuliah dulu... Apalagi...."
"Apa ayah tau persyaratannya apa kalau kita kerjasama dengan perusahaan itu?" Juna memotong pembicaraan Ayahnya yang belum selesai. Menatap tajam kearah Ayahnya. Bunda dan juga Bila hanya diam sambil memperhatikan. Suasana ruang makan sedikit tegang. Rasanya sudah tak ada selera makan.
"Apa syaratnya?"
__ADS_1
"Juna harus nikah sama anaknya temen Ayah itu..."
Sontak membuat dua orang wanita dimeja makan tersedak. Dua orang laki-laki sigap mengambilkan minuman.
"Ihh udah nggak bener itu yah... Juna kan udah nikah, temen ayah juga tahu itu kan..." sahut Bunda menggebu-gebu. Seakan tak terima dengan persyaratan yang diajukan. Ayah hanya manggut-manggut tanda setuju.
Sementara Bila hanya diam saja. Sekilas melirik kearah Juna yang menampakkan wajah tanpa ekspresi.
Hmm seharusnya aku senang kan. Mungkin ini bisa jadi jalan satu-satunya untuk aku kembali bersama mas Rizky. Terus Juna bisa sama anak teman Ayah. hehehe... Bila.
"Kamu nggak setuju kan Bila... kenapa diam aja" sahut Bunda menatap tajam kearah Bila yang masih bengong dengan pikirannya sendiri.
"Eh ohh itu... Iya bun, Bila nggak setuju... Lagian kan belum pernah ketemu sama anak teman Ayah itu..."
Sontak jawaban Bila membuat ketiga orang dimeja makan melotot kearahnya. Jawabanmu mematikan Bila.
"Jadi maksutmu kalau aku udah ketemu dengan wanita itu, lalu merasa cocok terus nikah sama dia... Gitu maksut kamu?" Juna beranjak dari ruang makan. Wajahnya sedikit kesal. Bila sadar ada yang salah dengan ucapannya tadi.
"Astaga, bukan gitu maksut aku Yah, Bun... "
__ADS_1
Bila tampak menyesali perkataannya tadi. Semoga mertuanya nggak salah paham. Bila berlari mengejar Juna yang sudah naik keatas menuju kamar tidurnya.
Juna bergegas masuk kekamar dan mengambil jas dilemari pakaian. Mengambil ponsel dan bergegas akan keluar dari kamar. Juna berhenti tepat didepan pintu ketika Bila mencegatnya.