
Setelah kepergian Juna dari cafe, Citra menelepon seseorang.
"Sayang, ayo makan siang denganku. Kutunggu di cafe XX..." Kata Citra sambil tersenyum manja. Lalu ia mematikan sambungan teleponnya.
Sambil menunggu, Citra menggeser-geser layar ponselnya. Ia membuka galeri foto. Membuka satu persatu foto, sampai menemukan sebuah foto dirinya sedang tersenyum bahagia bersama Juna. Itu adalah beberapa foto 2 tahun yang lalu ketika sedang liburan bersama Juna ke Bali. Citra mengingat-ingat kenangan manisnya bersama Juna ketika di bali saat itu. Betapa manis dan romantisnya Juna saat itu. Ada sedikit penyesalan dihatinya karena telah menyakiti dan menghianati Juna. Ia sadar betul apa yang dilakukannya sangat keliru. Namun nasi telah menjadi bubur. Sudah terlanjur terjerumus kedalam lubang yang dalam, ia tetap harus melanjutkan masa depannya yang sudah hancur berkeping-keping. Terukir sebuah senyuman tersirat dibibir Citra.
Tak berapa lama kemudian seseorang yang ditunggu Citra telah datang, ia langsung duduk dihadapan Citra. Segera Citra menaruh ponselnya didalam tasnya.
"Sudah lama nunggunya?" Sahut Romi.
"Enggak kok, baru beberapa menit yang lalu..." Citra menggelengkan kepalanya pelan.
"Lah ini kamu sudah habis satu gelas jus ..." Romi mengernyitkan dahinya. Ada sedikit rasa heran diwajahnya.
Citra berusaha nampak biasa saja. Ia berusaha menyembunyikan sesuatu dari Romi, kalau ia baru saja bertemu dengan mantan kekasihnya. Sejak awal mengenal Romi, ia tak pernah sekalipun menceritakan tentang kisahnya bersama mantan kekasihnya.
"Oh ini, aku haus banget soalnya, hari ini kan panas banget cuacanya. " Romi hanya manggut-manggut percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Citra.
"Yaudah pesan makanan sekarang, mau makan apa?"
"Aku pengen makan steak aja deh... " sahut Citra. Lalu Romi memanggil salah satu pelayan, dan pelayan tersebut segera menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
Dengan teliti pelayan tersebut mencatat beberapa menu yang dipesan oleh Citra dan Romi. Lalu pelayan tadi segera meninggalkan mereka untuk mengambilkan pesanan mereka.
"Sayang..." Romi menggenggam kedua tangan Citra diatas meja. Citra menatap Romi penuh arti.
"Aku ada sesuatu untuk kamu.."
"Apa sih? To the point aja deh, nggak usah bikin deg-deg an..." Kata Citra terkekeh. Romi tersenyum. Sebelah tangannya mengambil sesuatu dari balik saku jas nya. Ia menaruh sebuah kotak berwarna merah diatas meja, dan membukanya pelan. Citra yang melihat isi kotak merah tersebut sedikit terkejut. Ia terpana melihat isi dari kotak merah tersebut. Sebuah cincin berlian nampak menyilaukan mata wanita itu.
"Apa maksutmu?" Tanya Citra hati-hati. Romi melepas genggaman tangannya. Ia mengambil cincin tersebut dan hendak memakaikannya pada Citra. Romi meraih jemari Citra yang lentik.
"Kamu maukan menikah denganku...?" Sebelum memasangkannya, Romj bertanya pada Citra terlebih dahulu.
"Terus bagaimana dengan istri sah mu?" Citra memasang wajah cemberut.
Citra hendak menjawab , namun pelayan sudah datang membawa makanan yang telah dipesan oleh mereka berdua. Pelayan tersebut meletakkannya dengan hati-hati.
"Maaf tuan, seseorang dibelakang anda memberikan sebuah pesan kepada anda.." Pelayan tersebut memberikan sebuah kertas kecil dan ada sebuah tulisan "Mari bicara..."
Citra dan Romi kompak menengok seseorang dibelakang Romi, jaraknya tak begitu jauh dengannya. Seorang wanita cantik jelita, memakai hijab lebar. Citra hendak beranjak menemuinya namun Romi mencegahnya. Mengisyaratkan biar aku saja.
Romi mengamati wanita tersebut dari belakang, nampak tak asing dengan wanita tersebut. Segera ia beranjak dari tempat duduknya dan menemui wanita tersebut.
__ADS_1
"Hey ada urusan ap..." Seketika Romi diam terpaku, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya melihat wajah wanita tersebut. Wajah Romi nampak pucat.
Sorot tajam wanita itu membuat Romi tak bisa berkata-kata, apalagi ia masih setia berdiri dihadapan wanita tersebut.
Matanya terlihat memerah seperti tersulut amarah yang sangat dalam, dan juga ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh dihadapan Romi. Tangannya mengepal diatas meja, hingga kulitnya yang berwarna putih mulus menampakkan urat-uratnya.
Citra yang merasa penasaran dengan wanita tersebut, akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Romi. Ia berdiri tepat disamping Romi.
"Siapa sih sayang ?" Citra mengamati sosok wanita tersebut. Cantik. Itu yang terbersit dipikiran Citra. Namun kenapa dia terlihat marah dan sedih. Gumam Citra dalam hati.
Romi masih diam saja, matanya sedikit tertunduk.
Suasana menjadi semakin runyam.
*Kalian pasti tahu kan siapa... Hayoo siapa.... 😅
Maaf yaa nggak bisa tiap hari update, tergantung suasana hati dan pikiran. Dan juga tergantung waktu senggangnya. Karena saya juga ada pekerjaan rumah, ngurus suami dan anak. Hehe... jadi curhat deh..
Kritik dan saran boleh deh tulis dikolom komentar, barang kali ada tulisan yang typo, atau bahasa yang kurang pas...
Terimakasih yang sudah mau membaca ceritanya sampai episode ini...
__ADS_1
Mohon sabar ya untuk update selanjutnya...
Gomawo... 🤗*