
Salsabila.
Aku menendang kursi yang ada dimeja makan. Awww! Ternyata sakit. Berarti bukan mimpi. Sial. Dia mengerjaiku. Aku juga bergegas kekamar, saat deru mobil Juna sudah meninggalkan halaman rumah. Mengambil pakaian yang akan kupakai untuk bekerja hari ini.
Sesampainya dikantor, Risti dan teman setimku sudah menunggu diruangan.
"Hey tumben kalian udah datang? Aku yang kesiangan ya?" Seruku pada mereka.
"Iya lu kesiangan. hahaha" sahut Reyno diiringi tawa nyaringnya.
"Eh iya tadi Pak Romi nyariin kamu, disuruh keruangannya. Eh tapi hati-hati ada pelakor juga disana" kata Risti pelan. Yang lain hanya manggut-manggut. Aku terdiam sejenak. Mudah-mudahan nggak ada hal buruk yang akan terjadi. Sebenarnya malas banget sih punya atasan kayak pak Romi. Kasian yang jadi istrinya. Aku menghela nafas kasar, lalu bergegas keruangan pak Romi.
__ADS_1
Aku mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk.." Suara Pak Romi terdengar dari luar. Aku membuka pinti dan langsung masuk. Astaga. Beneran ada wanita itu, Citra. Dia tersenyum sinis kearahku.
"Ayo duduk dulu..." kata pak Romi, menunjuk kursi dihadapannya.
"Kamu tolong keluar dulu ya sayang..." Kata Pak Romi pada Citra sambil tersenyum manja. Idiihh aku mah geli lihatnya. Citra melenggang pergi meninggalkan ruangan. Kini tinggal aku sendiri dan Pak Romi. Mimik wajahnya nampak serius.
"Aku sama sekali nggak ada masalah apapun dengannya Pak, dia yang mengada-ada. Mungkin dia kesal karena aku sekarang jadi istri dari mantan pacarnya..." Kataku berapi-api. Namun Pak Romi malah menggebrak mejanya. Membuatku terkejut. Aku jadi ingin mencabik-cabik wajah atasanku. Dia sama-sama ngeselin kayak Citra. Kalian itu pasangan yang cocok.
"Cukup Bila! Aku nggak mau dengar alasanmu, kamu harus profesional dong, jangan mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan..." Astaga. Inginku menjerit.
__ADS_1
"Yang nggak profesional itu dia Pak! Model abal-abal begitu. Kenapa nggak tim lain aja yang jadi fotografernya, beres kan?"
Pak Romi melotot kearahku. Ah sial.
"Kamu kan tau tim lain juga udah ada pekerjaannya sendiri, mereka juga sibuk, jadi dengan terpaksa, aku akan mencari penggantimu..." Deg! Jantungku rasanya ingin melompat keluar. Air mata kemarahanku akhirnya runtuh dihadapan atasanku. Pak Romi menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya dikursi.
"Ini semua nggak adil..." kataku lirih. Nggak percaya dengan ucapan atasanku sendiri. Dia jadi nggak profesional hanya karena seorang wanita menggelikan kayak Citra.
Pak Romi menyerahkan surat pengunduran diriku. Tubuhku terasa lemas tak berdaya. Haruskah aku mengacak-acak ruangan ini terlebih dahulu sebelum pergi. Ah sudahlah. Aku berjalan gontai meninggalkan ruangan Pak Romi. Didepan pintu sudah ada citra yang sengaja menungguku. Dia tersenyum sinis, melipatkan kedua tangannya didada.
"Jangan main-main denganku .." kata Citra setengah berbisik. Aku menghela nafas kasar. Seprtinya wanita jalang ini harus dikasih pelajaran. Susah payah kukumpulkan keberanianku. Tanpa babibu aku langsung menjambak rambutnya dengan keras dan mendorong tubuhnya hingga dia jatuh tersungkur kelantai. Ya Allah maafkan hambamu ini. Citra meringis kesakitan.
__ADS_1
"Jaga mulutmu ya! Udah puas??ha? Sekali lagi bikin ulah, kucabik-cabik mulut kau!" Aku berlalu meninggalkannya, setelah Pak Romi mendatangi kami, karena mendengar keributan yang ada diluar ruangannya. Pak Romi menolong Citra ,sambil mengumpat sumpah serapah kepadaku, namun aku tak menggubrisnya.