Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Sewidak Telu


__ADS_3

Semua keluarga tampak sudah terkumpul setelah mendengar kabar kalau Bila sudah sadarkan diri. Orang tua Bila, orang tua Juna, dan juga kakaknya Bila. Mereka pun cukup terkejut mengetahui fakta jika Bila mengalami amnesia. Akibat benturan dibagian kepala, beruntung tidak mengalami gegar otak. Begitulah penuturan dokter setelah memeriksa Bila. Dokter juga telah melakukan CT Scan. Hasilnya baik-baik saja, tapi memang ada sedikit benturan dibagian kepala.


Linda, Mamanya Bila tampak sedang menyuapi bubur kepada Bila. Ada perasaan lega melihat Bila sudah siuman, namun juga sedih karena ia harus kehilangan ingatannya. Yang paling terpukul atas kejadian ini adalah Juna. Karena ia adalah orang terakhit yang Bila temui sebelum kecelakaan.


"Istirahatlah agar cepat pulih, kata dokter 3 hari lagi kamu sudah boleh pulang..." Linda tersenyum sambil mengusap lembut pipi Bila.


"Iya... " Bila tersenyum kaku. Dilihatnya satu persatu orang yang ada didalam kamar inapnya. Semua tampak mencemaskan Bila. Dan seorang pria yang masih berdiri didekat pintu sedari tadi, hanya mengamati Bila dari jauh. Wajahnya terlihat lusuh, dan nampak guratan kesedihan dan frustasi. Juna.


Setelah semua orang bertegur sapa dengan Bila, mereka segera keluar dari ruangan Bila agar Bila bisa beristirahat dengan tenang. Namun Juna masih setia berdiri diambang pintu dengan wajah ditekuk. Sorot mata sendu, membuat Bila memalingkan pandangannya dari Juna. Ia pura-pura memejamkan matanya. Masih agak pusing, itulah yang sedang dirasakan Bila saat ini. Hingga beberapa menit kemudian terdengar suara pintu dibuka dan tertutup kembali. Bila membuka sebelah matanya, melirik pada bagian pintu yang sudah tertutup. Sudah tak ada orang, berarti Juna juga sudah keluar. Bila kembali memejamkan matanya, tak terasa air matanya mulai meleleh membasahi kedua pipinya. Lalu ia pun terlelap dengan sendirinya.


"Kamu yang tabah ya... " Bunda Ayana memeluk Juna, anak bungsunya. Ia tahu Juna merasa sangat sedih.

__ADS_1


"Kalian sedang tidak bertengkar kan?" Tanya Bunfa sedikit berbisik ditelinga Juna. Ya naluri seorang Ibu memang luar biasa. Sepertinya Bunda menyadari jika telah terjadi sesuatu sebelum kecelakaan. Bunda Ayana memegang kedua pipi Juna, menatapnya dalam-dalam, seolah sedang mengatakan kalau 'kalian baik-baik saja kan'. Juna tersenyum tipis, ingin sekali ia memeluk Bundanya lagi dan menumpahkan segala keluh kesahnya.


"Enggak Bund, kami nggak papa..." Sahut Juna lirih. Bunda Ayana mengangguk dan tersenyum.


Tak berapa lama kemudian Ayah dan Bunda pamit pulang.


"Nanti sore Bunda kesini lagi..."


"Iya Bund, hati-hati dijalan...." Juna mencium tangan Bunda dan Ayahnya.


Kini yang tinggal hanya Mama Linda, Marissa, Airlangga dan Juna.

__ADS_1


Mama Linda masuk kembali keruangan Bila. Ia melihat Bila tengah tertidur pulas. Mama Linda duduk disamping Bila, ia menggenggam tangannya, bibirnya membentuk ulasan senyum, namun matanya terlihat berkaca-kaca.


"Aku heran kenapa Bila bisa seceroboh itu mengendarai mobil, yang aku tau dia cukup ahli mengendarai mobilnya..." Perkataan Marissa seakan menampar wajah Juna. Apa memang semua orang sedang menyadari ada yang tidak beres dengan Bila sebelum kecelakaan. Juna masih diam tertunduk. Pandangannya menerawang jauh disana.


"Ya.. tapi siapa yang bisa menduganya, pembalap internasional pun terkadang bisa saja mengalami kecelakaan.." Marissa tersenyum tipis.


"Bunda , aku mau es krim..." Kata Airlangga, ia menatap Bundanya penuh harap.


"Yasudah, kita beli di toko depan ya?" Airlangga mengangguk senang.


"Aku tinggal sebentar ya..." Juna mengangguk.

__ADS_1


Tiga hari kemudian, Bila sudah diizinkan untuk pulang kerumah. Namun jika ia masih mengalami pusing maka harus diperiksakan kembali kerumah sakit.


Kini Juna tengah berada di mobil bersama Bila dan juga Mama Linda. Mereka menuju kerumah orang tua Juna. Sebenarnya ia ingin kembali kerumah mereka, namun Bunda menyarankan untuk tinggal dirumahnya saja, mungkin dengan begitu Bila tidak akan kesepian, dan bisa mengembalikan ingatannya. Tapi Juna berdalih jika ingatannya bisa kembali jika Bila tinggal dirumah mereka sendiri. Akhirnya Bunda Ayana mengeluarkan jurus pamungkasnya, 'nggak usah temui Bunda lagi kalau Bila nggak tinggal dirumah Bunda'. Juna pun menyetujui usulan Bundanya, hanya sementara saja. Begitu pikir Juna.


__ADS_2