
Semenjak pulang kerumah sikap Bila seolah ingin menjauh dari Juna. Meskipun dia tak mengatakan apapun, tapi dari sikapnya Juna dapat merasakan kalau Bila sedikit berubah. Juna pun tak bisa memaksanya karena Bila sedang amnesia dan tak mengingat apapun tentang Juna.
Sudah beberapa hari ini Bila selalu sibuk membaca novel didalam kamarnya. Ia hanya bicara seperlunya saja dengan Juna, itupun karena Juna mengajaknya bicara terlebih dahulu. Raut wajah Juna tampak frustasi, karena hanya dengan dirinya saja Bila bersikap tidak menyenangkan. Sedangkan dengan yang lainnya ia terlihat biasa saja.
Usai makan malam, Juna merebahkan tubuhnya ditempat tidur, disamping istrinya. Ia memejamkan matanya, lelah sekali yang ia rasakan saat ini. Ia pulang dari kantor pukul 6 petang. Dan baru sekarang ia bisa merebahkan tubuhnya.
Bila melirik Juna sekilas, lalu kembali membaca novel ditangannya.
"Kamu nggak bosan tiap hari baca buku?" Suara Juna memecahkan keheningan didalam kamar mereka.
"Enggak" Sahut Bila sekenanya. Ia masih konsentrasi dengan bukunya.
Juna tampak menghela nafas. Ia terbangun dan menaruh bantalnya dibalik punggung untuk bersandar.
"Kamu beneran amnesia atau pura-pura sih?" Sontak mata Bila beralih menatap Juna disampingnya, yang juga tengah menatap Bila tajam.
"Kenapa bertanya sesuatu hal yang sudah jelas?" Bila menutup bukunya. Mereka saling beradu pandang, mencoba menebak isi pikiran satu sama lain.
"Sekarang coba jelaskan kenapa kamu bersikap acuh dan ngeselin hanya denganku?"
"Aku juga nggak tahu..." Bila mengedikkan bahunya.
"Aku mengantuk, dan aku mau tidur. Tolong nanti matikan lampunya..." Bila menaruh bukunya diatas meja. Ia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut sampai bahu. Bila memejamkan matanya, tanpa mempedulikan Juna yang masih terdiam membisu menatapnya.
Hampir lima menit Bila memejamkan mata, namun ia tak kunjung terlelap. Ia pun tak mendengar suara pergerakan Juna. Apakah Juna masih memelototinya, pikiran Bila menjadi tak karuan.
Sesaat kemudian lampu sudah dimatikan, dan berganti lampu tidur yang menyala.
Bila membuka matanya, maksut hati ingin memastikan Juna tidur atau belum, namun ia cukup terkejut ketika mendapati wajah Juna tengah berhadapan satu sama lain. Bila dapat merasakan hembusan nafas Juna dari atas. Jarak wajah antara mereka berdua hanya satu jengkal.
__ADS_1
"Apa yang kau...." Bibir Juna sudah terlebih dulu membungkam bibir milik istrinya. Pertama hanya kecupan biasa, semakin lama menjadi lumatan penuh nafsu. Bila ingin memberontak, namun kedua tangannya ditahan oleh tangan Juna. Dan posisi Juna saat ini sudah berada diatas tubuh Bila.
"Hentikan!" Bila sedikit menjerit ketika Juna melepas ciumannya. Sudut mata Bila sudah menggenang. Hanya dengan satu kedipan mata, air matanya berhasil mengalir.
"Maafkan aku..." Juna mulai melepaskan cengkeramannya dan sedikit menjauh dari Bila. Ia bergerak mundur sedikit menjauh dari Juna dengan wajah yang sudah berderai air mata.
"Maafkan aku, karena aku, kamu mengalami kecelakaan... " Raut wajah Juna penuh penyesalan.
Bila masih terdiam. Hanya air matanya yang bisa mewakili perasaannya. Entah apa yang sedang dipikirkan Bila saat ini.
"Tapi sungguh, yang kamu lihat dikantor itu hanya salah paham..." Bila melirik Juna sekilas. Ia mengusap air matanya dan hendak pergi meninggalkan Juna, namun Juna mencegahnya.
"Dengarkan aku sebentar saja..." Pinta Juna. Bila kembali duduk ditepi ranjang. Matanya menatap kesembarang arah.
Juna akhirnya mengatakan kejadian yang sebenarnya, ia ingin menghentikan kesalahpahaman yang terjadi antara mereka berdua.
"Kalau kamu tidak percaya kamu bisa cek cctv diruang kerjaku.... Aku sudah mengcopynya, sebagai bukti..." Juna menggenggam tangan Bila.
"Hmm, aku ke kamar mandi dulu.." Sahut Bila lirih. Ia melepaskan tangan Juna. Namun lagi-lagi Juna menahannya.
"Apa kamu benar-benar tak ingat padaku? Akan kutunjukkan semua bukti-bukti pernikahan kita..." Suara Juna terdengar putus asa.
Ya Tuhan aku sudah tidak tahan lagi berpura-pura seperti ini. Salsabila.
Bila menghela nafas pelan.
"Maafkan aku..." Ucap Bila lirih. Ia menunduk dan tubuhnya mulai bergetar, diikuti isak tangis.
Detik itu pula Juna segera meraih tubuh Bila kedalam pelukannya. Ia membiarkan air mata Bila membasahi bajunya. Membiarkan istrinya larut dalam tangisannya.
__ADS_1
Bila merasa kembali kedalam zona nyaman dipelukan Juna. Sudah lama ia tak merasakannya.
"Tenanglah... kenapa kamu menangis ?" Disela-sela tangisnya yang sudah reda Juna bertanya. Ia sama sekali tidak paham kenapa Bila menangis seperti itu. Apakah perkataannya tadi menyakiti hatinya?
Bila melepas pelukan Juna sembari menghapus air matanya diwajah.
"Maaf karena aku telah membohongimu, dan semuanya.... " Ucap Bila lirih. Ia tak berani menatap Juna saat ini. Ia merasa telah berdosa membohongi suaminya dan juga keluarganya.
"Kamu tega sekali membohongiku..." Juna mendengus kesal.
"Tapi kamu berbohong dalam hal apa ini?" Juna menangkup wajah Bila dengan kedua tangannya. Membuat Bila mendongak saling bersitatap dengan Juna.
"Aku... sebenarnya tidak amnesia, aku hanya pura-pura saja, sebab aku kesal sekali mengingat kejadian waktu dikantor..." Bila memasang wajah cemberut.
"Apa? Jadi kamu marah sekali ya denganku? Ya ampuunn... Maafkan aku, kamu cepat sekali perginya , jadi aku nggak sempat menjelaskan... Aku juga benci wanita itu, menjijikan! Aku hanya mencintaimu sayang... percayalah..." Juna mengecup kening Bila, juga kedua pipinya dan terakhir ia mengecup bibirnya. Terlihat binar bahagia dari keduanya. Mereka kembali memeluk satu sama lain.
"Aku merindukanmu..." Juna mencubit kedua pipi Bila gemas.
"Aku juga..." Bila mengulas senyumnya yang cantik.
"Aku juga merindukan ini..." Juna mengecup bibir Bila, lalu turun ke leher.
"Stop! Kamu belum memperlihatkan rekaman cctv nya padaku...." Bila mendorong tubuh Juna paksa. Senyum jahil Juna sirna.
"Astaga, yasudah sekarang keruang kerjaku untuk melihatnya..." Juna sudah beranjak dari tempat tidur.
"Besok saja, sekarang aku mau tidur... " Bila sudah merebahkan tubuhnya dan membalutnya dengan selimut sampai bahu. Ia tertawa dalam hati. Rasakan!
"Kau mempermainkanku ya... Lihat saja..." Senyum jahil menghiasi wajah Juna. Ia melepas kaos yang melekat ditubuhnya dan segera menghambur ketempat tidur memeluk Bila.
__ADS_1
Bila ingin berteriak namun ia hampir lupa kalau ia sedang berada dirumah mertuanya. Bisa-bisa satu rumah bangun dan mendobrak pintu kamar. Dan melihat posisi Juna dan Bila saat ini pasti rasanya akan malu sendiri nantinya. Lebih baik pasrah, memberontak pun percuma.