
Tenggorokanku tercekat. Aku tak menyangka dia akan kesini, tepat ketika aku sedang bersusah hati. Ah rasanya inginku menangis dan memeluknya. Tapi buru-buru kutepis perasaan itu. Karena dia sekarang adalah kakak iparku, Rizky. Dia duduk dihadapanku, tatapan matanya seolah tahu aku sedang tidak baik-baik saja. Aku masih diam tak bergeming. Makan es krim pun kuhentikan. Aku masih bingung harus mengatakan apa kepadanya.
Rizky melambaikan tangan kepada seorang pelayan. Dia memesan es krim. Kulanjutkan lagi makan es krim ku sebelum es krim mencair. Kan nggak enak kalau udah cair. Tak berapa lama kemudian es krim pesanan mas Rizky datang. Dua gelas es krim. Aku mengernyit heran. Dia kan tidak terlalu suka es krim. Dia bisa menghabiskan satu es krim saja itu sudah hebat.
"Buat kamu..." Seolah menjawab kebingunganku, dia menyodorkan satu gelas es krim dihadapanku. Kebetulan juga es krimku hampir habis. Aku tersenyum kepadanya. Dia memang sudah tahu segalanya tentangku.
"Terimakasih..." kataku.
Kita masih diam seribu bahasa, tak ada satupun yang membuka obrolan lagi setelah mencicipi es krim masing-masing. Hingga es krim keduaku tinggal setengahnya.
"Kamu nggak kerja?" Tanya Rizky. Seketika aku berhenti makan es krim. Pandanganku masih tertuju pada es krim didepanku.
"Enggak..." aku menggeleng pelan, kutarik nafas pelan lalu menghembuskannya perlahan. Sepertinya aku harus siap dengan pertanyaan selanjutnya.
"Kenapa?" Nah kan beneran dia jadi kepo. Berbohong pun nggak mungkin, dia bakalan tau kalau aku sedang menutupi sesuatu.
__ADS_1
"Sebenarnya aku baru saja dipecat sama bosku..." Ucapku pelan, tapi masih bisa didengar olehnya.
"Kok bisa?" Rizky agak terkejut. Mungkin dia heran, selama ini aku tak pernah berkeluh kesah tentang pekerjaanku. Karena dulu bosku bukan Pak Romi, tiba-tiba saja bosku pindah dikantor pusat, dan digantikan oleh Pak Romi. Awalnya dia baik, tapi lama kelamaan ketahuan belangnya.
"Adalah... Masalahnya rumit untuk diceritakan...Hehe" Seruku. Namun sepertinya dia belum puas dengan jawabanku. Lalu kuceritakan deh kenapa aku bisa dipecat, tapi tentu saja tidak detail. Aku tidak bilang kalau semua gara-gara mantan Juna. Aku hanya menceritakan garis besarnya saja. Dia menggelengkan kepalanya dan juga berdecak kesal.
"Kok ada ya orang kayak gitu..."
"Ada kok... " sahutku tersenyum jahil. Rizky tertawa terbahak. Dia hendak mengelus kepalaku, namun aku menepisnya.
"Astaga... maaf..." Katanya pelan, sambil mengusap wajahnya. Ternyata dia lupa kalau aku sudah bukan bagian dari hidupnya lagi.
"Kok kamu bisa kesini?" Aku juga terkejut saat dia tiba-tiba bisa kesini.
"Aku hanya kangen tempat ini saja... Eh nggak ding, aku lagi pengen makan es krim kok.." sahutnya sambil tertawa. Dia memainkan sendok digelas es krimnya. Membuat es krim yang ada digelasnya mencair.
__ADS_1
"Kamu udah kembali bekerja di rumah sakit?" Sudah beberapa bulan dia absen tidak masuk kerja karena kecelakaan waktu itu.
"Belum, rencana besok aku mulai masuk kerja, tadi habis dari Rumah sakit, mengurus beberapa laporan dan lain-lain... Terus langsung kesini..."
Aku hanya manggut-manggut.
Berhubung es krimku sudah habis, aku berniat untuk pulang saja kerumah. Aku bersiap menenteng tasku. Namun Rizky mencegahnya.
"Duduklah dulu, aku masih ingin bicara sebentar..." kata Rizky. Aku kembali duduk sambil memangku tas ku.
"Aku ingin minta maaf sekali lagi sama kamu..."
Aku hanya tersenyum masam. Memang kenapa dia harus minta maaf, toh semua juga udah terjadi, dan nggak semua salah dia. Gumamku dalam hati.
"Apa kamu mencintai Juna?" Jantungku berdetak cepat. Aku bingung harus menjawab apa, karena perasaanku masih belum begitu jelas.
__ADS_1
"Entahlah..." jawabku seadanya. Rizky menatapku tajam. Tatapan mata itu, dulu selalu membuatku berdebar, namun sekarang tak seperti dulu. Bahkan aku takut untuk menatapnya lagi, takut tak bisa melupakan semua kenanganku bersamanya.
"Aku ingin...kamu melupakanku... Mari kita akhiri hubungan ini dengan baik-baik saja..." Kata Rizky pelan. Sorot matanya terlihat sendu. Susah payah aku menelan salivaku.