
Kini Arjuna dan Bila telah sampai dipelataran rumah orangtua Bila. Juna memarkirkan mobilnya dihalaman rumah. Seperti biasa mereka berdua langsung masuk rumah begitu saja karena memang tidak terkunci pintu bagian depan. Mereka berdua masuk keruang utama dan tak mendapati siapapun disana. Kenapa rumah ini jadi sepi, gumam Bila dalam hati.
Tak berapa lama kemudian Mama datang daei arah dapur bersama Airlangga. Mama menyambut kedatangan mereka berdua.
Juna dan Bila bersalaman dan mencium punggung tangan Mama.
"Sudah lama kalian tak kemari..." Kedua bola mata Mama terlihat berkaca-kaca melihat kedatangan anak dan menantunya tersebut. Mama mengecup kedua pipi Bila lalu mencubitnya gemas. Bila meringis sedikit kesakitan.
"Nenek, aku juga mau mencium pipi tante Bila..." Seru Airlangga menarik-narik baju neneknya. Sontak mereka bertiga tertawa memdengar penuturan Airlangga yang terlihat menggemaskan.
"Sini-sini tante kangen sama Airlangga..." Bila berjongkok menghadap Airlangga dan memeluknya. Tak lupa mencium kedua pipinya. Airlangga tersenyum. Kini pandangannya beralih kepada Arjuna.
"Kamu juga merindukanku?" Sahut Juna ikutan berjongkok menatap bocah kecil nan menggemaskan itu.
"Iya om... Tapi maaf om ,mobil-mobilan yang om kasih dulu sudah rusak, percayalah Airlangga tidak merusaknya, Alvin yang merusaknya..." Wajahnya menampakkan ada guratan penyesalan. Ya, Alvin adalah teman bermainnya. Rumahnya berada diseberang jalan rumah ini.
"Benarkah? Lain kali om akan belikan yang baru yang lebih bagus dan nggak akan cepat rusak..." Juna tersenyum manis, begitupun Airlangga langsung berjingkrak-jingkrak bahagia. Ia mengecup pipi Juna lalu berlarian mencari Mamanya.
__ADS_1
"Ah lucunya kalau punya anak menggemaskan seperti dia.." Gumam Bila lirih. Namun masih bisa terdengar oleh Mama dan Juna.
"Tenang saja sebentar lagi kamu pasti akan mempunyai anak seperti Airlangga... Jika Tuhan sudah mengizinkan..." Seru Mama, melirik kearah Juna meminta kepastian dari Juna.
"Sedang kita usahakan Ma..." sahut Juna cepat. Senyum merekah dibibir Mama. Namun Bila terlihat gugup mengingat ia baru saja membuang pil KB nya.
Agak lama mereka bercengkrama diruang tamu. Menikmati beberapa camilan.
Bila melirik jam , sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Mas Hendra pulang jam berapa mbak?" Tanya Bila pada Marissa, kakak iparnya.
Ceklek. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Yang barusan ditanyain sudah nongol dari balik pintu. Mahendra baru saja pulang dari kantor. Raut wajahnya tampak lelah. Namun begitu melihat adik perempuan satu-satunya ia langsung memasang wajah sumringah.
"Akhirnya kamu kesini juga..." Hendra tersenyum melihat Bila dan Juna berada dirumah ini.
"Baru sempat sekarang mas... hehe" Bila terkekeh.
__ADS_1
"Kalau bukan karena resign palingan juga sampai sekarang belum kesini..." Sahut Mahendra mendelik kearah Bila. Sontak Mama terkejut mendengar penuturan Mahendra.
"Kamu udah resign? Pantas saja, ini kan bukan hari libur, kamu bisa sampai kesini..." Raut wajah Mama penuh tanda tanya.
"Oopss.. kamu belum bilang ke Mama ya?" Bila menggeleng sambil meringis.
"Mama nggak usah khawatir, aku yang menyuruh Bila resign, kami ingin segera memiliki momongan, jadi alangkah lebih baik Bila jangan terlalu capek... Iya kan sayang?" Sontak Bila terkejut, Bila menyikut perut Juna. Mahendra pun terkejut, karena Mahendra tau alasan kenapa Bila bisa resign. Kedua pipi Bila merah merona, sedangkan Mama dan Marissa tertawa cekikikan.
"Uh so sweet banget sih..." Seru Marissa. Mahendra ikutan tertawa juga. Ia tahu maksut Juna untuk menutupi semua ini dari Mama agar tidak khawatir dengan Bila.
Mereka terlihat asyik berbincang-bincang sambil ketawa ketiwi.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Juna mengajak Bila untuk pulang kerumah. Meskipun Mama sudah menawarkan untuk menginap disini saja, namun Bila tetap harus mengikuti apa kata suami.
Akhirnya Bila dan Juna berpamitan untuk pulang kerumah mereka.
Sesampainya dirumah, mereka bergantian mandi dan siap-siap melaksanakan solat magrib.
__ADS_1
----------
Maaf jika typo bertebaran dimana-mana... 😂