Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Patangpuluh Loro


__ADS_3

Bila dan Juna menjerit bersamaan dengan pengunjung lainnya ketika menaiki wahana halilintar. Wahana tersebut cukup membuat sport jantung. Yang nggak kuat jantungnya atau jantung lemah sebaiknya berpikir dua kali untuk menaikinya.


Mereka masih mencoba beberapa wahana. Walaupun sebenarnya Bila sudah pusing dibuatnya. Akhirnya ketika hendak menaiki wahana yang ketiga, Bila melambaikan tangan, nggak mau melanjutkannya lagi. Juna tertawa melihat wajahnya yang sudah tak karuan.


"Yaudah kamu duduk dulu disini, aku belikan air minum," sahut Juna lalu berlalu meninggalkan Bila yang tengah terduduk lesu di bangku panjang. Ia memegangi kepala yang terasa nyut-nyutan dan perutnya yang serasa diaduk-aduk.


"Lama sekali sih dia.." gerutu Bila dalam hati. Ia membuka tas miliknya dan mencari-cari sesuatu. Akhirnya ia menemukan minyak kampak untuk meredakan pusing dan mualnya. Dioleskannya perlahan-lahan diarea leher dan juga perutnya. Namun tiba-tiba isi perutnya seakan naik. Bila segera beranjak dari bangku dan berjalan ketempat yang agak sepi pengunjung. Akhirnya ia memuntahkan semua isi dalam perutnya.


"Sialan Juna, bukannya bikin aku happy malah bikin tambah sengsara..." Bila menggerutu kesal. Ia masih berjongkok.


Sementara itu Juna tengah berlarian menghampiri Bila sambil membawa air mineral dan juga camilan. Namun dia tak mendapati Bila ditempatnya semula. Ia memutar melongok kesana kemari, tak juga melihat Bila.


"Haisshh kemana sih dia..." Juna menaruh air mineral dan camilannya di bangku tadi, dan merogoh ponselnya. Ia menelepon Bila, namun tak diangkat sama sekali, sampai 2 kali ia menelepon, hasilnya nihil. Juna semakim gelisah, pikiran negatif mulai menyelimuti kepalanya. Saat Juna hendak beranjak pergi, tiba-tiba ia melihat Bila berjalan sempoyongan kearah Juna. Wajahnya sedikit pucat. Dengan gesit Juna menghampiri Bila yang hampir ambruk.


"Kamu nggak papa kan?" Tanya Juna khawatir, ia merangkul Bila mengajaknya duduk di bangku tadi.


"Nggak papa gimana? Orang aku tuh kayak orang mabuk gini, pusing kepalaku, perutku mual-mual, tadi aja aku muntah-muntah disana..." Celoteh Bila. Ia masih memegangi kepala dan perutnya.

__ADS_1


"Ini minumlah..." Juna menyodorkan air mineral. Bila meneguknya pelan.


"Mmm.. nggak ada yang jual teh anget ya?" tanya Bila menatap Juna.


"Nggak tahu. Yaudah kamu tunggu disini biar tak cariin..."


"Eh ngga usah, kita pulang aja..." Bila menarik tangan Juna yang hendak beranjak dari tempat duduknya.


"Baiklah..." Juna mengiyakannya. Ia menuntun Bila berjalan menuju parkiran mobil.


"Emang kamu bisa?" sahut Bila sambil tertawa.


"Ya bisalah... Demi istriku tercinta..." Tanpa sadar Juna mengatakannya dengan suara keras. Membuat Bila terkejut, jantungnya berdebar kembali. Ia menghentikan langkahnya. Juna menatap Bila terheran. Kenapa berhenti, pikirnya.


"Apa yang barusan kamu bilang tadi ?" Bila menautkan kedua alisnya tak percaya.


"Memang apa?" Juna tampak gugup.

__ADS_1


"Iya barusan kamu tadi bilang istriku tercinta, memang kamu cinta sama aku?" Sebenarnya Bila hanya ingin tahu seberapa jauh perasaan dia kepada Bila. Mungkinkah Juna sudah mulai mencintai Bila. Ia selalu bertanya-tanya dalam hatinya.


"Oh... itu, tadi sih cuma asal omong aja... hehe" Juna menggaruk-garuk tengkuk kepalanya yang nggak gatal.


Bila kembali menatap lurus kedepan, melanjutkan perjalanan dengan perasaan sedikit kecewa.


Mungkin dia bersikap baik kepadaku bukan karena dia mencintaiku, buktinya dia bilang tadi hanya asal ngomong... Gumam Bila dalam hati.


Aiisshh... Kenapa jadi begini sih, kenapa aku mesti ngomong kayak gitu, barangkali dia pun kecewa dengan jawabanku tadi. Bagus deh kalau dia kecewa, setidaknya aku tau dia juga ada perasaan sama sepertiku. Suatu saat di waktu yang tepat aku akan mengatakan perasaanku kepadanya. Gumam Juna dalam hati. Ia tersenyum, melirik wajah Bila yang sudah nggak karuan.


Sampailah mereka di parkiran. Juna membukakan pintu untuk Bila, dan Bila segera masuk kedalam mobil. Ia merasa lega. Ia segera memakai seat beltnya dan memejamkan matanya, untuk tidur.


Sekarang Juna juga sudah berada didalam mobil. Ia mengamati Bila yang tengah memejamkan matanya.


"Jangan lama-lama nglihatinnya, nanti jatuh cinta beneran, tau rasa!" Seru Bila sambil terkekeh. Wajah Juna sedikit memerah. Rasanya ia ingin sekali mencium istrinya sekarang dan mengatakan kalau ia mencintainya, tapi ia urungkan.


Setelah memakai seat belt, Juna segera melajukan mobilnya menembus gelapnya malam.

__ADS_1


__ADS_2