
Sedari tadi Citra menggerutu kesal, berkali-kali melirik jam tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, namun yang hendak ditemui Citra tak kunjung datang. Hal itu membuatnya jengah. Sudah berpuluh-puluh kali ia melakukan panggilan namun hasilnya nihil juga. Sialan Juna. Pekik Citra dalam hati. Dia minum jus strowberry yang tinggal setengah, dan segera beranjak dari tempat duduk hendak meninggalkan cafe tersebut. Baru beberapa langkah, ia berhenti karena mendapati Juna sudah berdiri tepat dihadapannya. Wajahnya sedikit tak bersahabat. Citra menyunggingkan senyum tersirat pada Juna.
"Kau begitu lama? Darimana saja? Aku capek nungguin hampir satu jam lamanya, ponselmu juga, kenapa nggak aktif... aarrgghh..." Citra ngomel-ngomel begitu saja. Sedangkan Juna , ia melenggang pergi melewati Citra dan duduk dikursi tempat Citra menunggu tadi. Citra berdecak sebal. Ia duduk kembali ketempat semula.
"Ada apa sih ngajak ketemuan? Kangen sama aku? Menyesal udah ninggalin aku?" Sahut Citra dengan percaya dirinya. Juna tersenyum masam.
"Sorry, aku nggak menyesal sama sekali... Yang aku sesalkan adalah tindakanmu kepada istriku beberapa waktu lalu, dan itu membuatku semakin membencimu..." Juna sudah geram melihat wanita dihadapannya.
"Wah jadi istri kamu mengadu padamu ya...haha" Ia tertawa dengan wajah tanpa dosa.
"Kamu boleh tertawa sekarang... Tapi ingat satu hal, aku bisa saja menghentikan kariermu hari ini juga, jika kamu masih mengganggu rumah tanggaku, terutama istriku..." Lalu Juna beranjak dari tempat duduknya hendak pergi.
"Aku nggak takut..." Seru Citra. Ia menatap tajam Juna.
"Okay... Aku cuma memperingatimu... Lain kali tiada maaf... " Balas Juna, lalu ia benar-benar pergi meninggalkan Citra yang terlihat sangat-sangat marah. Ia memukul mejanya agak keras, hingga tangannya terasa sakit.
Setelah selesai bercumbu, Bila masih meringkuk dikasur hanya selimut yang menutupi tubuhnya. Ia masih enggan untuk bangun. Dilihatnya Juna sudah tak berada disampingnya lagi. Mungkin dia bertemu dengan seseorang. Seseorang yang masih membuat Bila penasaran.
__ADS_1
Bila menggeser tubuhnya lebih mendekat pada laci disamping tempat tidurnya. Ia membukanya, mengambil dompet kecil dan membukanya. Ada sebuah bungkus pil KB yang sudah tidak ada isinya, alias habis. Ia mengamati bungkus pil tersebut. Rasa bersalah tergambar jelas diwajahnya.
Ah sepertinya aku sudah tak memerlukan pil ini. Gumam Bila dalam hati.
Setelah itu ia bangun dari tempat tidur, memakai pakaiannya dan segera membuang bungkus pil tersebut ketempat sampah dikamarnya.
Bila mengambil pakaian yang ada dilemari dan segera masuk kamar mandi untuk segera mandi.
Lima belas menit kemudian ia selesai mandi. Terlihat handuk melingkar dikepalanya, membungkus rambutnya yang basah. Ia duduk menghadap cermin, mengamati dirinya dari pantulan cermin. Terlihat beberapa bekas kemerahan di leher dan dada. Ia tersenyum malu.
Bila masih sibuk mengeringkan rambut. Beberapa saat kemudian, ada sebuah pesan masuk. Dari Mas Hendra.
***Kudengar kamu resign dari tempat kerja. Kenapa? Ada masalah?
Tau darimana mas? hehee... Iya nggak papa kok.. Ada sedikit masalah, apa Mama tahu?
Rizky yang bilang. Kamu kerumah deh, Mama kangen katanya...
__ADS_1
Siaaapp... 😉***
Bila pun bersiap-siap untuk pergi kerumah Mamanya. Ia memakai hijabnya didepan cermin. Setelah itu ia mengambil tas dan memasukkan hp dan dompetnya kedalam tas. Ketika ia menuruni tangga, ia mendengar deru mobil Juna. Mungkin dia sudah pulang.
Saat membuka pintu ruang utama mereka berpapasan.
"Lho mau kemana?" Selidik Juna. Mengamati Bila yang sudah berdandan rapi.
"Mau ketemu seseorang..." Jawab Bila asal sambil nyengir.
"Hmm... mulai deh.." Juna mencubit pipi sebelah Bila. Mereka tertawa bersama.
"Jadi mau ketemu siapa?" Tanya Juna lagi.
"Mau ketemu Mama, tadi dapat di WA sama mas Hendra, katanya Mama kangen... Secara mas Hendra tahu, aku udah resign... Hmm.." Sahut Bila.
"Yaudah tak anterin..." Juna menggandeng tangan Bila keluar rumah. Tak lupa menutup pintu. Mereka masuk kemobil. Mobil segera melaju meninggalkan halaman rumah.
__ADS_1