
Suara ketukan pintu depan menghentikan aktivitas sarapan pagi Bila dan Juna. Bi Munmun yang masih sibuk dibelakang jadi tidak mendengarnya. Mau tak mau Bila beranjak dari meja makan.
"Biar aku saja, lanjutkan makanmu..." Sahut Juna yang baru saja selesai sarapan. Bila duduk kembali dan melanjutkan makan.
Pintu depan terbuka, ada seorang pria dan wanita, masih muda, nggak beda jauh umurnya dengan Juna.
"Maaf permisi, pagi-pagi begini kami mengganggu anda... Kami baru saja pindah dirumah sebelah anda, kami mau memperkenalkan diri, saya Arumi dan ini suami saya Bram..." Kata Arumi sambil menunjuk rumah yang ada disebelahnya persis.
"Ohh begitu... Saya Arjuna..." Juna tersenyum sambil bersalaman dengan tetangga baru tersebut.
"Ah iya ini ada sedikit oleh-oleh dari kami... " Arumi menyerahkan bungkusan plastik kepada Arjuna.
"Terimakasih. Tak perlu repot-repot begini..."
"Siapa mas? kok lama sekali..." Bila muncul dibelakang Juna sambil merangkul bahu Juna.
"Hallo... maaf mengganggu, kami tetangga baru disini ... Saya Arumi, dan suami saya Bram..." Arumi memperkenalkan diri lagi pada Bila.
"Saya Bila..." Bila bersalaman dengan pasangan suami istri tersebut.
"Oh ya silakan masuk, ngobrolnya didalam saja... nggak enak kalau didepan pintu begini..." kata Bila sambil menarik lengan Juna agak mundur kebelakang untuk memberi jalan pada mereka.
"Wah terimakasih, mungkin lain kali saja.. Kami juga masih harus berkenalan dengan tetangga lainnya..." Sahut Arumi.
Tak berapa lama kemudian mereka berpamitan. Juna menutup pintunya kembali dan masuk kekamarnya untuk memakai dasi dan juga jas nya.
__ADS_1
"Kenapa kau hanya memandangiku saja?" kata Juna sembari memakai dasi.
"Memang aku harus apa?" Bila terkekeh, lalu berjalan mendekati Juna, merapikan dasi karena terlihat miring.
"Sudah..." Bila merangkulkan tangannya di bahu Juna. Mereka saling bertatapan, diiringi senyum tipis.
"Sayang..."
"Ya, kenapa?"
"Bolehkah aku bekerja lagi?" Mata Bila terlihat berbinar, berharap permintaannya dikabulkan.
Juna menggelengkan kepala. Tandanya dia tak setuju.
"Ya sering-seringlah main kerumah tetangga... Biar nggak bosan..." Juna terkekeh. Bila cemberut, bibirnya mengerucut, terlihat lucu dimata Juna.
"Nanti ujung-ujungnya gosipin orang... kan dosa..."
"Ya jangan nggosipin orang dong, obrolin yang lain lah..."
"Isshh..." Bila berjalan membelakangi Juna, dan merebahkan tubuhnya dikasur sambil memainkan ponselnya dengan wajah kesal.
Juna tau bagaimana perasaan Bila, rasa bosan pasti ada, karena sudah kebiasaan sering bekerja.
"Kenapa ngambek begitu, jelek sekali... " Bila berdecih. Juna duduk ditepi tempat tidur.
__ADS_1
"Yaudah aku kekantor dulu ya," sambil mengelus pipi Bila.
"Iya hati-hati..." sahut Bila tanpa memandang Juna. Namun Bila sama sekali tak mendengar suara langkah Juna dan juga suara pintu. Ia menoleh kedepan. Ternyata Juna masih duduk dihadapannya.
"Kenapa belum berangkat?" Bila menatap Juna heran, meletakkan ponselnya diatas bantal.
Juna menghela nafas pelan.
"Yaudah aku berangkat dulu..." Tanpa aba-aba Juna langsung mencium bibir Bila dengan gemas. Satu detik , dua detik, tiga detik, sampai detik kesepuluh Juna melepaskan ciumannya. Terlihat rona merah dipipi Bila.
"Aku jadi agak malas kekantor kalau kamu ngambek begitu ..." Sahut Juna masih menyentuh dagu Bila.
"Apaan sih, aku nggak ngambek kok..." Bila menepis tangan Juna.
"Yakiinn...." Juna menyentil hidung Bila. Membuat pemilik hidung tersenyum.
"Udah sana buruan berangkat udah siang ini..." Bila sudah beranjak dari tempat tidur, ia menarik tangan Juna agar segera berdiri, mendorongnya menuju pintu.
"Baiklah... Besok kita jalan-jalan bagaimana... Mumpung weekend..." Bila menganggukkan kepala, wajahnya berbinar senang.
"Eiittss tunggu, ada yang ketinggalan..." Juna berbalik lagi menghadap Bila. Lalu menarik tengkuk Bila dan menciumnya, perlahan ia melumat bibirnya. Tangan kanannya mulai bergerilya menelusuri punggung Bila, bergerak kebawah, menyentuh area sensitif Bila, hingga membuat Bila berdesis. Suara rintihan Bila membuat Juna mabuk kepayang , ia urungkan niatnya untuk berangkat pagi.
Tak butuh waktu lama Juna sudah berhasil menggiring Bila keatas tempat tidur. Melanjutkan hasrat yang sudah naik ke ubun-ubun.
Sambil mengecupi leher Bila, Juna menyempatkan mengirim pesan kepada sekretarisnya kalau ia akan berangkat agak siang.
__ADS_1