Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Seket Songo


__ADS_3

Aprilia mengambil tasnya dan segera keluar dari ruangan Juna. Ia mendapati sekretarisnya itu kebingungan dan tampak pucat.


"Toilet dimana?" Tanya Aprilia. Ia tidak peduli harga dirinya jatuh dihadapan sekretaris Juna.


Safira menunjuk kearah timur sebelah ruangan Juna.


Dengan perasaan campur aduk Aprilia menuju toilet sesuai titah Safira.


Begitu melihat Aprilia keluar dari ruangan Juna, Safira bisa menerka-nerka ada sebuah kesalahpahaman sedang terjadi barusaja. Kalau sampai sesuatu terjadi dengan rumah tangga Pak Arjuna, hancur sudah karierku... Pikiran Safira sudah melayang-layang jauh kesana-kemari.


Setengah jam kemudian Aprilia sudah kembali dari toilet. Wajahnya memang sudah bersih, namun masih ada sisa noda coklat di kemejanya. Ia berjalan melewati Safira tanpa menolehnya menuju ke lift.


Safira mendengus kesal melihat tingkah Aprilia. Cih sombong!


 


flashback

__ADS_1


 


"Ayolah kita bicara santai saja, kenapa marah begitu..." Aprilia beranjak dari tempat duduknya. Langkah kakinya menuntun kearah Juna.


"Lihatlah betapa tegangnya dirimu, Juna... Santailah..." Aprilia menyentuh bahu Juna, namun Juna segera menepisnya. Aprilia berdecih.


"Katakanlah inti pokoknya saja, jangan membuang-buang waktuku!"


"Aku sungguh sedih kamu menolak tawaran dari Ayahku.. Bukankah ini sangat menguntungkanmu dan juga perusahaan, kamu bisa menikahi wanita cantik dan seksi sepertiku, dan juga perusahaanmu akan meningkat dengan pesat... Selama ini aku selalu menolak rencana perjodohan Ayah dengan relasi-relasi Ayah, tapi kali ini aku menyukainya, karena aku tertarik dengan pesonamu...." Tangan halus Aprilia menyentuh kedua pipi Arjuna. Mereka saling adu pandang, namun Juna segera mengalihkan pandangannya. Tak lupa ia menyingkirkan tangan Aprilia.


"Aku sudah memiliki istri. Ayahmu tahu itu!!" Juna menatap tajam. Perlahan ia mundur kebelakang menjaga jarak dengan Aprilia.


"Hahaha... benarkah? Aku bisa saja melenyapkan istrimu dalam sekejap!" Ancam Aprilia. Membuat Juna meradang.


"Tak akan kubiarkan..." Juna bersedekap.


"Keluarlah segera sebelum kesabaranku habis, kau hanya membuang waktumu saja..." Titah Juna menunjuk kearah pintu.

__ADS_1


"Baiklah, ini baru permulaan... " Aprilia mendekati Juna, berdiri dihadapannya, hanya berjarak sekitar tiga puluh senti.


"Terkadang aku bisa saja menjadi wanita yang lemah lembut, tapi bisa juga tiba-tiba menjadi buas seperti macan!" Ia tersenyum sinis.


"Aku benar-benar menginginkannya..." Aprilia menyentuh bibir Juna dengan tangannya. Sedangkan satu tangannya menyentuh dada bidang Juna. Sontak Juna refleks hendak menyingkirkan kedua tangan Aprilia menjauh darinya. Namun sialnya tiba-tiba saja Bila sudah masuk diruangan Juna berdiri tak jauh dari hadapan Juna. Menyaksikan suaminya sedang memegang erat kedua tangan Aprilia. Jarak kedua orang tersebut sangatlah dekat. Bila menyipitkan mata tak percaya. Perasaan marah dan cemburu berbaur menjadi satu.


Tenanglah Bila, jangan menangis disini, memalukan!


 


Pintu lift terbuka, Juna segera masuk dan menekan tombol lantai satu. Yang ada difikiran Juna, mungkin Bila sedang menuju parkiran hendak pulang. Rasa khawatir masih menyelimuti Juna. Ia tahu Bila pasti kecewa dan marah. Namun itu semua hanya salah paham. Ia begitu frustasi bagaimana ia akan menjelaskannya pada Bila nanti.


Triing. Pintu lift sudah sampai lantai satu. Juna segera keluar menuju parkiran mobil, mencari sosok Bila. Namun tak juga melihatnya.


Secepat itukah dia pergi? Huh seharusnya masih diarea sini kan! Juna mengedarkan pandangannya kemana saja. Mencari disetiap sudut. Juna mengusap kasar wajahnya, frustasi.


Juna merogoh ponselnya. Hendak menelepon Bila, namun nomornya tidak aktif.

__ADS_1


Sepertinya dia sengaja mematikan ponselnya. Arrgghhh


Tanpa pikir panjang, Juna langsung menuju parkiran , mencari mobilnya. Barangkali Bila pulang kerumah. Ia segera melajukan mobilnya keluar dari parkiran.


__ADS_2