Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Nemlikur


__ADS_3

Pag-pagi sekali Juna tengah bersiap-siap untuk jogging. Memakai kaos putih polos, celana pendek diatas lutut dan juga sepatu kets. Sedangkan Bila didapur bantuin Marissa memasak. Meskipun ada pembantu, tapi tetep saja Marissa selalu ikut turun tangan.


"Kamu nggak ikut jogging suami ?" Marissa tersenyum jahil. Dia tahu kalau Bila paling malas berolahraga , apalagi jogging.


"Enggak mbak, males. . hehe" Bila nyengir kuda.


"Ya sekali-kali nemenin suami, nanti kalau digoda cewek lain gimana... hayoo ..." Marissa menggoda Bila. Namun ekspresi wajah Bila tampak biasa saja.


"Duh mbak nggak usah mikir macem-macem deh... Mau digondol orang gila juga terserah deh..." Bila tertawa cekikikan. Memperhatikan Marissa yang sedang membuat bumbu nasi goreng.


"Hahaha... kamu nggak takut suamimu hilang digondol wong edan ? "


"Apaan sih mbak nih... udah fokus bikin nasi goreng yang enak aja hehe... Mas Hendra kemana?" Bila sedari tadi tak menemukan sosok kakaknya dari tadi dan juga keponakan gantengnya.


"Kayak nggak tau aja, ini kan hari minggu, hari malas sedunia, Mas Hendra masih tidur sama Airlangga hahaha..."


"Dasar kebo... haha" sahut Bila sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian Nasi gorengnya sudah jadi. Bila membantu Marissa menyiapkannya di meja makan. Mama muncul dari pintu depan, seperti biasanya setiap pagi Mama selalu menyiram bunga-bunga di halaman rumahnya.


"Wah Mama udah laper nihh..." sambil mengelus perutnya. Kemudian duduk dimeja makan. Disusul Bila. Sedangkan Marissa hendak membangunkan suaminya dikamar.


Lima menit kemudian Marissa kembali ke meja makan. Sendirian.


"Loh mana Hendra?" tanya Mama bingung.


"Masih tidur Ma, nggak mau bangun... hihi" sahut Marissa. Lalu ikut duduk.


"Tadi malam lembur kerjaan sampai tengah malam sih... Nggak tau deh tidur jam berapa tadi malam..." Marissa menimpali.


Suasana di meja makan terasa sepi. Hanya ada tiga wanita yang sedang menikmati sarapan pagi. Hanya suara sendok dan piring yang sedang beradu.


Juna


Dia tengah duduk beristirahat disebuah kursi taman. Meneguk air mineral yang baru saja dibelinya. Sambil mengamati orang-orang yang sedang berlalu-lalang di depannya. Lumayan banyak sekali yang Jogging ditaman. Mungkin karena hari libur. Ada yang berpasang-pasangan, ada yang bersama anak-anaknya dan juga ada yang sendirian. Seperti Juna.

__ADS_1


Tiba-tiba sesosok wanita menghampiri Juna, membuyarkan lamunannya. Wanita itu tersenyum manja, duduk disamping Juna, membawa air mineral juga. Citra.


Citra juga termasuk wanita yang hobi olahraga, dulu dia paling sering jogging bersama Juna ketika hari libur. Juna menjaga jarak aman dengan Citra, menggeser duduknya agak menjauh dari Citra.


"Segitu bencinya kamu sekarang sama aku ya?" Citra tersenyum sinis. Juna masih diam tak menggubris.


"Aku jadi ingat dulu kita sering jogging kayak gini sama kamu... jadi kangen..." Citra menyenderkan punggungnya di kursi.


"Itu semua sudah berlalu, nggak penting untuk diingat-ingat" Juna mendengus kesal. Mengalihkan pandangan ketempat lain.


"Aku minta maaf deh... Sebenarnya aku terpaksa waktu itu ke hotel sama laki-laki brengsek itu..." Mata citra menerawang jauh.


"Terpaksa? Tapi kamu menikmatinya kan... Shiiitt." Juna menggeram kesal.


Citra menghela nafas pelan.


"Semua karna Papa, dia memiliki hutang banyak dengan laki-laki itu, sedangkan usaha papa udah bangkrut, nggak ada uang untuk membayar hutang-hutang itu, lumayan banyak, dan suatu ketika, laki-laki iti datang kerumah, kebetulan dia melihatku, dan langsung menanyakannya sama papa, papa tahu kalau laki-laki itu menginginkanku, papa diiming-imingi hutangnya lunas dan juga tambahan modal 50 juta jika papa menyerahkanku pada laki-laki itu. Dan papa setuju. Akupun terpaksa menyetujuinya, karna kulihat laki-laki itu nggak terlalu buruk. Dia berjanji akan menikahiku, tapi setelah kita jalan bersama hampir 2 bulan, dan aku sudah tidur dengannya, tiba-tiba dia mencampakkanku. Karena sudah bertemu dengan wanita lain yang lebih cantik. Saat itu hatiku hancur, aku baru tersadar aku salah melangkah..." Citra menangis sesenggukan, membuat Juna merasa iba, dan juga agak risih, karena beberapa orang menatapnya sinis, karena melihat Citra yang menangis.

__ADS_1


__ADS_2