Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Sewidak Songo


__ADS_3

"Sayang, bangun... " Juna berusaha membangunkan Bila sejak tadi belum berhasil juga. Ia mencolek-colek pipi Bila dan juga hidungnya.


"Apaan sih... Aku masih ngantuk, capek..." Dengan mata yang masih terpejam Bila mengomel-ngomel tak jelas. Juna tergelak, mengingat kejadian semalam. Bahkan Juna sebenarnya masih mengantuk, karna ia juga baru tidur pukul satu malam, dan terbangun jam 4 pagi. Karena terlalu asik saling melepas rindu, hingga kelelahan,tahu-tahu sudah jam tengah malam.


"Ini sudah jam 5 pagi lho... Kamu nggak solat kah?" Jiwa Imamable muncul. Haha pasti dia akan bangun, gumam Juna dalam hati. Eh ternyata sama saja, Bila hanya bergumam tak jelas dan merubah posisi tidurnya menjadi miring kekiri.


"Kalau begitu satu ronde lagi deh..." Ia berbisik lembut ditelinga Bila, sambil tangannya menelusuri kulit tubuhnya yang masih telanjang dibalik selimut.


Seketika itu juga Bila menjerit. Ia terpaksa bangun, matanya melirik kearah Juna. Bibirnya mengerucut sebal. Juna cekikikan sendiri melihat ekspresi wajah Bila.


"Udah sana mandi dulu, aku jogging bentar ya... " Juna mengecup lembut pipi Bila, lalu beranjak keluar meninggalkan Bila yang masih diam mematung.


Dengan langkah gontai Bila berjalan masuk kekamar mandi. Tak lupa ia membawa baju ganti. Sebelum mandi wajib, ia memperhatikan tubuhnya yang sudah berbalut handuk kimono.


Astaga banyak sekali... Pekik Bila dalam hati. Tentu saja tanda merah buatan Juna terpampang nyata di hampir semua bagian tubuh Bila. Tanpa sadar Bila tersenyum.


Ia bergegas mandi dan solat subuh sebelum terlambat.


Selesai solat, Bila turun kebawah menuju dapur. Membantu Bunda dan bibi menyiapkan sarapan.


Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Kini mereka tengah menikmati sarapan pagi. Nasi goreng telur ceplok, simpel dan nggak ribet.


"Ambilin dong sayang..." Glek. Susah payah Bila menelan salivanya. Ia begitu terkejut dengan tingkah Juna yang tiba-tiba sok manja didepan keluarganya. Gugup iya. Karena semua mata menatap kearah Bila, tak terkecuali Juna. Namun tatapan dan senyum Juna seolah mengatakan kalau ia sengaja menggoda istrinya didepan semua orang. Tak hanya kedua orang tua Juna, Rizky pun turut terkejut menyaksikan tingkah konyol Juna.


"Kenapa pada bengong semua sih? Kamu juga, cepetan ambilin, aku udah laper..." Sahut Juna membuyarkan lamunan semua orang. Wajah Bila sudah seperti kepiting rebus. Mata Bila sudah melotot tajam kearah Juna, sembari mengambilkan nasi goreng untuk Juna, sedangkan Juna hanya terkekeh geli melihat ekspresi Bila.

__ADS_1


Setelah semua sudah mengambil nasi goreng, mereka segera menyantapnya.


"Bund, besok aku sama Bila mau kembali kerumah kita..." Kata Juna setelah semua orang selesai sarapan. Namun mereka masih duduk manis dimeja makan.


"Loh kok gitu... Bila kan masih butuh kita, kasian nanti kalau dia sendiri dirumah..." Sahut Bunda Ayana.


"Iya, mendingan disini dulu sampai Bila sembuh..." Ayah ikut menimpali.


"Dia udah sembuh kok..." Jawab Juna, melirik kearah Bila sambil tersenyum. Bila mengangguk cepat. Sebenarnya Bila juga sudah ingin kembali kerumah sendiri. Tiap hari bertemu mantan calon suami perasaannya sedikit tidak tenang, meskipun Bila sudab berpaling kepada Juna. Ia merasa tak enak hati jika harus bertemu dengan Rizky. Walaupun itu tak mungkin. Ia sudah menjadi anggota keluarga, tentu tak mungkin bisa untuk menghindarinya.


"Benarkah? Kamu sudah ingat Juna? Sudah ingat kita semua?" Tanya Bunda Ayana. Kedua orang tua Juna terlihat begitu gembira mendengar kabar baik pagi ini.


"Tadi pagi aku denger Bila menjerit, ada apa? Apa dia kejedot tembok terus langsung ingat semuanya... Wahh..." Rizky mengacungkan kedua jempol tangannya sambil terkekeh. Pasalnya ia hanya asal nebak, tapi memang jeritan Bila tadi pagi sampai terdengar kekamar Rizky.


Blush. Wajah Bila kembali merah merona, dua kali ia menahan malu. Ia bahkan hampir lupa kalau tadi pagi ia menjerit agak keras. Astaga kira-kira apa yang dipikirkan mereka ya. Dan Juna ia masih stay cool, senyum-senyum nggak jelas. Ayah dan Bunda hanya geleng-geleng kepala.


"Memang apa yang kami pikirkan?" Celetuk Bunda Ayana. Rizky sebisa mungkin menahan tawanya, begitu juga Juna.


"Tadi pagi tuh..."


"Hey ini udah jam tujuh, kamu nggak berangkat kerja?" Potong Bila cepat, sebelum Juna berkata yang aneh-aneh.


"Oh iya, astaga, sampai lupa..." Juna bergegas kembali kekamarnya, memakai dasi dan jasnya. Bila mengekor dari belakang, sambil sesekali menggerutu, mengingat kejadian diruang makan.


Mereka sudah baikan rupanya. Syukurlah. Sepertinya aku harus mencari sumber kebahagianku lagi, apa aku harus membuka hatiku untuk Sandra? Rizky.

__ADS_1


"Sayang mana dasiku?" Sesampainya dikamar, Bila segera mempersiapkan keperluan suaminya.


" Soyang, sayang... Malu ih, jangan gitu didepan orang tua kamu, apalagi kakakmu..." Bila memakaikan dasi dikerah kemejanya.


"Kenapa malu? Kita udah sah. Kenapa dengan kakakku? Kamu masih memikirkan dia ya?" Juna merengut. Wajahnya terlihat agak kesal.


"Apasih? Gitu aja cemburu... Aku kan sekarang udah pindah kelain hati..." Bila memeluk pinggang Juna mesra.


"Pindah kemana?"


"Ya kekamulah... Gimana sih..." Bila mencubit pinggang Juna.


"Awww sakiiitt... " Juna mengusap bagian yang dicubit istrinya.


"Sudah sana berangkat, jangan lupa sama janji kamu..."


"Janji apa lagi?" Juna lupa.


"Isshh... Liburan..." Bila mencebik kesal.


"Emang aku pernah bilang?"


Bila mencubit lengan Juna gemas.


"Astaga, sakiitt... Iya iya, bercanda kok... besok ya setelah kita pindah kerumah... Yaudah aku berangkat dulu, jangan nakal dirumah... " Juna mengecup kening dan bibir Bila.

__ADS_1


Bila mengantar Juna sampai ke halaman depan. Ia melambaikan tangan setelah mobil Juna melesat meninggalkan halaman rumah.


"Uh so sweet... Bikin aku sesak nafas aja..." Celetuk seseorang dibalik punggung Bila.


__ADS_2