
Salsabila
Hari itu aku memilih bungkam. Bukannya nggak bicara sama sekali, tapi aku memilih lebih banyak diam. Hanya bicara ketika ditanya saja. Sesekali aku melirik kearah mas Rizky yang sedang asik ngobrol sambil ketawa-ketiwi sama Ayah Bunda dan juga Juna. Mas Rizky kadang juga sering curi pandang kearahku. Nggak tau deh perasaanku saat itu campur aduk, ingin marah, ingin nangis, satu lagi...ingin segera kabur dari rumah ini. Sebenarnya dalam hati kecilku aku pengen bicara sama mas Rizky, perihal ide gilanya menyuruh adiknya menggantikan dia untuk menikahiku. Aku sempat kesal, kalaupun saat itu pernikahanku batal, aku nggak papa. Toh pada akhirnya mas Rizky juga sembuh. Malahan tampak baik-baik saja.
Tapi aku juga nggak munafik, akhir-akhir ini aku menikmati peranku sebagai seorang istri Arjuna. Setiap hari bersamanya membuatku nyaman, aku cukup bahagia dengan perlakuannya kepadaku. Mungkin sedikit demi sedikit aku mulai mencintainya. Tapi aku masih gengsi untuk bilang padanya. Toh aku belum terlalu yakin jika aku sudah mencintainya sepenuhnya. Aku juga belum yakin dia baik kepadaku karena mencintaiku atau karena dia memang baik. Mas Rizky juga belum sepenuhnya hilang dipikiranku.
Tiba-tiba suara mas Rizky membuyarkan lamunanku. Astaga, berapa lama aku melamun, hingga tak tau kalau didepan tv tinggal kita berdua. Apa mereka memang berkomplot sengaja membiarkan aku berdua dengan mas Rizky? Atau mas Rizky sendiri yang memintanya. Entahlah...
"Eh iya, kenapa? Kemana yang lain?" Aku celingak celinguk mencari sosok penghuni rumah yang lain. Mas Rizky tersenyum.
__ADS_1
"Mereka kusuruh pergi sebentar, daritadi kamu diem aja, apa yang kamu pikirkan sih sampai melamun gitu?" Mas Rizky terlihat sedikit khawatir. Kita duduk saling berhadapan, walaupun masih ada jarak sekitar 2 meteran. Aku merasa kikuk berduaan dengannya. Jantungku berdetak lebih cepat, keringatku mulai mengalir dari pelipis. Hawa dingin menusuk tubuh. Pengen pingsan aja rasanya. Kayak mau ujian skripsi. Sudah lama tak bertemu dengannya, membuatku bingung harus bagaimana. Padahal dulunya waktu masih bersama aku nggak pernah setegang ini.
"Nggak ada kok... Kamu kapan balik kesini?" Aku mencoba sesantai mungkin. Biar nggak dikira masih berharap sama dia. Walaupun sebenarnya dulu aku berharap banget bisa balikan sama dia. Tapi sekarang aku nggak terlalu berharap lebih. Juna sudah baik kepadaku. Dan juga dia sudah mengancamku tak akan pernah menceraikanku. Dan lagi mereka kakak adik, masa cuma gara-gara aku mereka bertengkar. Apa kata mertua?
"Sekitar seminggu yang lalu... Sebenarnya aku mau ngomong sesuatu sama kamu..." Aku menatap mas Rizky, wajahnya serius, seperti saat dulu dia melamarku. Ah kenapa jadi ingat kenangan dulu sih. Menyebalkan.
"Ya ngomong aja..."
"It's okay. Semua udah berlalu... Aku udah nggak papa kok... Yang mau aku tanyain, kenapa mas bisa seenaknya sendiri mengatur dan memutuskan kebahagiaanku? Mas pikir dengan pernikahan yang nggak jadi batal, lalu mengirim seorang adik sebagai pengganti mas, itu bisa membuatku bahagia? Sementara nggak ada satupun yang kasih tau aku..." Aku mendengus kesal. Tiba-tiba emosiku meluap-luap ketika mengingatnya. Sebenarnya aku hanya ingin memberi mas Rizky pelajaran, agar dia sadar kalau dia itu bersalah. Toh sekarang aku sudah bisa menerima sedikit demi sedikit. Meskipun kalau ingat dulu, rasanya ingin marah.
__ADS_1
Kulihat mas Rizky sedikit kaget dengan intonasi suaraku sedikit agak meninggi. Walaupun masih agak lirih, takut didengar yang lain. Untuk pertama kalinya aku marah sama dia. Dulu aku kalau marah sama dia cuma diam aja sih. Lalu dengan segala cara dia membujukku. Akupun luluh gitu aja. Hehe.
"Sebenarnya ini semua demi kebaikanmu..." Mas Rizky menggantung kalimatnya. Aku bingung, maksutnya bagaimana sih.
"Kebaikan yang bagaimana? " Aku menatapnya tajam. Mas Rizky sedikit gelisah.
"Aku punya alasan tersendiri, dan aku belum bisa menjelaskannya padamu... Maaf," Dia menunduk. Aku tahu dia sedang menyembunyikan sesuatu. Dulu kita sama sekali tak ada rahasia apapun, kita saling jujur , bicara apa adanya. Tapi kini yang kulihat berbeda, seperti bukan dia. Masih ada rahasia yang belum aku ketahui darinya. Yasudahlah, mungkin dia belum siap.
Tanpa bicara sepatah katapun, aku melenggang pergi meninggalkan mas Rizky diruang tv. Naik tangga menuju ke kamar tidur. Pusing kepalaku memikirkannya. Sebelum naik tangga, aku berpapasan dengan Juna. Aku tak menghiraukannya. Tampaknya dia sedari tadi disitu. Mungkin dia menguping pembicaraanku dengan kakaknya.
__ADS_1
Aku langsung menutup pintu kamar, dan merebahkan tubuhku dikasur. Mataku terasa berat. Hingga akhirnya aku terlelap