
Juna masih menahan tawanya, melihat raut wajah Bila yang merah padam, bibir manyun. Masih betah diam saja sampai mereka tiba dirumah orang tua Bila.
Bila memasuki rumah yang sudah lama tak dikunjunginya setelah menikah. Diikuti Juna dibelakangnya. Pintu terbuka bersamaan dengan Bila yang sudah berdiri tepat didepan pintu hendak membukanya. Marissa, kakak ipar Bila dan juga Airlangga digendongannya.
"Haloo ganteng..." sahut Bila tersenyum senang bertemu dengan keponakannya. Mencubit gemas kedua pipi gembul Airlangga. Senyum bahagia juga mengembang dibibir Airlangga.
"Tante kenapa nggak pernah main kesini sih?" kata Airlangga. Bacanya pakai logat anak kecil ya. Hahaha.
"Tante sibuk pacaran sama Om Juna tuh..." Marissa menyahut pertanyaan Airlangga sambil terkekeh. Bila melayangkan sebuah cubitan dipinggang Marissa, membuatnya meringis kesakitan.
"Kamu yaa... masih aja suka nyubit sembarangan..." Marisaa mengusap-usap pinggang rampingnya.
"Sukurin...heheh... Mama sama Mas Hendra mana?"
"Tuh lagi diruang tamu, nungguin kamu daritadi..." Marisaa mengajak Bila dan Juna masuk kedalam rumah. Dan menutup pintu kembali.
Airlangga sudah tidak digendongan Marissa. Dia sudah berlari-lari membuntuti tante dan juga Om barunya.
"Mama..." Bila menyapa Mamanya yang tengah duduk di sofa. Mereka berpelukan, cipika cipiki. Juna mengekor dibelakangnya, mencium punggung tangan Mama mertua.
__ADS_1
"Hey kamu nggak kangen kakakmu yang ganteng ini..." kata Mahendra berdiri dibelakang Bila.
"Hahaha... Bisa aja... ya kangenlah... Sini.." Bila memeluk kakaknya. Disusul Juna yang kemudian menyalami kakak iparnya.
Mereka semua berkumpul diruang tamu. Marissa datang dari arah dapur membawa beberapa gelas berisi minuman dan 2 toples kue kering buatannya.
Marissa memang cukup ahli dibidang memasak, apalagi dalam membuat kue kering.
"Keasyikan jadi pengantin baru jadi lupa sama rumah lama nih ceritanya..." Mahendra membuka pembicaraan. Dia tertawa terkekeh. Membuat Bila mendelik malu dan kesal. Juna tersenyum.
"Apaan sih... Enggaklah... aku sibuk banyak kerjaan, jadi belum sempat kesini... hehe"
"Gimana kabar kalian? sehat semua kan?" tanya Mama. Matanya beralih kearah Juna.
"Baik Ma, sehat semua..." Juna tersenyum.
"Syukurlah..."
Mereka terus asik berbincang- bincang. Sebentar Mahendra melontarkan beberapa candaan hingga membuat Bila dan Juna malu.
__ADS_1
Obrolan terhenti ketika suara adzan magrib berkumandang. Mereka segera beranjak untuk melaksanakan solat.
****
"Lagi masak apa mbak? " sahut Bila, mendekati Marissa yang sedang asik didapur bersama Bi Minah.
"Ayam rica-rica... " Bila tersenyum sumringah. Matanya berbinar. Ilernya hampir netes, lalu segera mengelapnya. Oops.
"Uhh pasti sedap banget ini mbak... mantap jiwa..."
"Iyalah... bikinnya pake hati... " Marissa terkekeh.
Sepertinya Bila sudah tak sabar ingin segera menyantapnya.
Hampir satu jam, makanan sudah matang semua, tinggal menyajikan di meja makan. Bila terlihat semangat sekali. Dia membantu Marissa menyiapkannya di meja makan.
Tak lama kemudian semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk menyantap makanan. Bila orang pertama yang mengambil nasi, tak sabar ingin segera mencicipinya.
"Eh eh rakus amat sih... Tuh piring suami tercinta masih kosong... nggak diambilin dulu kek.." Mahendra menunjuk piring Juna yang masih kosong, karena masih mengantri mengambil nasi. Bila terkekeh. Dia segera mengambilkan nasi dan juga lauk dipiring Juna.
__ADS_1
"Masakan Mbak Marissa memang mantap deh..." sahut Bila ditengah makan, sambil mengacungi kedua jempol tangannya. Marissa tersenyum senang.