
Sesampainya dirumah, Juna meletakkan barang-barangnya didalam kamarnya. Sementara Bila bersama Mama Linda. Mereka duduk di sofa ruang tamu. Dan juga Bunda Ayana, sudah menunggu kepulangan mereka sejak tadi. Ia menyiapkan beberapa camilan dan minuman bersama Bi Sofi, asisten rumah tangganya.
"Kamu masih pusing nak?" Tanya Mama Linda.
"Enggak Ma, aku baik-baik saja..."
"Jangan dipaksakan untuk mencoba mengingat kembali ingatanmu, pelan-pelan nanti pasti akan ingat kembali..." Bila tersenyum tipis.
"Silakan diminum San... Ayo Bila..." Seru Mama Ayana. (San panggilan untuk besan ya...hehe).
Mama Linda menyeruput teh nya sedikit, begitu juga Bila.
"Bunda lega akhirnya kamu selamat dari kecelakaan waktu itu..." Bunda Ayana menghembuskan nafas pelan.
"Iya Bund, alhamdulillah..."
"Tadinya Juna mau membawamu pulang kerumahnya, tapi Bunda larang, takut kamu makin kesepian disana, jadi Bunda minta Juna bawa kamu kesini... "
"Siapa Juna ?" Bunda Ayana agak sedikit terkejut. Ternyata Bila benar-benar amnesia. Mama dan keluarganya saja Bila tak bisa mengingatnya, apalagi suaminya.
"Dia suamimu nak..." Sahut Mama Linda.
__ADS_1
"Kapan aku menikah Ma? Seingatku aku belum menikah.." Bila menatap Mama Linda dan Bunda Ayana bergantian.
"Mungkin kamu lelah, sebaiknya istirahat dulu dikamar, biar Bunda antar..." Bunda Ayana sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Aku masih ingin disini Bund... Mama juga masih disini, aku merasa nyaman didekat Mama, kenapa aku nggak tinggal sama Mama saja?" Bila menatap Mamanya penuh harap. Demi apapun air mata Mama Linda hampir menetes, namun ia mencoba menahannya.
"Enggak sayang, disini rumah suamimu, rumahmu juga, apapun yang terjadi kamu harus selalu berada disampingnya..." Kata Mama Linda.
"Baiklah..." Bila tersenyum datar.
Sementara mereka mengobrol, ada seseorang yang tengah mengamati mereka dari kejauhan. Dadanya berdenyut kembali. Mungkin ini teguran dari Tuhan. Juna masih berdiri diambang pintu dapur, agak jauh dari ruang tamu. Pikirannya melayang kesana kemari.
Sore hari Mama Linda sudah pulang kerumahnya, dijemput oleh Mahendra.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, Juna melihat Bila tengah membaca buku novel ditempat tidurnya. Ia melirik Juna seklias, lalu kembali fokus membaca.
"Makanlah sebelum dingin, jangan lupa minum obatnya..." Sahut Juna. Ia meletakkan nampan berisi makanan dan minuman diatas meja. Dan juga mengeluarkan beberapa obat-obatan dari dalam laci.
"Iya trimakasih, nanti aku akan memakannya.." Bila masih sibuk dengan novelnya. Bahkan tak menatap Juna sekalipun.
__ADS_1
"Simpanlah dulu bukunya... kamu bisa melanjutkannya setelah makan bukan?" Juna sungguh gemas sekali dengan tingkah laku Bila, sejak siuman ia selalu menjauh darinya, cuekin terus, tak pernah mau menatap Juna.
"Ini sedang bagus ceritanya..."
"Kalau begitu aku suapin, mau?" Bila sama sekali tak melirik Juna yang tengah menyodorkan sendok kearah Bila.
"Baiklah, terserah mau dimakan atau tidak..." Juna sudah berdiri hendak keluar dari kamar.
"Mau kemana?" Bila menutup buku novelnya dan menaruhnya sampingnya. Juna berbalik.
"Aku mau keruang kerja, banyak kerjaan yang terbengkalai karena sudah lama aku tinggalkan..." Juna memasang wajah datar. Kalau saja Bila tidak amnesia, mungkin Juna sudah menghambur kepelukannya. Setelah Bila mengatakan kalau dia merasa belum menikah diruang tamu tadi, Juna memilih untuk agak menjaga jarak dengannya. Walaupun dalam hatinya ingin sekali menyentuhnya, mendekapnya, dan juga menciumnya.
"Ah baiklah... " Bila masih memandangi punggung Juna hingga Juna keluar dari kamarnya.
Setelah itu Bila mulai makan , dan juga minum obat. Selesai makan, ia kembali membaca novel tersebut. Namun tak berapa lama kemudian ia terlelap dengan sendirinya. Efek dari obat, ada yang mengandung obat tidur. Hingga bukunya terlepas dengan sendirinya dari genggaman tangan Bila.
***Setelah sekian purnama akhirnya update lagi...
pengennya sih ya novelnya segera tamat, tapi apa daya, menuangkan cerita dalam bentuk tulisan nggak segampang itulah...
Heheheee....
__ADS_1
Kalau waktu senggang in syaa allah saya sempetin nulis...***