
Lima belas menit kemudian Sandra keluar dari ruang UGD, dan diikuti beberapa perawat dan seorang pasien yang masih dalam kondisi terbaring lemas. Selang infus dan oksigen juga menempel pada tubuh pasien tersebut. Dan juga terdapat beberapa luka-luka dibagian tangan, kaki dan wajah. Perawat segera memindahkan pasien tersebut kedalam ruang VIP sesuai perintah Sandra.
Juna yang terkejut karena pintu UGD terbuka segera mendekat. Ia langsung lemas seketika melihat istrinya terbaring lemah tak berdaya dengan banyak luka ditubuhnya. Ia hendak mengikuti kemana perawat akan membawa Bila. Namun ia menemui Sandra terlebih dulu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Juna penuh kecemasan.
"Tenanglah, istrimu tidak apa-apa... Hanya saja dia sedang koma saat ini, sekarang dia akan dibawa keruang VIP."
Juna segera berlari menyusul Bila keruangan VIP.
Sementara di ruang UGD masih ada 3 pasien. Seorang mahasiswi, namun hanya luka ringan dan syok saja. Dan dua orang lagi seorang Ibu dan anak perempuan. Ibunya mengalami luka memar dikepala dan bagian tangan, sementara anaknya pingsan dan terdapat beberapa luka memar.
"Apa kau baik-baik saja? Sepertinya kita pernah bertemu..." Rizky tengah menghampiri wanita yang menabrak mobil Bila dari belakang, tak lain adalah Maya.
Maya mendongak menatap seorang dokter yang sedang berdiri disisinya. Maya bangun dari tempat tidurnya, kini ia terduduk mengingat-ingat sosok Rizky. Maya menyunggingkan senyum.
"Iya kita pernah bertemu sebelumnya, dan pertemuan kita kenapa selalu nampak menyedihkan begini..." Maya dan Rizky tertawa bersama.
"Semoga pertemuan selanjutnya lebih indah..." Rizky tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya kepada seorang putri kecil disamping Maya.
"Kamu tak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja, dia anak yang kuat.. " Rizky mencoba menenangkan Maya.
__ADS_1
"Harusnya aku lebih fokus dan hati-hati ketika berkendara...." Kata Maya lirih.
"Sebaiknya kamu menghubungi suami atau keluargamu segera..."
"Ah iya, aku akan menghubungi Kakakku..." Maya meraih tas disampingnya dan mencari ponselnya.
"Yasudah, saya tinggal dulu ya, selamat istirahat..."
"Ya. Terimakasih..." Maya kembali berkutat dengan ponselnya.
Rizky berlalu meninggalkan Maya keluar dari ruang UGD.
"Kau mau kemana?" Sandra menghampiri Rizky yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Ah kemana ponselku..."
"Kau mencari ini..." Sandra menunjukkan ponsel Rizky yang kini ada ditangan Sandra.
"Kau mencuri ponselku ya..." Sandra berdecih kesal.
"Harusnya kau berterimakasih karena aku menemukannya tergeletak begitu saja di meja kantin... "
"Terimakasih Sandra..." Rizky kembali fokus pada ponselnya, mencari kontak Arjuna.
__ADS_1
"Juna sudah disini sedari tadi, sekarang mungkin sedang diruangan Bila... "
"Benarkah?" Sandra mengangguk cepat. Rizky tampak menghela nafas lega.
Sementara itu Juna masih setia menunggu Bila. Ia merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan Bila. Kalau saja saat itu ia menolak meeting dengan Aprilia, semua nggak akan begini.
"Bangunlah sayang... Maafkan aku..." Juna mengusap telapak tangan Bila berkali-kali. Matanya terlihat berkaca-kaca, penuh penyesalan.
Namun Bila masih memejamkan matanya. Nafasnya tampak tenang dan teratur. Terdapat luka memar dikepala, dan luka lecet dibagian tangan dan kaki. Seperti kata Sandra, Bila sedang koma. Kapan ia akan sadar tidak ada yang tahu.
Ceklek. Rizky membuka pintu ruangan Bila. Ia berjalan masuk menghampiri Juna yang tengah duduk disamping Bila sambil menyandarkan kepalanya.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja ... Aku sudah menghubungi Ayah Bunda, dan juga Mas Hendra... " Rizky mengusap punggung adiknya.
"Jangan lupa istirahat, kalau ada apa-apa segera hubungi aku..." Tak ada jawaban dari Juna sampai Rizky membuka knop pintu hendak keluar. Ia menghela nafas berat dan keluar dari ruangan Bila.
Satu jam kemudian, Mamanya Bila, Mahendra dan anak istrinya datang menjenguk Bila. Mahendra terkejut mendengar kabar dari Rizky kalau adiknya mengalami kecelakaan. Ia segera pulang kerumah memberitahukan keluarganya dan segera berangkat kerumah sakit. Mama pun sama, dia cukup syok mendengar berita tak menyenangkan yang dialami putrinya. Sempat pingsan dirumah, hingga membuat Hendra dan Marissa kebingungan dan panik. Sepuluh menit kemudian Mama sudah sadar kembali, Hendra mencoba menenangkan Mamanya. Setelah cukup tenang, Mama ingin segera menemui Bila. Dan Hendra mengiyakannya. Airlangga yang ikut mendengarkan obrolan orang tuanya pun merengek ingin menjenguk tantenya.
Begitu sampai diruangan Bila, ternyata Juna sudah terlelap tidur disamping Bila dengan posisi duduk dan kepala beralaskan kedua tangan Juna.
Mama berusaha menahan diri agar tidak menangis lagi. Walaupun sebenarnya Mama cukup tersiksa melihat putrinya masih belum membuka matanya.
__ADS_1