Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Telungpuluh


__ADS_3

Aku terbangun. Tak kudapati Juna berada dikamar. Sudah berapa lama aku tertidur. Kulihat jam di ponselku jam 12:48. Udah siang, belum solat dzuhur. Aku segera beranjak kekamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu, lalu solat dzuhur.


Selesai solat aku keluar dari kamar. Tak ada seorangpun. Lalu kemana mereka. Mungkin dibawah. Aku menuruni anak tangga, sambil melihat sekeliling. Sampai diruang tamu tak ada siapapun. Lalu aku kedapur, berniat ambil minum, karena haus. Kuambil gelas dan menuangkan air putih dari dalam kulkas. Wah segar. Aku tersedak saat seseorang masuk hanya mengenakan celana pendek tanpa baju, Mas Rizky. Dia juga sedikit kaget dan gugup. Lalu dia langsung balik kanan meninggalkanku yang sudah melotot kearahnya. Aku menaruh gelas dan ikutan pergi dari dapur sambil menundukkan kepala karena malu. Seharusnya yang malu kan dia, kenapa jadi aku. Astaga. Tiba-tiba Brukkk!! Aku menabrak Juna. Aku meringis sambil mengelus-elus kepalaku. Juna menatapku datar.


"Maaf..." sahutku pelan.


"Ngapain jalan nunduk-nunduk begitu, nyari koin?" celetuk Juna ngeledek.


"Enggaklah..." Protesku.


"Yaudah, siap-siap gih, kita pulang sekarang..."


"Loh secepat ini kita pulang? kan belum sore...." Juna mendelik, memotong pembicaraanku.

__ADS_1


"Kamu mau ikut pulang sekarang atau nggak? Atau masih mau bernostalgia sama mantan" Juna menekankan kata mantan. Membuatku kesal. Dalan hitungan detik aku mengiyakannya, lalu sekuat tenaga aku menginjak kakinya kuat-kuat, hingga membuat dia meringis kesakitan memegangi kakinya. Akupun berlari meninggalkannya dengan tawa penuh kemenangan. Haha rasain!


Disisi lain, Rizky mencoba menahan tawanya melihat ulah Bila kepada Juna. Sedari tadi Rizky mendengar percakapan mereka berdua sampai selesai. Rizky geleng-geleng kepala melihat kelakuan Bila, masih sama seperti dulu.


Kalau saja aku berada diposisi Juna, pasti aku bahagia sekali sekarang. Gumam Rizky dalam hati.


Aku dan Juna berpamitan dengan Ayah, Bunda dan juga berpamitan dengan Mas Rizky. Kami pulang kerumah kami. Baru juga jam 2, Juna sudah ngajakin pulang. Kenapa sih mesti buru-buru. Apa gara-gara mas Rizky, mungkinkah dia cemburu? Ah bodoh amatlah. Aku memandangi wajah Juna beberapa detik. Wajahnya tampak biasa aja sih, nggak ada ekspresi kesal atau gimana. Tapi memang sejak tadi kami diam saja tanpa bicara sepatah katapun.


"Hmm... Siapa juga yang nglihatin kamu.. Ge-er!" Aku mencoba mengeles.


"Terus?" Dia masih nanya coba.


"Aku lapar, tadi belum makan siang..." Kataku akhirnya. Daripada dia banyak nanya. Tapi emang iya aku beneran lapar, banget malahan. Juna tertawa.

__ADS_1


"Salah sendiri tidur dikamar, dibangunin nggak bangun-bangun..." Aku merengut sebal.


"Yaudah mau makan dimana?" Seru Juna akhirnya. Aku berpikir sebentar, kira-kira makanan apa yang enak untuk dimakan hari ini.


"Gimana kalau seafood... Aku suka banget sama seafood"


"Okee..."


Tak berapa lama kemudian kita sudah sampai direstoran seafood. Juna memarkirkan mobilnya. Wah ini kayaknya restoran besar. Aku belum pernah kesini. Sabar ya, bentar lagi kita makan, kataku sambil mengelus perutku yang rata. Juna menatapku heran.


"Kenapa perutnya dielus-elus? Kamu lagi hamil ya?" Aku langsung menggelengkan kepala.


"Siapa yang hamil? Kasian perutku udah nggak sabar pengen makan" celotehku. Lagian siapa yang hamil, kan aku masih setia konsumsi pil KB. Semoga dia nggak tahu. Hehe.

__ADS_1


__ADS_2