
Bunyi alarm ponsel Juna membangunkan Bila yang masih terlelap tidur. Ia mengerjapkan mata berkali-kali. Kemudian matanya mencari suara. Satu tangannya hendak meraih ponsel tersebut, namun tubuhnya terasa berat ketika hendak mengambil ponsel diatas meja.
Pantas saja tubuh Bila terasa berat, ternyata Juna sedang memeluknya erat, erat sekali. Entah sejak kapan Juna tidur disampingnya. Bila mengamati sosok seorang pria dihadapannya. Raut wajahnya nampak guratan-guratan kesedihan. Saat hendak membelai rambut Juna, tiba-tiba Juna menggeliat pelan, melepaskan pelukannya, meskipun matanya masih enggan untuk terbuka. Seketika itu juga Bila pura-pura memejamkan matanya kembali.
Bila merasakan seseorang mencium keningnya, cukup lama. Sebelum akhirnya Juna beranjak dari tempat tidur. Suara langkah kaki Juna masih terdengar hingga pintu kamar mandi tertutup kembali.
Bila membuka matanya kembali, jantungnya berdegup kencang. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan.
Beberapa saat kemudian Juna sudah muncul dari balik pintu kamar mandi. Ia mendapati Bila tengah duduk ditepi ranjang. Mereka saling beradu pandang sejenak, karena Bila sudah mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Udah solat?" Tanya Juna. Bila menggeleng pelan.
"Yaudah, aku tungguin... buruan..." Juna tengah mempesiapkan sajadah dan sarung yang akan digunakan untuk solat. Sementara Bila sudah berada didalam kamar mandi. Bila segera menyusul Juna yang sudah siap untuk memimpin solat.
"Kamu tahu kenapa aku bisa mengalami kecelakaan parah begini?" Selesai solat, Bila masih dalam posisi duduk, menghadap Juna.
"Tabrakan mobil.." Jawab Juna singkat.
"Benarkah? " Ia menatap Juna tak percaya.
"Iya, tanya saja sama Bunda..." Juna hendak berdiri merapikan sajadah dan melipat sarungnya.
__ADS_1
"Mana buktinya kalau kita sudah nikah?" Juna menatap Bila lekat-lekat. Ia menghembuskan nafas pelan. Juna mengembalikan sajadah dan sarungnya kedalam lemari lagi, dan mengambil sebuah buku, buku nikah. Ia memberikannya pada Bila.
"Itu asli..." Seolah mengerti apa yang akan dikatakan oleh Bila. Bila membuka lembaran buku nikah tersebut. Terpampang fotonya dan foto Juna.
"Kalau sudah puas melihatnya, kembalikan lagi ketempatnya, aku mau jogging sebentar..." Juna sudah mengganti celananya menjadi celana training. Ia berlalu meninggalkan Bila sendiri dikamar.
Selesai mandi, sudah rapi dengan pakaian santainya, Bila segera turun kebawah. Ia menuju kedapur, terlihat dua asisten RT sedang sibuk memasak didapur. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Bunda Ayana. Namun ia tak melihatnya. Ketika hendak masuk kedapur, Bila bertabrakan dengan Rizky. Hingga kopi yang dipegang Rizky tumpah sedikit kelantai. Beruntung tidak mengenai Bila.
"Maaf..." Bila sedikit menunduk dan ia bergegas meninggalkan dapur menuju kekamar lagi.
Rizky mengernyit heran, belum sempat ia bertanya justru Bila langsung pergi begitu saja. Ia hanya bisa menatap punggung Bila yang mulai menjauh.
Dering ponsel disaku celana Rizky membuyarkan lamunannya. Ia segera menggeser tombol hijau.
"Ada apa pagi-pagi begini telepon?" Rizky bersandar pada tembok sambil menyeruput sisa kopi didalam gelas yang tinggal separuh.
"Nggak papa kangen..."
"Huh, tiap hari juga ketemu... Gimana udah ada petunjuk?"
"Belum... Kalau udah ketemu kamu mau apakan dia?" Tanya Sandra. Rizky tampak berfikir.
__ADS_1
"Tergantung..."
"Kok gitu?"
"Ya tergantung... haha. Yaudah aku mau mandi dulu. Bye..."
"Baiklah... Bye..." Mereka sama-sama mengakhiri panggilan.
Dua hari yang lalu.
Sandra kini tengah berada diruang kerjanya, dirumah. Dihadapannya ada orang suruhan Sandra, ia seorang detektif yang cukup profesional. Namanya Alex.
"Bagaimana? " Tanya Sandra.
"Saya mengecek semua cctv dirumah sakit, dan ada satu orang yang saya curigai, gerak-geriknya pun mencurigakan, yang saya lihat cctv bagian depan, ia datang kerumah sakit, tapi dia hanya masuk sampai parkiran saja, 10 menit kemudian dia sudah keluar lagi. Dan untuk cctv diarea parkir karyawan cctv sengaja dimatikan..."
"Menurutmu siapa dia?"
"Saya masih mencari tahu nona... Orangnya sedikit sulit untuk dilacak keberadaannya..."
"Baiklah... lanjutkan... "
__ADS_1
Setelah obrolan mereka berakhir, Alex langsung pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.