Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Telungpuluh Songo


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu semenjak aku nggak kerja. Beberapa lowongan pekerjaan sudah aku daftarin. Tapi belum ada satupun panggilan kerja. Dan aku juga sudah tak punya alasan lagi pada Bi Munmun yang tanya-tanya terus kenapa aku nggak kerja. Akhirnya kukatakan saja yang sebenarnya, kalau aku sudah dipecat. Karena ulah wanita bermuka dua itu. Tentu saja Bi Munmun terkejut.


"Lah masa gitu sih mbak, atasannya jahat banget itu mah... Padahal kan mbak Bila orangnya baik... Uh nggak like kalau Bibi mah..." celoteh Bi Munmun. Dia menggenggam erat kemoceng yang ada ditangannya. Seolah ingin menghancurkannya. Aku tertawa melihat tingkah Bi Munmun, ternyata dia lucu juga bisa menghiburku.


"Oh iya Bi, jangan bilang-bilang sama Juna ya... Biar nanti Bila aja yang bilang sama dia, " Kataku pelan. Bi Munmun manggut-manggut setuju. Aku bernafas lega.


Tak terduga, ternyata Juna sudah berdiri dibelakangku saat ini, aku terkejut, begitu juga Bi Munmun. Juna mengisyaratkan Bibi untuk segera pergi dan dia mengiyakannya.


Juna tengah menatapku tajam. Ah sial, sepertinya dia tahu, tapi memang seharusnya dia tau sih.


"Kok udah pulang, ini kan masih siang..." sahutku. Keringat dingin menyelimuti tubuhku.


Juna tak menggubris pertanyaanku, dia berlalu meninggalkanku. Ketika hendak naik tangga dia menoleh kearahku. Sorot matanya masih tajam.


"Kenapa masih diam saja disitu? Ayo kesini." Kata Juna , lalu berjalan menaiki tangga lagi. Aku mengikutinya dari belakang.


Ceklek. Pintu kamar tertutup rapat. Dia melepas jasnya dan juga sepatunya. Aku membantunya menaruh sepatu dan juga jasnya. Mengambilkan pakaian ganti juga.


Aku duduk ditepi ranjang ketika Juna sedang berganti pakaian. Kali ini aku sudah terbiasa melihatnya seperti ini. Hehe.

__ADS_1


"Kenapa nggak bilang sama aku kalau kamu udah nggak kerja lagi?" Dia berdiri dihadapanku, menatap tajam.


"Ohh... darimana kamu tahu?"


"Dari kakakku, "


Wajahku masih tertunduk. Astaga aku lupa kalau mereka kakak-beradik. Aku menatap Juna malu-malu. Tertangkap basah ini tuh. Aku berdecak kesal, secepat inikah ketahuannya.


"Kenapa nggak cerita sama aku, malah cerita sama kakakku..." Juna melotot kearahku.


"Hey bukan begitu, saat itu aku nggak sengaja ketemu dia, " aku membela diri. Juna memicingkan matanya.


"Waktu itu aku ke kedai es krim, terus nggak taunya dia juga datang kesana..." Aku menggigit bibir bawahku. Kenapa aku jadi merasa bersalah sih.


"Siapa wanita penjilat itu?"


Aku menelan salivaku.


"Dia... Citra, " Kataku pelan.

__ADS_1


"Siapa??"


"Citra!" Aku sedikit berteriak. Wajah Juna memerah memendam amarah. Lalu dia hendak pergi, tapi aku mencegahnya.


"Mau kemana? Jangan pergi" kataku menggaet tangannnya.


"Aku mau mandi? Nggak boleh? Atau mau ikut?" Dia tersenyum jahil. Aku segera melepaskan tangannya.


Uhh menyebalkan. Kirain mau ketemu Citra.


Aku merebahkan diri ditempat tidur, ketika Juna mandi. Menatap langit-langit. Aku bertanya-tanya dengan hubunganku saat ini dengan Juna. Memang suami-istri tapi tak ada yang tahu bagaimana perasaan masing-masing. Sampai kapan seperti ini.


Selesai mandi Juna terlihat rapi , memakai celana jeans panjang, dan juga kaos abu-abu. Aku memandanginya dari atas sampai bawah.


"Mau kemana? "


"Mau pergi... Ayo.." Aku masih belum paham maksutnya.


"Pergi kemana?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Rahasia. Buruan kamu siap-siap..." Aku segera mengambil pakaian yang ada dilemari. Yang sederhana tapi bagus.


Setelah selesai berdandan, aku menyusul Juna yang sudah berada dibawah. Dia duduk diteras rumah. Dia mengamatiku, lalu tersenyum sambil mengacungkan satu jempol tangannya. Lalu kami naik mobil dan mobil melaju meninggalkan halaman rumah.


__ADS_2