
Hampir setengah jam Maya menangis didalam mobil. Ia meluapkan segala emosi dan sakit hatinya lewat air mata. Tak pernah terfikirkan olehnya kehidupan rumah tangga yang ia jalani selama ini akan hancur dalam sekejap. Dalam tangis ia mengingat anak perempuan semata wayangnya. Bagaimana dengan perasaan anaknya jika mengetahui orang tuanya memilih berpisah kelak. Sedangkan Shabrina, anak perempuannya sangatlah dekat dengan Ayahnya, Romi. Ia begitu mengagumi sosok Ayahnya. Sosok Ayah yang baik hati, perhatian dan melindungi.
Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang mengetuk kaca jendela mobil dari luar. Berkali-kali orang tersebut mengetuk jendela kaca, untuk memastikan Maya dalam keadaan baik-baik saja.
Maya menyeka air matanya menggunakan tissue, ketika mendengar suara ketukan. Meskipun begitu bekas air mata dan mata yang sedikit bengkak masih agak terlihat jelas. Perlahan Maya membuka jendela mobil. Seorang pria memakai kemeja putih, sambil membawa minuman ditangan kirinya. Maya sama sekali tak mengenal pria tersebut.
"Maaf ada apa ya mas?" Suara Maya masih agak parau.
"Kebetulan saya lewat sini, habis dari minimarket membeli minuman, karena mobil saya mogok dan sekarang sedang dibengkel tak jauh dari sini, dan sepertinya saya mendengar mbaknya menangis, jadi saya cuma memastikan keadaan mbaknya, takut kenapa-kenapa.. Apa sesuatu yang buruk terjadi?" Pria tersebut menjelaskan secara rinci agar Maya tidak takut dengannya.
Maya masih terdiam mencerna apa yang dikatakan pria tersebut. Ia bingung harus berkata apa. Ia tak mungkin menjelaskan kejadian tadi di cafe kepada orang asing.
"Ah maafkan saya jika pertanyaan saya kurang berkenan... Apa mbak baik-baik saja, perlu bantuan? Atau mbak habis dicopet atau gimana?" Lontaran pertanyaan pria tersebut justru malah semakin membuat dada Maya terasa sesak karena mengingatkan kembali pada sosok suaminya. Matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Maaf saya tidak akan bertanya lagi..." Sahut pria tersebut. Ia merasa iba melihat seorang wanita menangis sendirian.
"Maafkan saya, perasaan saya sedang hancur saat ini, suami saya berselingkuh dengan wanita lain..." Maya akhirnya membuka suara. Ia sudah tak kuat lagi menahan gejolak didalam dadanya. Sambil menangis ia menceritakan kejadian tadi kepada pria yang baru saja dikenalnya.
"Astaga... Semoga kalian bisa menempuh jalan yang terbaik untuk kalian, saya cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian... Jangan bersedih lagi, semua ini adalah ujian dari Allah.. Kita harus banyak berdoa dan berikhtiar, memohon ampun..."
Maya menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyuman tipis.
"Saya Rizky..." Rizky tersenyum melihat Maya sudah bisa tersenyum.
"Mau kuantar sampai bengkel?" Tanya Maya.
"Tidak usah, saya jalan kaki saja, lima menit sudah sampai..."
__ADS_1
"Ah benarkah... Kalau begitu saya permisi pulang dulu, kurasa perasaanku sudah agak mendingan..."
"Ya, silakan. Hati-hati dijalan. Kalau butuh teman untuk cerita bisa temui saya di Rumah Sakit Medika Center..."
"Kamu seorang dokter?" Maya sedikit terkejut.
"Iya..."
Setelah perbincangan mereka selesai, Maya melanjutkan perjalanan pulang kerumah. Ia meninggalkan Rizky setelah berpamitan. Lalu Rizky berjalan kaki menuju bengkel yang tak begitu jauh dari minimarket.
Apes sekali hari ini, karena tiba-tiba mobil Rizky mogok ditengah jalan, ketika ia hendak pulang kerumahnya. Untung tak jauh dari situ ada sebuah bengkel mobil. Menunggu antrian di bengkel mobil membuat Rizky haus dan lapar, jadi ia memutuskan untuk ke minimarket. Begitu ia akan kembali ke bengkel, ia melihat sebuah mobil ditepi jalan, ia hendak terus berjalan, namun suara tangisan seorang wanita menghentikannya. Dan seperti itulah awal mual ia mengenal Maya.
Aku juga merasakan hal sama, sakit hati ini melihat orang yang kita cintai menikah dengan orang lain, apalagi dia adalah adikku sendiri... Tapi aku tetap harus merelakannya...
__ADS_1