Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Sewidak


__ADS_3

Hallo readers... Mohon maaf menunggu lama, baru bisa update sekarang setelah sekian purnama. Dikarenakan saya sedang tidak sehat, jadi perlu pemulihan untuk beberapa hari. Jadi belum bisa update banyak. Maafkan daku, padahal kemarin-kemarin sudah bersemangat banget mau update banyak. Terimakasih yang sudah setia menunggu. Selamat membaca. Maaf banyak typo.


Sepanjang perjalanan Bila terus menangis. Baru saja ia memulai cintanya dengan Juna, tapi baru beberapa menit yang lalu ia juga harus merasakan sakit yang luar biasa. Apa mungkin Juna berbohong kalau ia sedang meeting, sedangkan yang aku lihat dia bersama wanita seksi seperti itu. Sial! Harusnya aku mengacak-acak rambut wanita tadi, kalau perlu aku cakar-cakar wajahnya.


Gerutu Bila dalam hati.


Bila masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia masih bingung harus kemana. Tak mungkin ia akan pulang kerumahnya. Takut bertemu Juna, bukan takut sih, tapi sedang ingin menghindari Juna.


Mata Bila melirik kekanan dan kiri, mencari tempat yang tepat untuk menyendiri. Setidaknya bisa mengubah suasana hatinya agar menjadi lebih tenang.


Sampailah Bila pada sebuah persimpangan, ia masih bingung memilih arah yang mana. Tanpa pikir panjang akhirnya Bila memilih untuk jalan lurus, tanpa melihat kanan kiri. Namun tanpa Bila duga, sebuah mobil dari arah berlawanan tiba-tiba menyalakan sign ke kanan. Bila yang terkejut langsung banting setir kekiri, namun sayang mobil dibelakang Bila tak mampu menguasai keadaan sehingga mobilnya menghantam cukup keras mengenai mobil Bila, hingga mampu mendorong mobil Bila sejauh 5 meter hingga terbalik. Sedangkan mobil berlawanan arah tadi masih sempat mengerem, sehingga tidak terjadi tabrakan dengan mobil Bila.


Tak berapa lama kemudian sudah banyak orang mengerumuni lokasi kejadian. Termasuk polisi yang kebetulan melintasi jalan tersebut. Beberapa menit kemudian mobil ambulans sudah datang. Mereka segera membantu mengevakuasi para korban kecelakaan dan membawanya kerumah sakit terdekat.


Sedangkan polisi masih melakukan olah TKP dan menanyai sejumlah saksi di sekitar TKP.


 


Juna masih mencoba menghubungi ponsel Bila, namun tak kunjung diangkat. Ia juga menelepon Bi Munmun menanyakan keberadaan Bila dirumah, namun Bi Munmun mengatakan kalau Bila belum sampai dirumah. Hal itu membuat Juna semakin yakin kalau Bila tidak pulang kerumah. Ia mungkin masih dijalanan atau mampir kesuatu tempat.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian Juna sampai ditempat terjadinya kecelakaan beruntun. Juna menghentikan mobilnya , Ia masih mengamati beberapa orang yang membawa korban kecelakaan masuk kedalam mobil ambulans. Juna menyipitkan matanya melihat sebuh mobil yang terguling disana. Ia merasa familiar dengan mobil tersebut.


Astaga, itukan mobilnya Bila. Pekik Juna dalam hati.


Juna menepikan mobilnya, dan segera turun menghampiri tempat kejadian. Ia mengamati mobil yang terbalik tersebut. Benar, ini mobil Bila. Juna segera berlari menuju ambulans, namun petugas menghalangi Juna, karena korban dalam keadaan cukup parah jadi harus segera dilarikan kerumah sakit. Begitulah penjelasan petugas medis.


Juna segera menyusul perginya ambulans tersebut. Kalau tidak salah lihat Rumah Sakit Medika Center adalah rumah sakit tempat kakaknya bekerja.


Tiga puluh menit kemudian mobil ambulans telah sampai dirumah sakit. Ada tiga buah ambulans yang membawa para korban kecelakaan. Para dokter dan petugas medis segera berlarian keruang UGD untuk menangani para korban kecelakaan tersebut.


Tak berapa lama kemudian Juna telah sampai dirumah sakit Medika Center. Ia segera menuju ruang UGD dengan perasaan campur aduk.


Brukk!


Wanita tersebut ikut terjatuh setelah ditabrak oleh Juna. Ia langsung berdiri dan hendak memaki-maki Juna. Namun sepertinya ia mengenali sosok Juna.


"Arjuna...."


Juna menatap wanita yang kini berdiri dihadapannya. Ia mengernyitkan dahinya, merasa tak asing dengan sosok wanita didepannya.

__ADS_1


"Sandra?" Juna segera bediri sehingga bisa sejajar dengan Sandra. Meskipun masih merasakan beberapa bagian tubuh yang sakit setelah bertabrakan.


"Iya. Kamu ngapain kesini lari-lari kayak gitu? Dikejar setan ?" Sandra tergelak. Awalnya ia sudah memasang muka garang, tapi setelah melihat Juna ia mengurungkannya.


"Ruang UGD sebelah mana?" Tanya Juna tanpa menanggapi pertanyaan Sandra.


"Habis ini belok kiri.... Hey memang ada apasih?" Sandra berkacak pinggang. Namun Juna tak menghiraukannya. Ia segera menuju ruang UGD sesuai titah Sandra. Daripada penasaran akhirnya Sandra mengikuti Juna keruang UGD.


Sampai diruang UGD, tak satupun boleh masuk kecuali dokter atau perawat. Juna hanya bisa melihat dari balik pintu kaca. Terlihat beberapa dokter dan perawat sibuk menangani pasien. Juna tak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi didalam sana. Ia hanya pasrah dan berdoa semoga Bila baik-baik saja.


Juna terduduk lemas didepan pintu ruang UGD, wajahnya terlihat pucat.


Tak berapa lama kemudian Sandra memberikan satu gelas minuman hangat kepada Juna.


"Trimakasih..." sahut Juna sambil menerima satu gelas teh hangat.


"Ya. Tak perlu sungkan, karena sebentar lagi aku akan menjadi kakakmu... " Kata Sandra dengan pedenya. Juna hanya melirik tajam. Ia sedang tak ingin bergurau dengan wanita dihadapannya kini.


"Baiklah aku akan masuk kedalam, memeriksa pasien yang sedang kamu cemaskan... Siapa namanya ?" Tanya Sandra hendak membuka knop pintu.

__ADS_1


"Istriku, Salsabila..." Sahut Juna lirih.


"Ah iya... baiklah..." Sandra segera masuk keruang UGD.


__ADS_2